Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Soroti Paradoks Pertumbuhan dan Defisit Kepercayaan, IKA USU Jakarta Gelar Diskusi Ekonomi

Victor R Ambarita - Sabtu, 04 Juli 2026 14:59 WIB
140 view
Soroti Paradoks Pertumbuhan dan Defisit Kepercayaan, IKA USU Jakarta Gelar Diskusi Ekonomi
Foto: Dok/IKA USU
Alumni USU Jakarta menggelar forum diskusi ekonomi bersama Prof Rhenald Kasali, di Bekasi, beberapa waktu lalu.

Tekanan ekonomi ini semakin diperberat dengan langkah Bank Indonesia yang menetapkan BI Rate di angka 5,75% untuk menopang nilai tukar rupiah. Di level internasional, persepsi risiko pasar terhadap Indonesia juga meningkat, tercermin dari naiknya Credit Default Swap (CDS) dari kisaran 60 basis poin menjadi 89 basis poin.

Forum menyimpulkan akar permasalahan ekonomi nasional saat ini bukan sekadar faktor eksternal, melainkan tingginya defisit kepercayaan institusional (distrust society). Defisit kepercayaan ini bertransformasi menjadi biaya tersembunyi yang mendongkrak ongkos transaksi, menggerus kepastian hukum dan menghambat investasi produktif.

Terkait rentannya kondisi saat ini, Prof Rhenald Kasali mengingatkan pentingnya sikap antisipatif.

"Kita hidup di zaman di mana butterfly effect bukan metafora, ia adalah mekanisme. Satu kepakan sayap di satu sudut dunia bisa memicu badai di tempat yang tidak pernah kita bayangkan. Indonesia perlu membangun kapasitas membaca sinyal lebih awal, bukan bereaksi setelah dampaknya sudah terasa," papar Prof Rhenald.

Diskusi juga menyoroti urgensi bonus demografi periode 2025–2035. Ekonom Senior sekaligus Mantan Menteri, Prof. Dr. Bomer Pasaribu, menegaskan bonus demografi bukan anugerah yang datang dengan sendirinya. Peluang ini baru bisa terwujud jika didukung oleh pendidikan, pekerjaan produktif dan keadilan distribusi; tanpa ketiga hal tersebut, bonus demografi justru akan berubah menjadi beban bagi negara.

Selain itu, transformasi digital dan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) dilihat sebagai peluang nyata, bukan sekadar wacana. Konsultan dan pensiunan Bank Indonesia, Herbert Sitorus, menyebut AI sebagai sebuah amplifier (penguat).

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Klub Sepakbola Chelsea Pakai Kecerdasan Buatan
Ketua PWI Sumut Hermansyah : Sawit Salah Satu Penyelamat Ekonomi Indonesia Saat Krisis
Gerakkan Ekonomi Kreatif Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lebih Cepat
Menaker Hanif Sebut Bonus Demografi RI Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi
Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Tidak Dikuasai Asing
Bank Dunia Sebut Ketahanan Ekonomi Indonesia Masih Kuat
komentar
beritaTerbaru