Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 27 Agustus 2026
RENUNGAN

Hamba Tuhan vs Hamba Dosa

* Oleh, Pdt Sunggul Pasaribu,MPAK * (Rom 8:15)
- Minggu, 09 April 2017 22:05 WIB
1.957 view
Hamba Tuhan vs Hamba Dosa
Pdt Sunggul Pasaribu STh MPAK
Tidak semua tempat dan pekerjaan menjadi hamba yang dibenci manusia. Katakanlah, seandainya saudara tiba-tiba diterima menjadi hamba Presiden di Istana Negara, mungkin kebanyakan orang pasti segera bergegas tanpa pikir panjang, tanpa berencana menunda. Apalagi bila kita diberi mandat dan dipercayakan gerejaNya untuk menjadi hamba Tuhan, apakah sebagai Majelis Gereja, seperti ; Penginjil, diaken, penatua, syamas, pengurus bangunan, pengajar sekolah minggu, menjadi pemimpin koor. Ini pasti menyenangkan dan akan memberi kebahagiaan tersendiri kepada kita sebagai orang percaya.

Dalam Alkitab perkataan hamba dipakai istilah 'doulos" (Bhs.Yunani, budak, hamba). Kata budak memanglah bukanlah status sosial yang membanggakan di jaman sejarah kerajaan Allah, sebab dalam masyarakat Yahudi maupun orang Yunani hamba digolongkan pada status masyarakat miskin. Oleh karena itu, jika Alkitab memakai kata hamba terhadap teman sekerjaNya, kepada orang percaya, kepada para rasul Tuhan, hal ini mengartikan bahwa Tuhan memihak dan ingin mengangkat derajat manusia yang tidak mendapat kehormatan di mata dunia. Allah mencintai hamba, mencinta pekerjaan budak, membela orang kecil dan hina, membela perkara orang miskin (Lukas 4:19-20, Matius 25).

Tuhan hanya membenci dan menolak mereka yang menjadi hamba dosa. Dalam konteks inilah yang menjadi pandangan Paulus disampaikan melalui surat kirimannya kepada jemaat Roma, dikatakan,: "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa! (Rom 8:15).

Allah menentang roh perbudakan dosa, mengapa? Sebelum manusia hidup dalam pertobatan sudah dapat dipastikan hidupnya dikuasai oleh macam-macam perbuatan kedagingan. Tidak seorangpun yang dapat meloloskan diri dari belenggu perbuatan daging. Ia bagaikan penjara yang mematikan, sebab pada akhirnya semua perbuatan kedagingan menjerumuskan manusia ke dalam kematian (ay. 6). Allah yang adalah kasih mengetahui penderitaan bahkan nasib yang akan menimpa manusia berdosa. Wujud dari kasih Allah itu dengan mengerjakan keselamatan melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib (band.Yoh.3:16; Rm 8:3).

Pengorbanan Kristus untuk memerdekakan manusia yang percaya sekaligus menawarkan pola hidup yang baru. Hidup seturut kehendak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Jika kita sudah dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita tidak lagi mengikuti keinginan daging (Gal 5:16). Artinya, perbudakan dosa akan membawa manusia kepada maut dan kematian, sedangkan roh Allah menghidupkan dan menyelamatkan.

Sedangkan hamba Tuhan pastilah hidup menurut roh Allah. Keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. ltu yang ditekankan Paulus pada ayat 6, yang justru bertentangan dengan keinginan daging yang adalah maut. Setelah Kristus memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut, maka kita hidup dalam kehidupan baru dalam Roh dan tidak lagi hidup menurut daging tapi menurut Roh (ay. 1-4, 9-11). Gaya hidup keduanya Roh Allah  bertentangan dengan perbudakan dosa.

Persekutuan orang percaya atau gereja adalah wadah bertumbuh dan berkembangnya gaya hidup menurut Roh Kudus. Dan salah satu buah Roh adalah damai sejahtera yang mestinya terwujud dalam kehidupan bergereja yang dipimpin Roh Kudus. Namun, adanya perbuatan-perbuatan daging dalam kehidupan persekutuan yaitu perseteruan, perselisihan, iri hati, kepentingan diri sendiri, roh pemecah, kedengkian, dan lainnya (Gal. 5:19) membuat damai sejahtera sulit tewujud dalam gereja.

Suatu ketika diadakanlah lomba menggambar dengan tema damai. Dari gambar yang terkumpul pemenangnya adalah seorang yang menggambarkan angin topan yang bertiup kencang, kilat menyambar dari awan berwarna hitam kelam. Di tengah suasana yang menakutkan itu, tampak di atas dahan pohon, seekor induk burung sedang mengembangkan sayap dan melindungi anak-anaknya. Mereka tampak tenang, damai, tidak terusik.

Seperti ilustrasi di atas, sesungguhnya damai sejahtera bukanlah keadaan aman dan tenang tanpa masalah. Namun damai sejahtera nyata saat hidup kita tetap dipimpin oleh Roh Kudus apapun keadaan kita. Rendahkan dan serahkan diri kita untuk dipimpin oleh Tuhan; biarlah diri kita dikuasai oleh Roh Kudus, dengan demikian buah damai sejahtera akan terwujud dan bertumbuh dengan baik. Mulai hari ini, mari bulatkan tekad untuk terus mengejar dan mendatangkan damai sejahtera, sebagai bukti bahwa hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus.

Di tengah hidup yang masih terdapat sentimen pribadi, keagamaan, permusuhan, sentimen kesukuan, sentimen kedaerahan yang picik, hendaklah kita menggelorakan hidup damai sejahtera, rukun, toleran, saling mendoakan, saling bahu membahu mewujudkan kepentingan umum. Dengan perilaku dan tindakan yang Kristiani kita akan segera menghapus perbudakan dosa dari muka bumi ini.  Amin.! (f)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru