Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 22 April 2026

Buku Marie Claire Barth Dibedah di Siantar, Kiprah Perempuan Jembatani Indonesia-Jerman Disorot

Redaksi - Rabu, 22 April 2026 10:22 WIB
161 view
Buku Marie Claire Barth Dibedah di Siantar, Kiprah Perempuan Jembatani Indonesia-Jerman Disorot
(harianSIB.com/Dok MP)
Foto bersama usai kegiatan bedah buku yang digelar di STT HKBP Pematangsiantar, Selasa (21/4/2026).

Siantar(harianSIB.com)

Kiprah tokoh perempuan gereja dan gerakan oikumene, Marie Claire Barth, menjadi sorotan dalam kegiatan bedah buku yang digelar di STT HKBP Pematangsiantar, Selasa (21/4/2026). Dalam forum tersebut, sejumlah pengalaman dan kontribusi Barth diulas, terutama perannya membangun relasi jemaat Indonesia dengan gereja-gereja di Jerman serta memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan gender.

Dalam catatan yang disampaikan Dr Sarmedi Purba SpOG, alumnus BPC GMKI Medan periode 1959-1964 dan PERKI Eropa 1964-1975, Marie Claire Barth dikenang sebagai sosok yang aktif menjembatani hubungan jemaat Indonesia dengan jemaat Jerman. Salah satu buah karya yang disebut masih terasa hingga kini ialah terselenggaranya kebaktian berbahasa Indonesia di gereja Jerman di Frankfurt.

Selain itu, Barth juga disebut memberi pendampingan kepada para perawat dan mahasiswa Indonesia yang datang ke Jerman, sehingga mampu beradaptasi dengan kehidupan di negeri tersebut. Upaya itu dinilai sangat berarti, khususnya bagi generasi muda Indonesia yang merantau untuk belajar maupun bekerja.

Tak hanya di bidang sosial dan pendidikan, Marie Claire Barth juga dikenang aktif dalam pelayanan rohani. Dalam dokumen itu disebutkan, ia pernah membimbing seorang ibu beragama Islam yang bersuami Kristen hingga percaya kepada Tuhan Yesus.

Baca Juga:
Kontribusi lainnya yang mendapat perhatian ialah perjuangannya mencari beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Bahkan, disebutkan Barth membantu mengupayakan beasiswa bagi Ned R. Purba untuk melanjutkan kuliah di Indonesia setelah lima tahun berada di Jerman. Pada masa pasca-G30S, banyak mahasiswa Indonesia datang ke Jerman tanpa beasiswa dan harus bekerja demi membiayai studi mereka.

Dalam forum itu juga disinggung konteks perjuangan perempuan pada era 1950-an hingga 1960-an. Saat itu, perempuan disebut belum diperbolehkan menjadi pendeta di gereja Batak di Sumatera, sementara di Jerman sendiri gerakan kesetaraan perempuan juga masih berlangsung. Pada masa yang sama, gerakan oikumene sedang berkembang dan bantuan gereja-gereja Eropa masih mengalir untuk pembangunan sekolah serta rumah sakit di Indonesia.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
GMKI Toba Bedah Buku Biografi Marie Claire Barth-Frommel, Dorong Literasi dan Iman Mahasiswa
Perampokan Super Kilat di Louvre, 8 Barang Antik Raib Seketika!
Anggota DPRD Sumut Pertanyakan Penyaluran Bantuan Operasional Gereja Rp7,8 Miliar
Kemenag Harapkan Gereja Jangan Hanya Tempat Ibadah
Panitia Pesparawi Nasional Seksi Bapa GKPS Audiensi dengan Ditjen Bimas Kristen
Dari Star Wars, Kelly Marie Tran Jadi Ratu Disney Asia Pertama
komentar
beritaTerbaru