Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026

Lemhanas: 50 Persen Perdagangan Dunia Lewat Perairan Indonesia

- Senin, 05 Mei 2014 16:20 WIB
927 view
 Lemhanas: 50 Persen Perdagangan Dunia Lewat Perairan Indonesia
Gubernur Lemhanas Prof Dr Ir Budi Susilo Soepandji
Jakarta (SIB) - Keberlangsungan hidup dan eksistensi suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kemampuan bangsa tersebut dalam memahami dan menguasai kondisi geografi serta lingkungan sekitarnya. Tumbuh kembangnya atau berkurangnya ruang hidup bangsa, juga dipengaruhi oleh pandang geopolitik yang diyakini oleh entitas suatu bangsa.

"Wawasan geopolitik adalah kunci dari keberlanjutan suatu bangsa. Namun, demikian, pemahaman geopolitik tidak cukup dalam menjadi keberlangsungan hidup suatu bangsa," kata Gubernur Lemhanas Prof Dr Ir Budi Susilo Soepandji dalam seminar nasional yang digelar GMNI di Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Sabtu (3/5).

Menurutnya, di tengah globalisasi yang sarat dengan persaingan antar bangsa, pemahaman dan pengembangan konsep geoekonomi merupakan kebutuhan suatu bangsa dalam mempertahankan eksistensinya di kawasan maupun dalam lingkup global.

"Diperkirakan hampir 50 persen dari seluruh perdagangan laut komersial dunia dilakukan melalui perairan Indonesia dan perairan regional kawasan ini. Hampir dipastikan bahwa negara-negara lain sebagai pengguna jalur strategis ini memiliki arti yang sangat vital dan strategis bagi perdagangan internasional," ungkap Budi.

Lanjutnya, luas wilayah yang mendominasi kawasan, penduduk terbanyak dan sumber daya alam terkaya di kawasan Asia Tenggara, menempatkan Indonesia sebagai kekuatan utama dan kunci stabilisator keamanan kawasan.

Bukan suatu yang berlebihan, bila Indonesia menjadi bagian yang penting bagi kepentingan maupun kemajuan perekonomian kawasan dan dunia. "Konsekwensi logisnya, Indonesia harus mampu memainkan peranan penting sebagai kunci stabilitator keamanan kawasan," tambahnya.

Lebih lanjut Budi mengungkapkan, kawasan Asia Pasifik akan tumbuh sebagai pusat perebutan pengaruh geopolitik negara besar dan pusat gravitasi perekonomian global.

"Bentangan geografis, SDM dan sumber kekayaan alam yang merupakan keunggulan komparatif bagi bangsa Indonesia harus disertai keunggulan kompetitif agar bangsa Indonesia memiliki bergaining power dan bergaining position yang kuat dalam menyongsong abad Asia-Pasifik," ujarnya.

Geopolitik, katanya, seperti yang dikutip dari Sophie Chautard dalam bukunya La Geopolitique, geopolitik bukan ilmu pengetahuan murni, melainkan sebuah multidisplin ilmu yang mempelajari hubungan antar ruang dan politik, antara teritorial dan individu.

"Soekarno pernah mengatakan bahwa pertahanan nasional hanya dapat dilaksanakan secara sempurna, bila suatu bangsa mendasarkan pertahanan nasional atas pengetahuan geopolitok," katanya.

Menurutnya, pengetahuan geopolitik yang dimaksud adalah pandangan geopolitik Indonesia yang dikembangkan berdasarkan tiga faktor yang membentuk karakter bangsa Indonesia.

"Yaitu sejarah lahirnya negara, bangsa dan tanah air, serta cita-cita dan ideologi bangsa," ungkapnya.

Berdasarkan ketiga hal tersebut, lanjutnya, bangsa Indonesia telah mengembangkan pandangan geopolitik yang bersumber pada nilai-nilai kesejahteraan yang sudah dimulai sejak era prakolonialisme hingga era kemerdekaan RI.

Dimana pandangan yang bersumber pada kesamaan pengalaman pahit sejarah, yang pada akhirnya menghasilkan konsepsi wawasan Nusantara sebagai pandangan geopolitik yang memandang wilayah Nusantara sebagai pandangan geopolitik.

"Memandang wilayah nusantara sebagai ruang sebagai ruang hidup yang harus dipertahankan dan dikelola sebagai sumber bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan cita-cita nasional," terang Budi.

Sementara, ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Sri Adiningsih mengemukakan, negara tidak bisa melepas saja swasta, tapi harus ada ikut campur negara dalam perekonomian Indonesia.

"Bila melakukan pembiaran terhadap swasta maka ekonomi Indonesia akan gagal, jadi harus ada intervensi negara dengan melihat mayoritas 60 persen masyarakat Indonesia tamatan sekolah dasar," ungkapnya.

Dia berpendapat, subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 300 triliun harus dialihkan dalam membangun infrastruktur dan peningkatan SDM manusia Indonesia. (G2/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru