Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 02 September 2026

SBY: Harganya Amat Mahal Jika Sebuah Bangsa Terpecah

- Senin, 21 Juli 2014 13:37 WIB
374 view
SBY: Harganya Amat Mahal Jika Sebuah Bangsa Terpecah
Jakarta (SIB)- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar buka puasa bersama dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat negara. Presiden SBY menekankan betapa mahalnya sebuah bangsa jika terpecah.

"Saya mengatakan bahwa persatuan, persaudaraan dan kebersamaan kita itu sungguh penting. Harganya amat mahal jika sebuah bangsa terpecah, untuk menyatukannya kembali bukan sesuatu yang mudah," kata Presiden SBY di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Minggu (20/7).

SBY kemudian memberikan contoh terpecahnya suatu bangsa dan dampaknya terhadap rakyat. Seperti yang terjadi di Ukraina dan Palestina. "Ini banyak sekali pelajaran berharga di banyak negara di seluruh dunia," ujar SBY.

"Ada contoh nyata hari ini, apa yang terjadi di Gaza adalah sangat memilukan. Sebuah tragedi kemanusiaan. Mengapa terjadi? Yang mengakibatkan penderitaan saudara kita di Palestina itu karena terpecahnya, terbelahnya dan retaknya persaudaraan dan tentu faktor sejenis yang lain," tambahnya.

Kemudian ia menekankan pentingnya menjaga tali silahturahim dan menjaga kebersamaan di tengah situasi politik Indonesia yang memanas menjelang penghitungan suara secara nasional di KPU. SBY lalu memberikan contoh jika tali silahturahim itu dibiarkan terputus.

"Tadi saya berkomunikasi dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang dalam perjalanan ke Qatar, karena sebentar lagi ada pertemuan penting di Doha dengan Ban Ki Moon. Kami mendukung agar segera dilaksanakan gencatan senjata," ujar SBY.

"Ukraina kita juga sedih. Bangsa yang terpecah dan terbelah ternyata korbannya besar sekali. Saya sudah telepon Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk memberikan dukungan moril bangsa Indonesia. Kita juga di waktu lalu, alami krisis luar biasa dan konflik komunal bertahun-tahun. Waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya itu harga yang sangat mahal, dari berbagai kekerasan yang terjadi di dunia mapun negara kita," ujar SBY.
Jauhi Prasangka Buruk

SBY berkali-kali menekankan pentingnya persatuan bangsa bahkan menyebutkan salah satu hadist yang berhubungan dengan itu.

"Silaturahim ini diantara pemimpin dan semua yang sedang mengemban amanah adalah hal yang baik, rakyat menyukai karena kebersamaan ini menciptakan suasana teduh mana kala suhu politik menghangat atau sedang meningkat," kata Presiden SBY .

Ia menuturkan, ide berbuka puasa bersama itu baru digagas pada Jumat lalu saat rapat bersama sejumlah petinggi lembaga negara. Berulangkali Presiden SBY menekankan pentingnya persatuan bangsa. Konflik di Gaza dan permasalahan antara Rusia dan Ukraina pun disebutnya sebagai contoh harga mahal yang harus dibayar sebuah negara bila terjadi perpecahan.

SBY juga menyebut salah satu hadist Buchori Muslim yang menceritakan nasehat Muhammad tentang pentingnya tak berprasangka buruk pada sesama Indonesia.

"Rasulullah senantiasa memperingatkan umat agar menjauhi prasangka buruk. Semua sirna bila kita kerap bersilaturahmi. Adalah Abu Hurairah yang menceritakan Rasulullah bersabda yang artinya jauhilah prasangka karena itu pembicaraan yang paling dusta. Jangan kalian menyadap pembicaraan kaum, mereka berlomba dalam hal tak baik, saling dengki, saling membenci dan membelakangi. Jadilah yang bersaudara," ucapnya membacakan hadist.
Dalam jamuan buka puasa ini, SBY duduk berdampingan dengan Jokowi dan Prabowo. Jokowi mengenakan kemeja batik sedangkan Prabowo mengenakan kemeja putih dan kopiah hitam.

Terima Suksesi
SBY meminta seluruh pihak untuk mengawal proses demokrasi dalam pemilihan pemimpin RI yang baru nanti.

"Kita telah melakukan Pemilu 1999, 2004, 2009, dan yang sekarang kita jalani 2014. Semuanya itu proses sejarah yang ditempuh negara kita. Saya yakin kita semua akan terpanggil untuk mengawal dengan penuh tanggung jawab, pemilihan umum yang damai dan demokratif," kata SBY.

SBY juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh peserta pemilihan legislatif dan juga kedua pasangan capres-cawapres yang telah berpartisipasi dalam pemilu 2014. Namun SBY mengingatkan jika proses ini belum selesai.

"Saya ucapkan terima kasih kepada para peserta pileg, pasangan capres cawapres, yang juga telah berpartisipasi. Tentu belum rampung , ini masih babak akhir, sekali lagi tanggal 20 Oktober nanti saya bisa mengakhiri tugas saya sebagai presiden ke-6 dengan harapan ini bisa membaik, kita menyambut pemimpin yang baru," ucapnya.

"Seperti yang disampaikan penceramah bapak Ahmad Yani Basuki, bahwa suksesi kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, yang harus kita terima dengan lapang dada, suka cita, kita pastikan siapapun yang memimpin di masa depan akan kita bantu, kita suskseskan," ujar SBY.(dtc/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru