Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 02 September 2026

Ketum PBNU: Yang Kalah Legowo, Tak Usah ke MK

- Selasa, 22 Juli 2014 13:05 WIB
192 view
Ketum PBNU: Yang Kalah Legowo, Tak Usah ke MK
Jakarta (SIB)- Ketum PBNU Said Aqil Siradj meminta capres yang kalah pada pengumuman 22 Juli, legowo. Said menyarankan capres yang kalah tidak usah lagi memperpanjang polemik dengan membawa gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

"Harus legowo yang kalah dan yang menang jangan sombong, ujar Said usai acara pengajian di markas DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (20/7) malam.

Said mengatakan capres dan cawapres harus siap menerima hasil yang akan diumumkan oleh KPU tanggal 22 Juli.
"Tidak perlu ke MK, percuma tidak akan efektif," kata Said.

"Siapa pun yang menang harus kita terima hasilnya," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Ketua Fraksi PKB Marwan Jaffar menerangkan bahwa NU dalam sejarahnya selalu menjaga NKRI. Dia yakin kondisi saat hari penetapan pemenang capres akan aman.

"Tidak pernah dalam sejarahnya NU memberontak," kata Marwan dengan tegas.

Tak Ajak Rakyat Bertikai
Sementara itu, elite yang tak puas akan hasil pemilu disarankan membawa persoalan ke Mahkamah Konstitusi (MK), jangan ajak rakyat bertikai.
"Saya menilai justru elite yang resah atas situasi 22 Juli karena rakyat secara umum tidak merasa panas dan tegang. Rakyat menilai secara cerdas apakah pemimpinnya mampu mengendalikan diri atau tidak," kata pengamat politik UGM, Arie Sudjito, Senin (21/7).

Menurut Arie, sejumlah rumor dan isu yang berkembang dihembuskan sejumlah pihak membuat masyarakat merasa was was. Apalagi belakangan ini juga ramai diisukan ketidakpercayaan pada KPU.

"Namun TNI dan Polri memastikan tidak ada kekacauan dan kerusuhan serta aparat menjamin keamanan situasi. Kondisi 22 Juli adalah pertaruhan penting masa depan demokrasi Indonesia. Sehingga mestinya pihak kandidat dan tim sukses menghitung risiko jika akan melakukan sesuatu apakah berdampak buruk ataukah positif," urainya.

"Kita tahu rakyat telah membuktikan 9 Juli pemungutan suara tenang dan damai. Giliran menghitung dan menetapkan mestinya tenang dan damai," tambahnya.

Arie menambahkan, rakyat telah menyubsidi demokrasi dengan partisipasi tinggi dan suasana damai karena itu jangan ciderai dengan perilaku kotor elite politik.

"Jika terjadi konflik elite selesaikan dengan dewasa dan konstitusional dan jangan ajak rakyat bertikai. Jangan ajak rakyat berkelahi secara anarkis. Jika kita bisa tuntaskan penetapan hasil Pilpres dengan damai jujur dan konstitusional hal ini menjadi prestasi besar bangsa Indonesia untuk melakukan perbaikan semua lini, tentu rakyat akan lebih aktif berpartispasi," tutupnya. (detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru