Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 20 Mei 2026

Mardi Sahendra: UMKM Jadi Penopang Ekonomi Saat Rupiah Bergejolak

Oki Lenore - Rabu, 20 Mei 2026 06:45 WIB
121 view
Mardi Sahendra: UMKM Jadi Penopang Ekonomi Saat Rupiah Bergejolak
Foto: harianSIB.com/Oki Lenore
Trainer SROI ISO 26000 Mardi Sahendra membimbing aktivis NGO secara gratis di Medan, Selasa-Rabu (19-20/5/2026), yang diikuti akademisi, pimpinan dan pengelola yayasan sosial keagamaan serta praktisi.

Medan(harianSIB.com)

Trainer Social Return On Investment (SROI) ISO 26000, Mardi Sahendra menilai sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi penopang penting ekonomi Indonesia di tengah gejolak pasar keuangan dan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Hal itu disampaikannya saat kegiatan Class Bang Mardi di Medan, Selasa (19/5/2026), yang diikuti akademisi, pimpinan yayasan pendidikan, aktivis non-governmental organization (NGO), hingga praktisi.

"Sebelum gonjang-ganjing dolar AS terhadap rupiah, terjadi gejolak pasar keuangan yang berdampak pada anjloknya IHSG. Kondisi itu terselamatkan sebab kokohnya sektor UMKM Indonesia. Itu sebabnya akses perhatian dan proteksi pada UMKM harus tetap istimewa," ujar Mardi.

Menurutnya, gejolak pasar sebelumnya juga dipicu peringatan dari Morgan Stanley Capital International terkait kerentanan struktural pasar modal Indonesia, termasuk masalah free-float, transparansi kepemilikan dan dugaan praktik manipulasi pasar.

Baca Juga:
Ia menambahkan capital outflow juga diperparah ketidakstabilan ekonomi global dan tingginya suku bunga The Fed yang memicu aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia.

Class Bang Mardi yang digelar PT Sosial Lingkungan Hijau tersebut merupakan pelatihan berstandar ISO 26000 yang pertama kali dilaksanakan di luar Pulau Jawa.

Kegiatan itu bertujuan mengedukasi perusahaan dan aktivis dalam menyalurkan corporate social responsibility (CSR) secara tepat dan sesuai standar internasional.

"ISO 26000 berfungsi sebagai pedoman bagi organisasi dan perusahaan dalam menerapkan tanggung jawab sosial atau CSR," jelas pendiri PT Sosial Lingkungan Hijau itu.

Mardi yang telah berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam pengelolaan program CSR menekankan perusahaan harus menjalankan CSR berdasarkan kepentingan publik, bukan sekadar kebutuhan perusahaan atau permintaan pihak tertentu.

Menurutnya, perusahaan perlu memahami konsep ESG (environmental, social, governance), CSR dan sustainability agar mampu meningkatkan kepercayaan publik dan investor.

Ia menjelaskan aspek environmental berkaitan dengan pengelolaan dampak lingkungan seperti efisiensi energi, pengurangan emisi karbon dan manajemen limbah.

Sementara aspek social berkaitan dengan perlakuan perusahaan terhadap karyawan, pelanggan dan masyarakat, termasuk isu hak asasi manusia serta keterlibatan komunitas.

Sedangkan governance menitikberatkan pada tata kelola perusahaan yang transparan, akuntabel dan berintegritas dalam pengambilan keputusan.

"CSR yang baik diwujudkan dalam bentuk program sosial, kegiatan kemanusiaan hingga kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di masyarakat sekitar," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya konsep sustainability atau keberlanjutan yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial.

Menurut Mardi, konsep tersebut dikenal dengan istilah Triple Bottom Line yang mencakup people, planet dan profit.

"Dengan bisnis yang tidak merusak peluang generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya, maka akan mendatangkan kepercayaan investor dan membuat perusahaan semakin sehat," pungkasnya.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
20 Kelurahan di Tebingtinggi Terima Bantuan CSR dari LPCI
Fokus Pembangunan Ekonomi, Sandiaga Janji Perkuat UMKM
Pertamina dan Hiswana Migas Sumut Serahkan Bantuan CSR di Lhokseumawe
Wali Kota Apresiasi RPX One Stop Logistics untuk Geliatkan UMKM di Medan
Pemprovsu Serahkan Penghargaan Siddhakarya kepada Enam Pelaku UMKM
PTPN III Salurkan Dana Bergulir untuk 2 Pelaku UMKM
komentar
beritaTerbaru