Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 21 Mei 2026

Holding Sawit dan Batubara Bermarkas di Singapura, Timbul Raya Manurung Desak Ekspor Langsung

Redaksi - Kamis, 21 Mei 2026 17:02 WIB
140 view
Holding Sawit dan Batubara Bermarkas di Singapura, Timbul Raya Manurung Desak Ekspor Langsung
(harianSIB.com/Dok)
Timbul Raya Manurung

Medan(harianSIB.com)

Sejumlah grup perusahaan besar sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batubara Indonesia diketahui memusatkan struktur holding dan aktivitas perdagangan internasional mereka di Singapura. Kondisi ini dinilai membuat perputaran devisa dan margin keuntungan lebih banyak dinikmati negara tersebut dibanding Indonesia sebagai pemilik sumber daya alam.

Pengamat ekonomi, Timbul Raya Manurung, di Medan, Rabu (21/5/2026), menilai pola perdagangan melalui perusahaan satu grup di Singapura perlu segera direformasi. Menurutnya, ekspor komoditas Indonesia seharusnya dilakukan langsung ke pembeli akhir (end buyer) tanpa perantara entitas luar negeri.

"Reformasi ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan jika Indonesia ingin berdaulat secara ekonomi atas hasil buminya sendiri. Hilirisasi tata niaga komoditas harus ditegakkan agar devisa dan pajak sepenuhnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi," ujar Timbul Raya Manurung.

Ia menjelaskan, selama ini banyak perusahaan mengekspor produk mentah ke Singapura kepada entitas yang masih berada dalam satu grup usaha. Selanjutnya, perusahaan di Singapura tersebut melakukan penjualan kembali langsung kepada pembeli akhir di berbagai negara.

Baca Juga:
Menurutnya, skema itu menyebabkan keuntungan perdagangan, treasury, shipping hingga pengelolaan holding lebih banyak tercatat di Singapura.

"Meski tambang atau kebunnya berada di Indonesia, porsi keuntungan perdagangan justru ditempatkan di Singapura," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, sejumlah grup sawit besar yang memiliki keterkaitan kuat dengan holding di Singapura antara lain Golden Agri-Resources, Wilmar International, Musim Mas Group, First Resources, Bumitama Agri, IndoAgri, Permata Hijau Sawit hingga Supra Mata Abadi Group.

Sementara di sektor batubara, terdapat Golden Energy and Resources, Sakari Resources, Geo Energy Resources, BlackGold Natural Resources, Bayan Resources, Adaro Energy Indonesia, Turangga Resources dan Rimau Group.

Timbul Raya Manurung menilai Singapura menjadi pilihan banyak korporasi karena memiliki sistem perpajakan yang efisien, akses perbankan internasional, kemudahan pembiayaan dolar AS serta kedekatan dengan pasar perdagangan komoditas global.

"Keberadaan entitas di Singapura mempermudah akses pembiayaan dan kontrak ekspor internasional," ujarnya.

Ia juga menyoroti keberadaan intermediary company atau perusahaan perantara yang dinilai kerap digunakan untuk mempermudah distribusi komisi dan pengaturan perdagangan internasional.

Untuk itu, ia mendesak pemerintah melakukan reformasi tata kelola ekspor komoditas nasional. Salah satunya dengan mewajibkan transaksi langsung antara badan ekspor Indonesia dan end buyer.

Menurutnya, langkah tersebut akan berdampak pada meningkatnya nilai transaksi ekspor, menguatnya cadangan devisa, bertambahnya penerimaan pajak nasional, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi dan perbankan dalam negeri.

Selain itu, aktivitas perdagangan dan perkapalan nasional juga diperkirakan meningkat karena ekspor dapat dilakukan langsung ke negara tujuan tanpa melalui jalur transit perdagangan di Singapura.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ekspor Sawit - Batu Bara Wajib Lewat BUMN Mulai 1 September
Prabowo Instruksikan Kabinetnya Tentukan Harga Kelapa Sawit hingga Nikel
Pengedar Sabu Ditangkap di Kebun Sawit Bilah Barat
Buka Scopex 2026, Wagub Surya Tekankan Industri Sawit Harus Ramah Lingkungan dan Berpihak pada Rakyat
PT Barapala Buka Suara soal Deklarasi Warga dan Polemik Legalitas Lahan
Di Lahan Berplang PKH, Warga Luhat Utte Rudang Deklarasi Sikap Soal PT Barapala
komentar
beritaTerbaru