Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 26 Juni 2026

Kepala BKP Sumut Perkuat Ketahanan Pangan dengan "Manggadong"

- Rabu, 12 Februari 2014 19:13 WIB
432 view
Kepala BKP Sumut Perkuat Ketahanan Pangan dengan
Sib/dok
Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho mengkampanyekan budaya manggadong (makan ubi) di Universitas Sumatera Utara dalam acara launcing manggadong yang digelar oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sumut dalam mewujudkan Swasembada beras di Sumut, Kamis (
Medan (SIB)- Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut Setyo Purwadi mengatakan, pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan produksi pertanian guna memperkuat ketahanan pangan.  Dalam skala nasional, ada tiga program yang diterapkan, yakni peningkatan produksi pertanian, pengendalian alih fungsi lahan pertanian dan mengurangi konsumsi beras.

Demikian dikatakannya kepada SIB, Selasa (11/2/2014) di Medan menanggapi program manggadong untuk memperkuat ketahanan pangan di Sumut seiring bertambah sedikitnya lahan pertanian karena perubahan fungsi.

Namun dalam realitanya, kata Purwadi hasil yang didapatkan sering belum memuaskan, meski pemerintah selalu mengeluarkan anggaran besar, termasuk pemberian pupuk untuk meningkatkan produksi pertanian masyarakat. Dengan alih fungsi lahan yang terus terjadi dan meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk, produksi pertanian masyarakat, khususnya beras terkadang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Karena itu, perlu diciptakan sebuah program yang dapat mengurangi konsumsi beras dan memperkuat ketahanan pangan, termasuk dengan memanfaatkan kearifan lokal yang cukup banyak terdapat di tanah air.

Dari ketiga program skala nasional itu, konsep pengurangan konsumsi beras diperkirakan paling efektif untuk memperkuat ketahanan pangan, khususnya di Sumut. Hal itu dilakukan agar beras yang menjadi makanan utama masyarakat dapat dihemat dan digunakan pada masa sulit.

Program itu diperkirakan dapat diterapkan di Sumut karena pernah dilakukan sebelumnya, khususnya oleh masyarakat etnis Batak toba kawasan Tapanuli.  "Konsepnya adalah manggadong, budaya konsumsi yang telah diterapkan leluhur etnis Batak Toba," katanya.

Ia menjelaskan, manggadong adalah budaya etnis Batak Tobayang mengonsumsi ubi atau ketela sebagai makanan pembuka sebelum menikmati nasi. Dengan menikmati ketela terlebih dulu, masyarakat Batak tidak perlu mengonsumsi nasi terlalu banyak karena perutnya telah terisi dengan makanan tersebut.

Dari sisi asupan, kandungan gizi ketela juga cukup banyak dan mampu menggantikan zat yang dibutuhkan tubuh dari nasi. Jika dalam sesuap nasi terkandung 150 karbohidrat, maka ketela mengandung 100 karbohidrat dalam takaran yang sama. Demikian juga kandungan kalori dengan 100 untuk ketela dan 250 untuk nasi dalam takaran yang juga sama.

Setyo mengajak masyarakat agar mendukung upaya Pemprovsu untuk melakukan diversifikasi pangan, termasuk dengan mengampanyekan manggadong.  Jika tidak ada diversifikasi, dikhawatirkan upaya menciptakan ketahanan pangan di Sumut sulit dilakukan. (A18/w)
 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru