Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 26 Juni 2026

BUMN Gula Gelar Konsolidasi Kejar Peningkatan Produksi

- Kamis, 13 Februari 2014 16:32 WIB
603 view
BUMN Gula Gelar Konsolidasi Kejar Peningkatan Produksi
Surabaya (SIB) - Badan usaha milik negara yang bergerak di sektor pergulaan mengadakan rapat konsolidasi di Surabaya pada Kamis (13/2/2014) untuk membahas berbagai masalah dan tantangan industri gula dalam upaya mengejar peningkatkan produksi pada 2014.

     Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X, Subiyono, selaku tuan rumah acara tersebut kepada wartawan di Surabaya, Rabu, mengatakan pertemuan bertema “Pembahasan Evaluasi Giling 2013 dan Rencana Giling 2014” itu akan dipimpin langsung Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Menurut ia, sektor pergulaan nasional menghadapi sejumlah tantangan yang menuntut kerja keras dan kekompakan semua elemen. Salah satu tantangan itu adalah terjadinya anomali iklim pada 2013 yang mengakibatkan produksi gula nasional masih stagnan di kisaran 2,5 juta ton.

“Kita mencermati siklus anomali semakin memendek, yaitu menjadi tiga tahunan, karena sebelumnya juga terjadi pada 2010. Siklus ini memendek karena sebelumnya musim hujan berkepanjangan terjadi pada 1998, baru terulang pada 2010 atau 12 tahun kemudian. Ini menjadi tantangan yang harus ditaklukkan,” katanya.

Ia menambahkan pertemuan BUMN pergulaan juga akan membahas hal tersebut, termasuk langkah antisipasi dampak lanjutan anomali iklim terhadap kinerja musim giling 2014.

Hal lain yang dikonsolidasikan adalah tantangan dari sisi budidaya (on-farm) dan pengolahan di pabrik gula (off-farm). Sejumlah hal yang perlu dioptimalkan adalah penggunaan varietas unggul dan teknologi pertanian yang tepat guna.

“Mekanisasi harus terus didorong untuk mewujudkan praktik budidaya tebu terbaik,” tambah Subiyono, yang juga Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi).
Adapun dari sisi pengolahan pabrik gula, selama ini masih ada tantangan berupa mesin produksi yang usianya sudah tua di sejumlah pabrik gula dan secara bertahap perlu dilakukan modernisasi agar pabrik semakin efisien dan mampu menciptakan kinerja optimal.

Subiyono menegaskan bahwa pabrik gula harus makin efisien agar bisa menekan biaya pokok produksi, sehingga petani dan pabrik gula sama-sama untung.

Secara sederhana, efisiensi proses produksi mudah diukur dari kemampuan pabrik dalam menghasilkan ampas yang merupakan limbah padat tebu.
“Pabrik gula yang bisa menghasilkan ampas tebu secara optimal berarti proses gilingnya lancar. Selain itu, pabrik yang bisa menghasilkan ampas tebu juga menunjukkan bahan baku tebunya berada pada fase pemanenan yang tepat alias sudah tua (masak),” tuturnya.

Produksi ampas tebu itulah yang akan digunakan sebagai bahan bakar boiler yang alami dan murah, sehingga pabrik gula tidak harus membeli bahan bakar untuk menggerakkan mesin.

Subiyono berharap masa giling pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang bisa semakin pendek dengan kapasitas yang optimal. Idealnya, musim giling pabrik gula berjalan 160 hari.

Ia menambahkan tantangan lain yang harus dijawab industri gula dalam negeri adalah pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015, yang mencakup perdagangan bebas antar-negara di kawasan Asia Tenggara. (Antara/W)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru