Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 13 Juni 2026

Debat Pertama Capres AS Berlangsung Panas, Hillary Ungguli Trump

* 4 Oktober Debat Pertama Cawapres
- Rabu, 28 September 2016 10:13 WIB
475 view
Debat Pertama Capres AS Berlangsung Panas, Hillary Ungguli Trump
SIB/AP Photo/David Goldman
SALING MENYERANG: Capres Republik Donald Trump dan capres Demokrat Hillary Clinton saling menyerang dalam debat pertama capres AS yang berlangsung di Hofstra University, New York, Senin (26/9).
New York (SIB)- Debat calon presiden Amerika Serikat (AS) digelar untuk pertama kali di New York, Senin (26/9). Debat yang digelar di Hofstra University berlangsung panas. Kedua Capres, Hillary Clinton dan Donald Trump berdebat sengit soal isu ekonomi dan kebijakan luar negeri, serta saling menginterupsi berulang kali. Sesekali Trump dan Hillary terlihat "terpojok" karena serangan rival masing-masing. Walaupun begitu banyak yang berpendapat bahwa Hillary lebih "siap" dibandingkan dengan Trump.

Dari hasil jajak pendapat CNN/ORC yang dilakukan pasca-debat menunjukkan, 62 persen responden mengatakan, Hillary lebih unggul dalam debat. Sementara Trump hanya mendapatkan 27 persen suara. Seperti dikutip dari Vox, menurut jajak pendapat yang dilakukan Public Policy Polling, 51 responden memilih Hillary sebagai pemenang, sementara 40 persen berpikir pemenangnya adalah Trump. Sementara, fokus grup yang terdiri atas 20 calon pemilih yang belum menjatuhkan pilihan, disurvei CNN, 18 di antaranya memilih Clinton. Hillary juga unggul dalam fokus grup di  Pennsylvania yang digelar Partai Republik.

Dari analisis juga menunjukkan Hillary terlihat lebih siap ketimbang Trump. Ia tampil stabil serta menjawab sebanyak mungkin pertanyaan yang diajukan dan menyampaikan ide-idenya dalam jawaban tersebut. Kesiapan Hillary beralasan mengingat Debat Capres AS 2016 bisa jadi ditonton massa terbesar yang diraihnya sepanjang kampanye tahun ini. Diperkirakan, lebih dari 100 juta orang menyaksikan acara tersebut, baik secara langsung maupun melalui siaran televisi dan live streaming.

Hillary cukup agresif menyerang Trump terkait berbagai komentarnya tentang perempuan, keraguan Trump atas akta lahir Presiden Barack Obama, kebangkrutan bisnisnya serta berbagai inkonsistensi Trump di banyak isu. Penampilan apik Hillary dalam Debat Capres AS 2016 ini didukung dengan persiapan yang amat hati-hati dan riset mendalam.

Nyatanya, Wall Street Journal, Selasa (27/9) melansir, penampilan ini sudah terukur mengingat Hillary membutuhkan kemenangan dalam Debat Capres AS 2016 putaran pertama tersebut untuk menghentikan penurunan hasil polling dukungannya dalam beberapa minggu terakhir.

Sebaliknya, Donald Trump kesulitan melepaskan citra defensif dalam Debat Capres AS 2016 putaran pertama ini. Hal ini terlihat ketika moderator Lester Holt dan Hillary menekannya dalam berbagai isu seperti praktik bisnis, keengganan Trump merilis daftar pajak dan topik lainnya.

Meski demikian, setelah usaha keras kampanye sepanjang tahun, publik Amerika dapat melihat Trump berusaha meninggalkan dua kesan pada Debat Capres AS 2016 ini. Pertama, ia akan melakukan sesuatu untuk menghentikan sistem outsourcing; dan kedua, Trump menekankan bahwa Hillary adalah politisi masa lalu, sedangkan ia tidak.

Debat berikutnya dari Capres AS akan berlangsung pada Minggu 9 Oktober 2016 di Universitas Washington, Saint Louis, Missouri; dan Rabu 19 Oktober 2016 di Universitas Nevada, Las Vegas. Sebelumnya pada Selasa 4 Oktober 2016 akan dilangsungkan debat kandidat wakil presiden antara Tim Kaine (pasangan Hillary Clinton) dengan Mike Pence (pasangan Donald Trump).

Debat yang berlangsung 90 menit terbagi dalam enam segmen yang masing-masing berdurasi 15 menit tanpa ada pemotongan iklan. Debat dipimpin oleh moderator Lester Holt (57) yang merupakan penyiar acara berita malam NBC, acara yang paling banyak dilihat di AS. Kedua Capres berdiri di panggung, masing-masing di belakang mimbar. Moderator duduk di hadapan keduanya. Pertanyaan difokuskan pada tiga tema besar, yakni 'America's Direction', 'Achieving Prosperity' dan 'Securing America'.

Moderator membuka masing-masing segmen dengan satu pertanyaan. Masing-masing capres memiliki waktu 2 menit untuk menanggapi, dengan aturan masing-masing diperbolehkan menanggapi respons rivalnya. Jika masih ada sisa waktu, moderator akan menggunakannya untuk menanyakan pertanyaan lanjutan. Setiap tema besar akan didiskusikan selama 30 menit.

Setelah saling menyapa dan berjabat tangan serta melempar senyum, Hillary dan Trump kemudian memaparkan cara kedua capres untuk meningkatkan kesejahteraan warga Negeri Paman Sam. Hillary memaparkan programnya dengan berinvestasi pada kelas menengah ke atas sehingga dapat terjadi subsidi silang bagi warga menengah ke bawah. Perempuan berusia 68 tahun itu juga ingin meningkatkan upah minimum nasional.

"Dengan begitu, orang-orang yang lebih kaya dapat berbagi pendapatan mereka dengan yang kurang beruntung. Banyak pekerjaan baru dengan bayaran yang pantas tentu lebih baik. Saya juga akan memperjuangkan kesetaraan upah bagi perempuan," tutur Hillary.

Sementara Trump memfokuskan programnya dengan membawa kembali para perusahaan ke AS. Kembalinya para perusahaan yang berinvestasi di AS, diyakini akan menciptakan banyak lapangan kerja baru. "Saya akan memotong pajak dari 35 menjadi 15 persen. Meksiko dan China menggunakan kita sebagai celengan. Perusahaan membawa uangnya kabur ke dua negara itu karena pajak kita terlalu tinggi. Saya mau hentikan perginya perusahaan dan dicurinya pekerjaan dari AS," ujar Trump.

Memanas
Suasana debat langsung memanas setelah Hillary dan Trump saling melontarkan serangan verbal. Hillary menyebut visi kebijakan pajak Trump hanya akan menguntungkan orang kaya, sedangkan Trump menuding mantan Menteri Luar Negeri AS itu terlalu banyak bicara, tanpa bertindak.

Hillary mengkritik Trump karena belum juga merilis laporan pajaknya. Hillary menekannya bahwa laporan pengembalian pajak Trump yang hanya tercatat beberapa tahun saja, menunjukkan tidak hanya harta kekayaan Trump, tapi juga bahwa dia tidak membayar pajak pendapatan federal.

"Semua kandidat presiden sebelumnya telah merilis tagihan pajak mereka. Kenapa Trump tidak mau? Saya pikir karena dia tidak mau kita (warga AS) melihat kenyataan yang sebenarnya bahwa bisnisnya tidak sebagus yang dia katakan," serang Hillary.

"Saya akan rilis tagihan pajak. Itu benar, meski harus bertentangan dengan pendapat pengacaraku. Tapi, saya akan rilis tagihan pajak ketika sebanyak 33 ribu e-mail Hillary dirilis. Dia protes tagihan pajakku tidak diumumkan, sedangkan 33 ribu e-mail itu belum juga dirilis," ejek Trump.

Trump kemudian menyerang Hillary dengan menyebut mantan Ibu Negara itu tidak tahu cara menyediakan lapangan pekerjaan untuk warga AS. "Saya akan menyediakan lapangan pekerjaan. Anda tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan," tegas Trump kepada Hilary. "Saya tahu Anda hidup dalam realita Anda sendiri, tapi itu semua bukanlah fakta," jawab Hillary menimpali.

"Rencana yang terus diutarakan Donald hanya akan menjadi ekonomi 'tetesan ke bawah' lagi. Faktanya, ini akan menjadi versi paling ekstrem, potongan pajak terbesar untuk orang-orang kaya di negara ini, dibandingkan yang pernah ada. Saya menyebutnya merekayasa tetesan ke bawah," imbuhnya. Yang dimaksud ekonomi 'tetesan ke bawah' adalah prinsip perekonomian yang hanya menguntungkan orang-orang kaya. "Itu bukan caranya kita mengembangkan perekonomian," ucapnya.

Debat berlangsung intens dengan kedua kandidat saling menginterupsi dan menanggapi pernyataan lainnya. "Sungguh khas politikus. Banyak omong, tak ada tindakan. Terdengar baik, tapi tidak berhasil. Tidak akan pernah berhasil," tutur Trump kepada Hillary.

Trump menegaskan, pengalaman bisnisnya adalah hal yang dibutuhkan Amerika untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. "Lapangan pekerjaan kita kabur ke luar negeri. Mereka pergi ke Meksiko, mereka pergi ke negara lain. Anda lihat apa yang dilakukan China bagi negara kita. Mereka mendevaluasi mata uang mereka dan tidak ada orang di pemerintahan kita yang melawan mereka," sebut Trump.

Serangan Hillary berlanjut, dengan mengklaim dirinya banyak bertemu orang-orang yang merasa dicurangi oleh Trump dalam kesepakatan bisnis dan menyebut Trump tidak membayar klien-kliennya sesuai kontrak. "Apakah ribuan orang yang Anda curangi dalam bisnis Anda tidak layak mendapatkan permohonan maaf dari seseorang yang telah memanfaatkan kerja keras mereka, mengambil barang yang mereka produksi dan kemudian menolak membayar mereka?" tanya Hillary. Trump menegaskan, insiden semacam itu hanya terjadi jika kesepakatan bisnis tidak memiliki hasil memuaskan.

Angkat Isu Kesehatan Hillary
Terkait masalah kesehatan, Trump menyebut Hillary tidak punya stamina untuk menjadi presiden. "Saya katakan dia tak punya stamina. Dan saya tak yakin dia memiliki stamina. Untuk menjadi presiden negeri ini, Anda perlu stamina yang hebat," cetus Trump. Pernyataan itu disampaikan Trump terkait penyakit pneumonia yang belum lama ini diderita Hillary.

Mendapat serangan seperti itu, Hillary tidak tinggal diam. "Setelah dia (Trump) pergi ke 112 negara dan menegosiasikan kesepakatan damai, gencatan senjata, pembebasan pembangkang atau bahkan menghabiskan 11 jam bersaksi di depan sebuah komisi kongres, dia bisa bicara tentang stamina pada saya," cetus mantan Ibu Negara AS itu.

Trump kembali menyerang dengan menyatakan setuju bahwa Hillary punya pengalaman. Tetapi, dia menyebut pengalaman Hillary adalah sebuah pengalaman buruk. Donald Trump juga mengeluhkan kampanye negatif yang dilakukan Hillary terhadapnya. "Hillary Clinton habiskan jutaan dolar untuk menyerang saya. Itu sangat tidak bagus. Saya tidak pantas diperlakukan seperti itu," tutup Donald Trump.

Tim dokter menyatakan Hillary Clinton menderita pneumonia dalam peringatan tragedi 9/11. Mantan Menteri Luar Negeri AS itu mengaku mengabaikan saran dokter untuk beristirahat selama lima hari. Hillary menganggap diagnosa dokter atas penyakit pneumonia itu bukan sebuah masalah besar.

Isu ISIS dan Iran
Setelah membahas soal isu ekonomi dan kebijakan perdagangan, debat beralih ke isu perang melawan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Trump menuding Hillary membeberkan informasi kepada musuh dengan mengungkap rencananya melawan ISIS. Dia juga mengatakan Hillary gagal dalam kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada Juli 2015. Trump menilai kesepakatan nuklir Iran tidaklah sesukses yang dikira orang. Baginya, kesepakatan nuklir tersebut adalah kesepakatan terburuk yang pernah diambil oleh sebuah negara.

"Saat saya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Iran sebentar lagi punya bom nuklir. Kita sanksi mereka, tetapi itu tidak cukup. Saya habiskan waktu satu tahun menghimpun sekutu untuk menekan Iran, termasuk dengan China dan Rusia. Kami seret mereka ke meja perundingan. Itu diplomasi," tutur Hillary.

Hillary balik menyerang Trump terkait pernyataannya yang memiliki temperamen penyerang. Hillary memulai serangan dengan menyebut pernyataan Trump untuk menembak langsung kapal Iran jika macam-macam dengan kapal AS. Istri mantan Presiden Bill Clinton itu mengatakan, jika Trump mengkritik kesepakatan nuklir Iran yang malah memberi akses kepada fasilitas nuklir Teheran, maka dia tidak memiliki solusi apa pun terkait ISIS. Seorang pemimpin AS yang baik disebutnya harus paham akan situasi dunia. Hillary menilai Donald Trump tidak memiliki kemampuan untuk memahami situasi global.

Trump juga mempertanyakan mengenai aliansi AS sejak lama dengan sejumlah negara. Trump mencetuskan bahwa Jepang harus membayar kepada AS atas perlindungan yang diberikan selama ini. "Kita tak bisa menjadi polisi dunia, kita tak bisa melindungi negara-negara di seluruh dunia, di mana mereka tidak membayar apa yang kita perlukan," ujarnya.

Kepemilikan Senjata
Ketika membahas isu kepemilikan senjata dan kejahatan rasial, Hillary menekankan pentingnya pengembalian kepercayaan antara masyarakat dengan kepolisian. Karena itu, ujar Hillary, butuh teknik dan pelatihan yang lebih baik untuk mewujudkannya. Pandangan tersebut diamini pihak kepolisian. Namun, Hillary sendiri nampaknya belum mendapat dukungan aparat keamanan dalam pemilihan presiden kali ini.

Pasalnya, awal September, Trump mendapat dukungan dari kelompok hukum dan peradilan yaitu Orde Persaudaraan Polisi. Dengan 330 ribu anggota, ini adalah perserikatan polisi terbesar di AS. Seiring kian sengitnya persaingan menuju kursi nomor satu di AS, dukungan dari kelompok tersebut amat dicari mengingat keberadaan mereka terkonsentrasi di beberapa negara bagian yang penting.

Kelompok ini memiliki 41 ribu anggota di Pennsylvania, 25 ribu anggota di Ohio dan 22 ribu anggota di Florida. Pada pemilu 1996, capres yang mendapat dukungan dari orde tersebut adalah Bill Clinton. Kala itu, suami Hillary tersebut maju dalam pemilihan ulang dirinya sebagai presiden AS. (Detikcom/okz/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru