Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 28 Juli 2026

Menkes dan MUI Capai Kesepakatan

- Sabtu, 04 Agustus 2018 10:12 WIB
280 view
Menkes dan MUI Capai Kesepakatan
SIB/viva.com
TEMUI: Menkes Nilam F Moeloek dan MUI bertemu untuk menuntaskan masalah vaksin MR di Gedung MUI Jakarta Pusat, Jumat (3/8).
Jakarta (SIB) -Kementerian Kesehatan mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membahas terkait vaksin campak dan rubela atau vaksin MR, Jumat (3/8). Ditemui usai pertemuan tersebut, Menteri Kesehatan Nilam F Moeloek menyebut pihaknya dalam hal ini Kementerian Kesehatan akan tetap menjalankan program vaksinasi.

"Kami tetap melakukan imunisasi, tidak terkait dengan isu halal. (imunisasi-red) Tetap dilakukan sebagai kesehatan, kami tetap harus melindungi masyarakat dari penyakit," kata Nila.

Di sisi lain, bagi masyarakat yang masih menolak vaksin karena belum tersertifikasi kehalalannya, dirinya pun mengutarakan bahwa masyarakat boleh menunggu sampai dikeluarkannya sertifikasi halal oleh MUI. Terkait dengan proses sertifikasi halal tersebut, dirinya pun akan mengirim surat kepada Serum Institut of India selaku produsen vaksin perihal kandungan yang terdapat pada vaksin MR tersebut.

"Kemenkes akan menyurati serum institut of India untuk menanyakan sekali lagi bahan yang sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun lalu, tapi masih dalam proses," lanjut dia.

Di sisi lain, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam menjelaskan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan untuk proses percepatan penetapan fatwa dan juga panduan keagamaan dalam imunisasi.

"LPPOM MUI dalam keadaan menunggu dan siap mengambil langkah-langkah extraordinary untuk langkah pemeriksaaan dengan prinsip prudensialitas yang dimiliki oleh sistem di LPPOM dan Komisi Fatwa," kata dia.

Selain itu, lanjut dia untuk menenangkan masyarakat akibat kesimpangsiuran informasi ini, Kemenkes bersama dengan MUI pun akan melakukan penundaan pelaksanaan imunisasi di beberapa daerah yang memang memiliki concern mengenai isu keagamaan.

Dihentikan Sementara
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maros, Sulsel, meminta Dinas Kesehatan untuk menunda pemberian vaksin Meales Rubela (MR) ke anak-anak yang saat ini gencar dilakukan di sekolah-sekolah. Pasalnya, vaksin ini belum mendapatkan sertifikat halal dari MUI pusat.

"Jadi MUI Pusat telah mengeluarkan surat terkait vaksin MR yang memang belum mendapatkan label halal. Makanya kami meminta kepada pemerintah untuk menunda dulu, sebelum adanya keputusan itu," kata Wakil Ketua MUI Maros, Said Patombongi.

Menurutnya, vaksin tahun lalu, memang sudah mendapatkan label halal dari pemerintah. Namun, vaksin MR yang digunakan tahun ini belum sama sekali diteliti oleh MUI pusat hingga diragukan kehalalannya. Bahkan, yang digunakan pemerintah masih berdasar pada surat MUI tahun 2017.

"Memang sudah pernah keluar dari MUI Pusat soal vaksin ini tahun 2017. Tapi bukan berarti sama dengan tahun ini. Makanya kita berharap ditahan dulu sampai tanggal 8 Agustus mendatang, MUI pusat akan bersikap soal itu," terangnya.

Tak hanya MUI Maros, Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Maros juga menyampaikan penolakan mereka ke DPRD Maros atas imunisasi vaksin MR itu. Menurutnya, pemerintah tidak perlu tergesa-gesa menjalankan imunisasi itu sebelum ada keputusan MUI.

"Banyak orang tua yang cemas dan bertanya ke kami soal itu. Yah kami imbau untuk menolak dulu, sampai nanti ada keluar pernyataan MUI mengenai status halalnya. Sekarang ini sudah banyak sekali beredar di media sosial, dampak buruk akibat imunisasi MR itu," kata ketua BKPRI, Asri Said.

Ketua DPRD Maros, Chaidir Syam mengaku, pihaknya mendukung sikap ulama untuk meminta kejelasan terkait hal itu. Pihaknya akan segera memanggil dinas kesehatan untuk meminta penghentian sementara pemberian vaksin MR di sekolah-sekolah.

"Pada dasarnya kita ingin baik dengan adanya program vaksin ini. Tapi karena berpolemik, kita meminta Dinas Kesehatan untuk menunda dulu sampai ada kejelasan. Apa lagi kan sudah ada kesepakatan, tanggal 8 ini akan ada surat dari MUI pusat mengenai kejelasannya," ujar

Diketahui, pemberian vaksin MR di sekolah-sekolah di Maros serentak dilaksanakan sejak 1 Agustus 2018 lalu. Setiap hari, Dinas menargetkan ke Puskesmas untuk melakukan imunisasi di semua sekolah yang ada di desa setiap harinya.

"Kita memang ditargetkan semua sekolah yang ada di satu desa itu selesai dalam satu hari. Ini sudah hari ketiga kami turun, artinya sudah banyaklah sekolah yang kami datangi," kata Kepala Puskesmas Cenrana, Sugih Wibowo. (detikcom/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru