Minggu, 05 Mei 2024
Pemerintah Targetkan Kemiskinan Nol Persen di 2024

Wapres: Jangan Besar Studi Banding

* Pemerintah Tetap Berantas Korupsi Meski IPK Turun
Redaksi - Senin, 06 Februari 2023 09:08 WIB
229 view
Wapres: Jangan Besar Studi Banding
(Foto: Dok/wapresri.go.id)
KETERANGAN PERS: Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan pemerintah optimis mampu mencapai target penurunan angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem pada 2024 saat memberikan keterangan pers kepada awak media di Istana Kepresidenan Yo
Jakarta (SIB)
Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin merespons penggunaan anggaran kemiskinan yang disebut tak efektif lantaran terserap ke agenda rapat dan studi banding. Ma'ruf mengatakan tidak semua anggaran digunakan untuk rapat dan studi banding.
"Iya kita sebenarnya tidak semua anggaran untuk perjalanan dinas, untuk rapat-rapat tetapi memang kita, saya kira yang kita harapkan itu, jumlah anggaran penanggulangan kemiskinan yang cukup besar ya," kata Ma'ruf Amin dalam keterangannya, seperti dikutip dari YouTobe Wakil Presiden Republik Indonesia, Sabtu (4/2).
Ma'ruf kemudian menjelaskan, ada dua cara penanggulangan kemiskinan. Ma'ruf mengatakan, pemerintah terus berusaha meminimalkan angka kemiskinan di Indonesia.
"Kan penanggulangan kemiskinan ada 2 sebenarnya, satu perlindungan sosial, supaya mereka bisa kita tahan, jangan sampai lebih, turun lebih jauh, mereka bisa survive, kedua pemberdayaannya, supaya mereka bisa menjadi tidak lagi miskin, itu dua hal itu," ujarnya.
Menurut Ma'ruf, yang disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Abdullah Azwar Anas merupakan imbauan agar anggaran tidak diserap untuk rapat dan studi banding. Menurutnya, imbauan tersebut dinilai wajar dilakukan.
"Jadi mungkin maksudnya itu jangan sampai, imbauan MenPAN itu terlalu besar pada anggaran yang sifatnya itu biaya perjalanan, biaya studi banding, sehingga menyedot ini, jangan terlalu besar, itu saya kira wajar (imbauan Anas)," kata dia.
Lebih lanjut, Ma'ruf mengatakan, pemerintah memiliki target kemiskinan 0 persen di 2024. Oleh sebab itu, dia mengimbau anggaran harus digunakan seefisien mungkin.
"Anggaran ini jangan sampai masing-masing menjalankan sendiri-sendiri, tapi ada konvergensi sehingga anggaran itu efektif, apalagi kita ada target untuk menurunkan kemiskinan 2024 itu 0 persen," ungkapnya.
"Ini saya kira, sehingga betul-betul penggunaan anggaran itu efisien, dan kalaupun misalnya memang masalah penanggulangan kemiskinan bukan pada masalah anggaran, karena anggarannya sudah cukup besar, tapi kepada kinerja yang lebih efektif, ini yang perlu dibenahi," imbuh Ma'ruf.


Tetap Berantas Korupsi
Di kesempatan itu, Ma'ruf Amin juga menegaskan, Pemerintah tetap berkomitmen memberantas korupsi meski Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia Tahun 2022 menunjukkan penurunan sebanyak 4 poin.
"Memang biasa itu, kadang turun, naik; tapi yang jelas Pemerintah berkomitmen untuk memberantas korupsi," kata Ma'ruf Amin.
Ma'ruf Amin menambahkan, Pemerintah akan mengkaji penyebab penurunan indeks tersebut.
"Kami tentu akan teliti ya penurun persepsi korupsi, kami akan kita teliti, ya. KPK sendiri menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendidikan, kemudian juga pencegahan, dan penindakan. Ini secara simultan dilakukan; karena itu, kalau terjadi penurunan itu di mana?" katanya.
Pemerintah juga melakukan berbagai upaya pencegahan melalui pelayanan publik, katanya, seperti mendirikan Mal Pelayanan Publik (MPP) guna melayani masyarakat secara cepat.
"Melalui pelayanan yang digital, tanpa bertemu langsung, sehingga cepat, mudah, dan tidak ada celah melakukan pungli. Kemudian, kami juga membuat semacam zona integritas di birokrasi, kemudian wilayah bebas korupsi. Jadi, itu semua dalam rangka meminimalkan korupsi," jelasnya.
Menurut dia, Pemerintah akan melakukan pembahasan untuk mengetahui komponen utama yang menurunkan IPK Indonesia Tahun 2022.
"(Paling turun) Di sisi mana? Jadi, kami bertekad untuk meminimalkan korupsi bagaimana. Kami berharap penindakan lebih kecil karena sudah (diperbaiki) hulunya. Hulu itu dari pendidikan dan pencegahan yang lebih taat," ujar Wapres Ma'ruf Amin.
Sebelumnya, berdasarkan data Transparency International Indonesia (TII), Corruption Perception Index atau IPK Indonesia Tahun 2022 melorot 4 poin menjadi 34 dari sebelumnya 38 pada 2021, atau berada di posisi 110 dari 180 negara yang disurvei. Di 2021, skor IPK Indonesia adalah 38 dengan peringkat 96.
IPK mengacu pada delapan sumber data dan penilaian ahli untuk mengukur korupsi sektor publik di 180 negara dan teritori. Skor 0 berarti sangat korup dan skor 100 berarti sangat bersih.
Di ASEAN, Singapura menjadi negara yang dinilai paling tidak korup dengan skor 83, kemudian diikuti Malaysia dengan skor 47, Timor Leste mendapat skor 42, Vietnam meraih skor 42, Thailand memperoleh skor 36, Indonesia dengan skor 34, Filipina meraih skor 33, Laos dengan skor 31, Kamboja mencapai skor 24, serta Myanmar memperoleh skor 23.
Sementara di tingkat global, Denmark menduduki peringkat pertama dengan IPK 90, kemudian diikuti Finlandia dan Selandia Baru dengan masing-masin skor 87, Norwegia mendapat skor 84, Singapura dan Swedia dengan masing-masing skor 83, serta Swis memperoleh skor 82.
Di posisi terendah, Somalia mendapat skor 12, sementara Suriah dan Sudan Selatan masing-masing dengan skor 13 serta Venezuela meraih skor 14.
IPK Indonesia sama dengan Bosnia Herzegovina, Gambia, Malawi, Nepal, dan Sierra Leone. IPK Indonesia bahkan lebih rendah dibandingkan Kolombia (39), Lesotho (37), Kazakhstan (36), maupun Sri Langka (36).
Deputi TII Wawan Suyatmiko menyebut berdasarkan analisis, indikator ekonomi mengalami tantangan besar antara profesionalitas perusahaan dalam menerapkan sistem antikorupsi dengan kebijakan negara yang melonggarkan kemudahan berinvestasi.
"Negara berkembang mau pilih investor dari negara yang seperti apa? Apakah dari negara dengan standar antikorupsi tinggi atau yang penting pertumbuhan ekonomi jalan?" kata Wawan.
Analisis lain adalah dari sisi indikator politik tidak terjadi perubahan signifikan karena korupsi politik masih marak ditemukan. Selanjutnya, indikator penegakan hukum menunjukkan kebijakan antikorupsi terbukti belum efektif dalam mencegah dan memberantas korupsi. (Detikcom/Antaranews/a)



Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wapres Minta Target Penurunan Stunting 14 Persen Dievaluasi
Wapres Ma’ruf Amin akan Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal
Menko PMK Muhadjir Jelaskan Cara Pemerintah Hitung Kemiskinan di Sidang MK
Drs Daniel Pinem : Pemko Medan Banyak Luncurkan Program Penanggulangan Kemiskinan
Dirut PUD Pasar Medan Dukung Penuh Langkah Kejari Berantas Korupsi
Ketua MPR RI Dukung Penerapan Prinsip Ultimum Remedium untuk Berantas Korupsi
komentar
beritaTerbaru