Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Khamenei Meninggal, Siapa yang Akan Memimpin Iran?

Redaksi - Minggu, 01 Maret 2026 10:48 WIB
1.088 view
Khamenei Meninggal, Siapa yang Akan Memimpin Iran?
pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Teheran (harianSIB.com)

Sejumlah media pemerintah Iran telah mengonfirmasi kematian pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei meninggal usai kediamannya menjadi target serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).

Anak, menantu, dan cucu Khamenei dilaporkan turut meninggal menjadi korban serangan itu.

Dalam pernyataan tersebut, tidak disebutkan bagaimana pria berusia 86 tahun itu meninggal, maupun siapa yang mungkin akan mengambil alih tampuk kepemimpinan.

Baca Juga:
Iran telah menyatakan 40 hari masa berkabung nasional, menyusul kematian Khamenei.

Lantas, siapa yang akan memimpin Iran setelah kematian Khamenei?

Dikutip dari Al Jazeera, konstitusi Iran telah mengatur prosedur jika pemimpin tertinggi meninggal dunia.

Dalam proses tersebut, akan ada dewan yang terdiri dari tiga orang, termasuk presiden Iran, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi, yang akan mengambil alih kendali negara.

Saat ini, wewenang tertinggi Iran disebut diberikan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.

Sementara itu, kantor berita Reuters menyebutkan, Khamenei kemungkinan digantikan oleh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut dua sumber yang diberi informasi tentang intelijen tersebut.

Menurut sumber ketiga yang mengetahui masalah tersebut, pengambilalihan kekuasaan oleh tokoh-tokoh IRGC adalah salah satu dari berbagai skenario yang muncul.

Ali Larijani diyakini memiliki hubungan sangat dekat dengan Khamenei. Larijani baru-baru ini dipilih Iran untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, serta sejumlah pejabat negara Teluk yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.

Pengalamannya yang panjang di militer, media, dan legislatif membuatnya memahami seluk-beluk sistem politik Iran secara mendalam.

Larijani kembali menjabat sebagai Kepala SNSC tak lama setelah konflik Iran-Israel pecah pada 2025.

Jabatan ini merupakan posisi yang pernah ia pegang hampir dua dekade lalu, yang mengoordinasikan strategi pertahanan serta pengawasan penuh terhadap program nuklir.

"Dia sekarang memainkan peran yang lebih menonjol daripada kebanyakan pendahulunya," kata Ali Vaez, direktur proyek International Crisis Group untuk Iran.

"Larijani adalah orang dalam sejati, seorang operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi," lanjutnya.

Lahir di Najaf, Irak pada 1957 dari seorang ulama terkemuka yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, keluarga Larijani memiliki berpengaruh dalam sistem politik Iran selama beberapa dekade.

Beberapa kerabatnya telah menjadi sasaran tuduhan korupsi selama bertahun-tahun, yang semuanya mereka bantah.

Latar belakang pendidikannya pun mumpuni dengan gelar PhD di bidang Filsafat Barat dari Universitas Teheran.

Sebagai veteran Korps Garda Revolusi Islam selama perang Iran-Irak, Larijani kemudian memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB selama satu dekade dari 1994 sebelum menjabat sebagai ketua parlemen dari pada periode 2008-2020.

Pada 1996, ia diangkat sebagai perwakilan Khamenei di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC).

Meski sempat kalah dalam Pilpres 2005 dari Mahmoud Ahmadinejad dan didiskualifikasi pada pencalonan 2021 serta 2024, kembalinya Larijani ke pucuk keamanan nasional dianggap sebagai tanda kembalinya manajemen keamanan yang pragmatis. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
ISIS Kirim Pesan Ancaman untuk Iran dan Ayatollah Ali Khamenei
komentar
beritaTerbaru