Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Film Tentang HIV-AIDS Karya SMP di Lereng Merbabu Juara

- Kamis, 20 Februari 2014 14:39 WIB
414 view
 Film Tentang HIV-AIDS Karya SMP di Lereng Merbabu Juara
Magelang (SIB)- Prestasi membanggakan ditoreh oleh SMP Negeri 3 Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sekolah yang berada di lereng Gunung Merbabu itu meraih kemenangan dalam Syair Film Festival 2014, sebuah festival film pendek tingkat internasional yang bertema HIV-AIDS dan diadakan oleh Syair Untuk Sahabat Foundation atau Syair.org di Jakarta.

Sebuah film berjudul AIDS Sastro (AS), karya para guru dan siswa SMP Negeri 3 Pakis, berhasil memikat dewan juri festival tersebut.

Supriyanto, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Pakis, mengungkapkan, pengumuman kemenangannya diketahui setelah menerima surat elektronik (e-mail) resmi dari yayasan tersebut beberapa hari yang lalu.

Dalam surat itu, kata Supriyanto, disebutkan film AIDS Sastro memiliki keunggulan dalam penggambaran konflik yang cukup kuat dan sangat mencerminkan salah paham masyarakat tentang HIV-AIDS. "Dalam surat itu juga disebutkan bahwa para pemain film AS sangat bagus dan wajar," ujar Supriyanto, Selasa, (18/2/2014).

Syair Film Festival 2014 diikuti oleh 123 film dari tujuh negera, yakni Indonesia, AS, Selandia Baru, India, Bangladesh, Mesir, dan Syiria.

Film AS juga menjadi film dengan viewers (para penonton) terbanyak di situs YouTube dibandingkan dengan film-film pesaingnya, yakni 1.889 viewers.

AIDS Sastro bercerita tentang seorang guru bernama Sastro (diperankan oleh Heri Susanto), yang terinfeksi HIV. Sejak itu, semua teman, kerabat, tetangga, bahkan istrinya memusuhi Sastro. Mereka berniat untuk mengusir Sastro dari sekolah dan kampungnya.

Supriyanto mengaku bangga sekaligus tidak menyangka mendapat penghargaan tersebut. Betapa tidak, film yang kali pertama digarap oleh sekolahnya itu awalnya ditujukan untuk media pembelajaran para siswa dan guru, bukan untuk diikutkan dalam festival film. "Semula film ini hanya untuk media belajar, sebab tidak selamanya guru harus menerangkan di kelas. Media pembelajaran seperti film akan membantu agar pembelajaran lebih menarik dan efektif diterima siswa,” tutur Supriyanto seperti ditulis Kompas.Com.

Untuk memproduksi film berdurasi sembilan menit 55 detik itu, pihaknya bekerja sama dengan Grabag TV, sebuah media televisi komunitas di Kecamatan Grabag. Pihaknya berharap, prestasi itu menjadi pemicu dan pemacu untuk pembuatan media pembelajaran yang lebih kreatif demi pelayanan terbaik terhadap para siswa. Ke depan, film itu akan dijadikan media sosialisasi tentang HIV dan AIDS di sekolah-sekolah.

"Syair.org masih berharap ada penambahan adegan untuk memperjelas konsep tentang tertularnya penyakit ini," tutur Supriyanto. (t/r9/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru