Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Komunitas Para Kolektor Uang Kuno Berkembang Pesat di Indonesia

- Senin, 01 Februari 2016 22:30 WIB
3.055 view
 Komunitas Para Kolektor Uang Kuno Berkembang Pesat di Indonesia
Jakarta (SIB)- Berkembangnya media sosial dan aktivitas blogging memicu perkembangan komunitas pecinta atau kolektor uang kuno pun makin marak di Indonesia. Penyebaran aktivitasnya juga tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tapi telah sampai ke berbagai pelosok.

Dulunya, komunitas numismatis hanya terpusat di Surabaya, Jakarta dan Bandung. Namun, pergerakan para kolektor uang kuno saat ini telah merambah hingga ke daerah-daerah, bahkan sampai ke tingkat kabupaten.

Komunitasnya pun beragam dan tidak hanya didominasi perkumpulan besar seperti Asosiasi Numanistis Indonesia (ANI) atau Club Oeang Revolusi (Core). Banyak juga komunitas yang berbasis pada tempat langganan berkumpulnya para pecinta uang kuno.

Salah satunya adalah komunitas uang kuno di Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta yang bernama Numismatik Jogjakarta. Salah satu kolektor senior yang aktif dan merupakan pendiri komunitas tersebut adalah Wisnu Murti.

Menurutnya, perkembangan komunitas penghobi uang kuno di Kota Gudeg semakin pesat dalam setengah dekade terakhir. Bahkan, anggotanya telah mencapai ribuan orang. Mereka pun kerap difasilitasi PT Pos Indonesia (Persero) untuk menghelat berbagai acara.

“Di Jogja komunitas kami terbentuk sekitar 5 tahun yang lalu. Pada saat itu komunitas kolektor uang kuno masih belum begitu banyak. Lalu, kami merasa perlu membuat komunitas besar karena Jogja ini kota yang ideal untuk mewadahi pecinta uang kuno,” katanya.

Koleksi uang kuno di Jogja juga kata dia sangat banyak, karena memang karakter masyarakat Jogja senang menyimpan barang termasuk yang sudah kuno. Barang-barang yang disimpan itu kemudian ditemukan anak cucu mereka, lalu mulai dijual termasuk di antaranya adalah uang-uang lama. 

Orang Jogja pada zaman dulu kurang percaya pada bank dan lebih memilih menyimpan uang di bawah bantal. Itulah sebabnya koleksi uang kuno di kota ini jauh lebih banyak dan bervariasi dibandingkan daerah lain.

“Kami lebih tertarik pada faktor sejarahnya. Uang adalah bukti sejarah. Setiap uang dicetak, selalu ada sejarah yang mengikuti. Baik itu uang pada masa kolonial Belanda, Jepang, masa revolusi, pemerintahan darurat dan seterusnya. Banyak peristiwa sejarah yang terkait dengan uang.

Menurut Wisnu, komunitas mereka itu menampung semua pedagang di Pasar Klithikan dan mengatakan kalau ada uang lama, kami yang beli. Otomatis, semua orang yang tertarik menjual uang kuno atau membeli uang kuno pasti akan terpusat ke sana.

“Kolektor dari luar kota pun kalau datang ke Jogja, datangnya pasti ke tempat saya, karena pusatnya memang di Klithikan. Tidak ada yang lain. Biasanya kalau bertemu, kami suka saling bertukar koleksi. Di luar itu, setiap tahun kami juga mengadakan pameran rutin. Kami difasilitasi PT Pos Indonesia (Persero) untuk mengadakan pameran rutin sebanyak lima kali dalam setahun, dalam skala nasional,” ucap Wisnu lagi.

Bergabung dalam komunitas juga bisa menjadi investasi tersendiri bagi para kolektor. Sebab, harga jual sebuah uang kuno, setiap bulan selalu mengalami kenaikan. Uang kuno pun menjadi barang berharga yang prestisius.

Tantangannya, karena Indonesia adalah wilayah tropis, jadi harus pintar-pintar merawat uang. Kelembaban yang tinggi membuat uang kertas cepat rusak. Jadi harus dimasukkan ke dalam album dan dijaga baik-baik kelembabannya.

Tantangan lainnya adalah semakin banyaknya kolektor dari Eropa yang ikut-ikutan berburu uang kuno Indonesia, karena merasa memiliki kaitan sejarah dengan Indonesia pada masa lalu.

Orang Eropa banyak memburu uang kuno keluaran 1933-1939. Itu yang menyebabkan harga sebagian seri uang kuno menjadi tidak masuk akal. Satu lembar uang keluaran 1933 bisa dijual sampai Rp 1 miliar.

“Apalagi, di Eropa mereka bikin museum uang kuno Indonesia sendiri dan menggunakan uang asli. Jadi mereka berani bayar mahal,” katanya.

Kolektor Indonesia kalau menemukan barang bagus yang harganya di atas Rp 2 juta pasti akan langsung menghubungi koleganya untuk mendapatkan akses keluar negeri dan dijual barangnya.

“Sebenarnya kami berharap banyak pada pemerintah untuk mengatasi hal itu, karena banyak uang kuno Indonesia yang langka dan harus dilestarikan. Sejauh ini belum ada regulasi yang melarang uang dari seri atau periode tertentu untuk keluar dari wilayah NKRI. Kami dari komunitas sebenarnya sudah ada upaya untuk melestarikan uang kuno. Jangan sampai uang-uang bersejarah keluar negeri semua. Harapan kami, museum-museum yang ada di Indonesia ini mau membeli atau mengamankan uang yang sudah benar-benar langka. Daripada dibeli kolektor asing, kami lebih berharap kalau dibeli oleh museum lokal,” tutup Wisnu. (Bisnis.com/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru