Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 05 Mei 2026

Presiden Iran: Kami Tidak Ingin Berperang dengan Pasukan AS

- Jumat, 28 September 2018 19:30 WIB
393 view
New York City (SIB) -Presiden Iran Hassan Rouhani pad Rabu (26/9) mengatakan, negaranya tidak pernah ingin berkonflik dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Dia justru mempertanyakan mengapa pasukan AS masih berada di kawasan tersebut. Menghadiri Sidang Umum PBB di New York, Rouhani menyebut dukungan militer Iran untuk rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad akan terus dilakukan agar dapat mengalahkan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). 

"Kehadiran kami di Suriah akan terus berlanjut hingga saat ini karena pemerintah Suriah meminta kehadiran kami," katanya. "Kami tidak ingin berperang dengan pasukan Amerika di mana pun di kawasan ini. Kami tidak ingin menyerang mereka, kami tidak ingin meningkatkan ketegangan," ucapnya. "Tapi kami minta AS untuk mematuhi peraturan dan menghormati kedaulatan nasional negara-negara," imbuhnya. Komentar Rouhani terlontar setelah Presiden AS Donald Trump memanfaatkan sesi Dewan Keamanan PBB untuk menegaskan kembali pandangannya mengenai kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran. Trump menyebut perjanjian itu sebagai kesepakatan yang mengerikan. 

Saat ini, pemerintahan Trump mencoba untuk memenangkan dukungan global terkait tekanannya terhadap Iran. "Hari ini menjadi jelas bahwa Amerika sendirian," ucap Rouhani. Dia menambahkan, pemimpin negara lain tidak setuju dengan keputusan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir, yang dianggap meringankan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. "Mereka menyebut tindakan Amerika sebagai tindakan yang salah," kata Rouhani. 

Aib Politik
Iran mengomentari momen saat pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam forum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) disambut gelak tawa para pemimpin dunia. Iran menyebut hal itu menjadi pertanda bahwa AS kini terisolasi. Para pemimpin dunia dan delegasi yang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa (25/9) waktu setempat tertawa lepas dan saling berbisik saat Trump dalam pidatonya membanggakan pencapaian 'luar biasa' pemerintahannya. "Anda melihat dan mendengar tawa mereka," ucap Kepala Garda Revolusioner Iran (IRGC), Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari, seperti dikutip kantor berita Iran, Fars News, Kamis (27/9).

"Pesan dari tertawaan ini adalah runtuhnya kedok Anda dan meningkatnya isolasi terhadap Amerika, dan itu merupakan aib politik yang besar," sebutnya merujuk pada Trump. "Anda bisa meyakini bahwa rakyat Iran dan sekitarnya tertawa pada klaim Anda yang sepenuhnya salah dan konyol, tapi Anda tidak bisa mendengar tawa mereka dari kejauhan," sebut Jafari.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyebut AS telah 'menyalahgunakan' Dewan Keamanan PBB dan kini AS 'semakin terisolasi'. "Sekali lagi, AS telah menyalahgunakan UNSC (Dewan Keamanan PBB) hanya untuk mendapati mereka semakin terisolasi dalam pelanggaran #JCPOA dan resolusi SC (Dewan Keamanan) 2231. Kapan mereka akan belajar?" sebut Zarif via Twitter.

JCPOA merupakan kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia yang tercapai tahun 2015, sedangkan resolusi 2231 merupakan resolusi PBB yang mendukung kesepakatan itu. Pada Mei lalu, Trump telah menarik AS dari kesepakatan itu. "Amerika merupakan simbol penindasan di dunia. Dan mereka yang tertindas dan mereka yang mencari kebebasan, bersatu melawan mereka (AS -red)," tandas Jafari dalam pernyataannya.

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Rabu (26/9) waktu setempat, Trump menyatakan AS sedang mengupayakan sanksi-sanksi tambahan bagi Iran. 
"Untuk menangkal perilaku buruk Iran," ujarnya. AS menuding Iran mendukung proxy yang mendestabilisasi di Libanon, Suriah, Yaman dan Irak. (CNN/Rtr/AFP/Kps/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru