Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026
Terus Bombardir Posisi Houthi

Saudi Desak Iran Hentikan Dukungan terhadap Houthi Yaman

- Selasa, 14 April 2015 16:31 WIB
350 view
 Saudi Desak Iran Hentikan Dukungan terhadap Houthi Yaman
Bangunan stadion hancur akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di kota Ibb, Yaman, Senin (13/4).
Riyadh (SIB)- Otoritas Arab Saudi mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya pada pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Saudi bersikeras bahwa pihaknya tidak berperang dengan Iran dalam pertempuran di Yaman. Memasuki minggu ketiga, pertempuran di Yaman yang dipimpin Saudi dan koalisinya masih terus berlanjut. Semenjak 26 Maret lalu, Saudi memimpin koalisi dari 9 negara Arab dan melancarkan serangan udara terhadap pemberontak Houthi di Yaman, yang menguasai ibukota Sanaa. Sejauh ini, pertempuran sudah meluas hingga ke 15 provinsi dari total 22 provinsi di Yaman.

Seperti dilansir AFP, Senin (13/4), otoritas Saudi khawatir jika pemberontak Houthi berhasil mengambil alih seluruh wilayah Yaman dan mengarahkannya kepada Iran yang dikuasai Syiah, yang merupakan musuh Saudi yang menganut Sunni.

Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Saud al-Faisal mendesak Iran untuk tidak membantu aktivitas kriminal yang dilakukan pemberontak Houthi untuk melawan pemerintah sah Yaman. "Dan juga menghentikan penyaluran senjata dan bantuan kepada pemberontak (Houthi)," tegasnya. Namun Pangeran Saud menegaskan, Saudi tidak berperang melawan Iran. "Kami tidak sedang berperang dengan Iran," terangnya.

Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Iran terkait desakan ini. Namun sebelumnya Iran telah membantah pihaknya menyalurkan senjata kepada pemberontak Houthi di Yaman. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei justru menyebut koalisi yang dipimpin Saudi sebagai pelaku kriminal.

Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian membantah laporan media yang menyebut dua anggota pasukan elite Garda Revolusioner ditangkap di Yaman. "Iran tidak memiliki tentara militer di Yaman," bantahnya seperti dikutip kantor berita IRNA.

Terus Bombardir

Arab Saudi dan koalisi terus melancarkan serangan udara terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Serangan terbaru ke posisi-posisi Houthi di kota Aden, Yaman selatan ini dilakukan seiring pertempuran, yang terjadi antara para pemberontak dan milisi pro-pemerintah Yaman. Menurut paramedis setempat seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (13/4), lima orang tewas dalam baku tembak itu.

Target serangan Saudi dan koalisi termasuk istana kepresidenan di Aden yang dikuasai pemberontak Houthi. Belum ada laporan mengenai jatuhnya korban dalam serangan udara Saudi tersebut. Istana kepresidenan tersebut tadinya merupakan tempat persembunyian terakhir Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi sebelum mengungsi ke negara tetangga, Saudi seiring dimulainya operasi militer Saudi dan koalisi pada 26 Maret lalu.

Pesawat-pesawat tempur Saudi dan koalisi juga membombardir posisi-posisi Houthi dan pos-pos pemeriksaan keamanan di pintu masuk menuju Aden. Menurut warga setempat, gempuran udara tersebut berlangsung beberapa jam hingga Senin (13/4) pukul 06.00 waktu setempat.

Sementara itu, dua warga sipil dan tiga milisi yang setia pada Hadi tewas dalam pertempuran melawan Houthi di kota Aden. Menurut warga, pemberontak Houthi dan sekutunya, unit-unit militer yang setia pada mantan presiden Ali Abdullah Saleh, bertempur melawan para pendukung Hadi di sejumlah kawasan di Aden sepanjang Minggu, 12 April malam waktu setempat. Saksi mata mengatakan, serangan udara Saudi dan koalisi juga dilancarkan terhadap posisi-posisi Houthi di provinsi Shabwa.

Mulai Pembicaraan

Seorang menteri Kabinet Arab Saudi memulai pembicaraan di Islamabad, Senin (13/4) mengenai konflik Yaman. Menteri Urusan Islam Arab Saudi Sheikh Saleh bin Abdulaziz bin Mohammed Ash-Sheikh, yang tiba di Islamabad, Minggu (12/4) malam, dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin Pakistan mengenai peran Islamabad dalam konflik di Yaman. Beberapa hari sebelumnya Parlemen Pakistan dengan suara bulat mendesak pemerintah agar mempertahankan sikap netral dalam perang pimpinan Arab Saudi melawan petempur Syiah Yaman,  Al-Houthi.

Menteri Arab Saudi itu, yang berusaha menepis kesan mengenai adanya ketegangan dengan Pakistan, mengatakan dalam pernyataannya setibanya di Islamabad bahwa pesan dengan suara bulat di dalam resolusi oleh Parlemen Pakistan adalah urusan dalam negeri Pakistan. "Arab Saudi mengharapkan yang terbaik dari Pakistan," kata menteri itu, sebagaimana dikutip Xinhua yang dipantau Antara, Senin (13/4).

Arab Saudi telah meminta Pakistan mengirim jet tempur, kapal perang dan tentara darat untuk perang tersebut ketika Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Asif dan beberapa pejabat senior militer mengunjungi Kerajaan Teluk itu pada bulan ini. Uni Emirat Arab (UAE), salah sekutu Arab Saudi dalam konflik tersebut, mengutuk keputusan Pakistan itu dan memperingatkan Islamabad nantinya harus membayar mahal atas keputusan tersebut. Pakistan menepis kecaman itu dan menyebut ancaman UAE sebagai penghinaan terhadap Parlemen Pakistan. Arab Saudi, yang telah lama menjadi sekutu Pakistan, telah memimpin koaliai untuk melancarkan serangan udara terhadap posisi Al-Houthi di Yaman.

Mayoritas anggota Parlemen menentang keikutsertaan Pakistan dalam konflik di Timur Tengah dengan alasan negara Asia Selatan tersebut masih menderita akibat perannya dalam koalisi pimpinan AS, yang telah menggulingkan rejim Taliban di negara tetangganya, Afghanistan, pada penghujung 2001.
Pakistan saat ini menempatkan hampir 1.000 prajurit di Arab Saudi, tapi mereka tidak ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Yaman, kata Menteri Pertahanan Asif. Rakyat Pakistan terpecah mengenai dukungan militer negeri tersebut dalam konflik Yaman. Namun sangat banyak warga di negara Asia Selatan itu ingin mempertahankan Arab Saudi jika keutuhan wilayah Kerajaan Teluk tersebut terancam mengingat di sana terdapat Tempat Suci Umat Muslim. (AFP/dtc/Ant/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru