Kiev (SIB)- Sekitar 300 US pasukan dari Brigade Lintas Udara ke-173 Amerika Serikat telah tiba di Ukraina pekan ini untuk melatih Garda Nasional Ukraina dalam memerangi pasukan pemberontak pro-Rusia di timur negeri itu. Ke-300 prajurit ini telah tiba Selasa dan Kamis lalu di Yavoriv, Ukraina barat, untuk melatih tiga batalion pasukan Ukraina selama enam bulan. Mereka akan melatih Garda Nasional Ukraina yang adalah tentara cadangan bentukan tahun 2014 yang menghimpun relawan dan milisi pro pemerintah.
"Kami akan menyelenggarakan kelas-kelas mengenai fungsi-fungsi tempur, selain melatih keberlangsungan dan meningkatkan profesionalisme serta keterampilan staf militer," kata Mayor Jose Mendez, perwira operasional pada brigade yang berpangkalan di Italia itu.
Langkah Amerika ini dikecam pemerintah Rusia. "Partisipasi para instruktur dan pakar dari negara ketiga di wilayah Ukraina, tentunya, tidak membantu mengatasi konflik di sana," kata Juru Bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov. "Sebaliknya, hal itu bisa secara serius mendestabilisasi situasi," sambung dia.
Pengiriman tentara Amerika tersebut terjadi di tengah-tengah hubungan Rusia dengan Ukraina tengah memanas. Namun, Presiden Vladimir Putin berjanji akan memulihkan hubungan dengan Ukraina. "Kami akan berusaha memulihkan hubungan kami dengan Ukraina. Ini adalah keinginan kami," kata Putin dalam siaran langsung dari satu studio televisi Moskow, sebagaimana dikutip Xinhua, Jumat (17/4).
Orang nomor satu di Rusia tersebut Ukraina yang tak bersedia memanfaatkan kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Februari. Kondisi itu membuat Ukraina kesulitan mewujudkan perdamaian. "Saya kira (tindakan agresif Ukraina) adalah kekeliruan yang sangat besar, dan tindakan semacam itu membuat situasi jadi buntu," lanjut Putin.
Pria yang sudah memimpin Rusia sejak 7 Mei 2012 itu mengatakan pihaknya juga tertarik memulihkan ekonomi di Ukraina. "Kami tertarik pada kestabilan dan ketenangan perbatasan kami, serta untuk memperoleh kesempatan dan mengembangkan hubungan ekonomi dengan mitra yang makmur," sambungnya.
Putin juga mendesak negara barat menghormati kepentingan Rusia di dunia internasional. Putin mengkritik Pemerintah AS yang menurutnya tidak memperlakukan Rusia sebagai partner yang setara. Dia juga mengingatkan bahwa hubungan Rusia dengan Barat yang sedang tegang karena krisis di Ukraina hanya dapat dipulihkan dengan kesediaan AS dan sekutu-sekutunya untuk berkompromi.
Dia menegaskan bahwa Moskow sangat terbuka untuk meredakan ketegangan yang saat ini terjadi. “Syarat utama adalah menghormati Rusia dan kepentingannya,†kata Putin. “Kami tidak melihat siapa pun sebagai musuh dan kami tidak menyarankan siapa pun melihat kami sebagi musuh,†ujar Putin.
Dalam sesi tanya jawab tersebut, Putin dikabarkan menerima lebih dari 3 juta pertanyaan dari seluruh negeri, sebelum dan selama acara yang disiarkan langsung tersebut. Beberapa isu yang juga menjadi pertanyaan antara lain mengenai pembunuhan politisi oposisi Boris Nemtsov, mengenai ekonomi Rusia, dan mengenai pembelian helikopter Prancis.
Sebelumnya Menhan Rusia Sergei Shoigu menyalahkan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai penyebab utama kemelut di Ukraina. Dia mengatakan bahwa niat Washington mengubah haluan politik Ukraina ke arah Barat adalah ancaman bagi Moskow, sehingga Kremlin dipaksa menanggapi.
Dalam pertemuan keamanan tahunan di Moskow, Shoigu menuduh Washington berupaya menguasai dunia secara politik dan militer. Dia kembali menegaskan sikap Rusia bahwa negara Barat seringkali mendalangi "revolusi berwarna" untuk menggulingkan penguasa, yang tidak mereka suka.
"Ukraina adalah tragedi terbesar dalam rentetan revolusi berwarna. Amerika Serikat dan sekutunya melanggar semua aturan demi menguasai Kiev secara tidak langsung. Mereka dengan sengaja memancing tanggapan kami," kata Shoigu. Rusia menguasai semenanjung Krimea pada Maret tahun lalu.
Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi kerusuhan separatis di Ukraina bagian timur yang sebagian besar penduduknya berbahasa Rusia.
Pertempuran antara pasukan Kiev dengan gerilyawan pro-Rusia sampai saat ini telah menewaskan lebih dari 6.000 orang. Negara-negara Barat menuding Moskow telah mengirim tentara Rusia lengkap dengan persenjataan, pelatihan dan intelejen untuk membantu gerilyawan. Moskow sendiri membantah keterlibatan langsung secara militer di Ukraina meski terdapat bukti-bukti yang mengarah ke sana. Sementara saat ini, Shoigu mengatakan bahwa pertempuran di Kiev adalah kesalahan politik luar negeri Barat.
Shoigu juga membantah kritik dari Barat bahwa Rusia kini tengah mengubah garis perbatasan Eropa dengan menunjuk pada keterlibatan mereka dalam konflik di Serbia, Irak, dan Libya. Shoigu mengatakan bahwa Moskow menilai penempatan sistem pertahanan anti-rudal milik Amerika Serikat di Eropa sebagai ancaman bagi kemampuan strategis nuklir Rusia. Kremlin kini tengah memikirkan cara untuk mengimbangi langkah tersebut.
(Ant/AFP/q)