Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026

Terlibat Serangan Udara di Yaman, Para Pilot AU Saudi Dihadiahi Mobil Mewah

* Militan Houthi Bertindak Agresif, Arab Saudi Janji akan Bertindak
- Jumat, 24 April 2015 16:04 WIB
382 view
Terlibat Serangan Udara di Yaman, Para Pilot AU Saudi Dihadiahi Mobil Mewah
Riyadh (SIB)- Seorang pangeran kaya raya Arab Saudi menuai kritik di media sosial setelah menawarkan mobil mewah kepada para pilot AU Arab Saudi yang berpartisipasi dalam serangan udara di Yaman. Awal pekan ini, Saudi mengumumkan penghentian serangan ke Yaman. Untuk merayakannya, Pangeran Al-Waleed bin Talal, salah satu orang terkaya di negeri itu, mengumumkan pada 3 juta pengikut akun Twitternya terkait hadiah untuk para penerbang tersebut.

"Sebagai penghargaan atas peran mereka dalam operasi tersebut, saya merasa terhormat untuk menawarkan 100 mobil Bentley kepada 100 pilot tempur Saudi," ujar Pangeran Al-Waleed lewat akun Twitter-nya itu. Tawaran Pangeran Al-Waleed itu ditanggapi beragam reaksi. Lebih dari 28.000 orang membagi komentar tersebut, dan 5.000 lainnya menyukai pernyataan sang pangeran.

Sebagian memuji sang pangeran karena dianggap "murah hati" dan sejumlah orang Saudi mengatakan, para pilot mereka berhak mendapatkan mobil mewah, bahkan lebih lagi, karena telah menunaikan tugas negara. Namun, bagi mereka yang tinggal di luar Arab Saudi, khususnya di Yaman, menganggap penawaran yang disampaikan Pangeran Al-Waleed merupakan hal yang tak pantas. "100 mobil Bentley untuk 100 pilot yang mengebom Yaman. Sementara, tak satu pun ambulans untuk semua rumah sakit yang mereka hancurkan," kata seorang warga Yaman, lewat akun Twitter-nya.

Warga Yaman lain, yang sempat membagi foto yang menunjukkan kehancuran rumahnya akibat serangan udara Arab Saudi menulis di Twitter: "Pangeran Al Waleed memberikan 100 Bentley untuk para pilot tempur Saudi. Sebaliknya, apartemen saya hancur akibat ledakan. Saya yakin, semangat saya lebih tinggi daripada pilot-pilot itu."

Pengguna media sosial lainnya menyoroti kesenjangan antara orang-orang yang hidup di Yaman, salah satu negara termiskin di dunia dan tetangga Arab Saudi yang kaya raya. "Apakah nyawa 100 atau 200 orang layak dipertukarkan untuk sebuah Bentley? Betapa murahnya nyawa manusia," kata seorang pengguna Twitter asal Jordania.

Komentar asli sang pangeran yang menawarkan hadiah tersebut kini telah dihapus, meski lamannya masih bertebaran di dunia maya. Sejumlah media Arab Saudi melaporkan, akun Twitter sang pangeran telah diretas. Namun tak ada laporan soal peretasan yang disampaikan - dan Pangeran Al-Waleed tidak merespon ketika BBC meminta pendapatnya terkait masalah ini.

Tahun lalu pangeran yang terkenal karena gaya hidupnya yang mewah dan gemar membagi hadiah itu, memberikan 25 unit mobil mewah kepada anggota tim sepak bola setempat setelah mereka memenangkan kejuaraan Arab Saudi, sebuah langkah yang memicu perdebatan di Saudi tentang siapa yang berhak atas hadiah itu.

Akan Bertindak Agresif


Arab Saudi akan merespons jika para pemberontak Syiah Houthi di Yaman mengambil langkah-langkah agresif. Hal ini disampaikan setelah kerajaan Teluk itu mengumumkan penghentian serangan udara di Yaman. "Jika Houthi atau sekutu-sekutu mereka membuat langkah-langkah agresif, maka akan ada respons," tegas Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, Adel al-Jubeir kepada para wartawan di Washington.

"Keputusan untuk meredakan masalah kini bergantung sepenuhnya pada mereka (Houthi)," tandasnya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/4). Dikatakannya, pemerintah Saudi tengah mengupayakan dialog politik antara semua pihak di Yaman, yang diharapkan akan menuju ke pemilihan umum dan implementasi konstitusi baru.

"Sekarang tujuannya adalah fokus ke proses politik, proses kemanusiaan dan di waktu yang sama, berupaya melindungi penduduk Yaman dari agresi Houthi, dan melawan setiap langkah agresi yang dilakukan Houthi," tegas diplomat tinggi Saudi itu.

Serangan udara koalisi Saudi akhirnya dihentikan pada Rabu, 22 April setelah berlangsung selama 4 minggu terakhir. Serangan ini ditargetkan terhadap pemberontak Houthi, yang berusaha menguasai Yaman, serta yang diyakini oleh Saudi didukung dan disuplai senjata oleh Iran.

Iran sendiri telah membantah berulang kali bahwa pihaknya mengirim suplai persenjataan untuk Houthi di Yaman. Namun Iran mengaku memang mendukung Houthi yang sama-sama menganut Syiah dan mengecam serangan udara yang dilakukan koalisi Saudi.

Namun pesawat-pesawat tempur Arab Saudi dan koalisi kembali membombardir beberapa posisi Houthi. Belum diketahui alasan dilancarkannya serangan udara ini. Padahal sebelumnya Saudi telah mengumumkan penghentian serangan udara terhadap pemberontak Houthi di Yaman. Menurut saksi-saksi mata, serangan udara Saudi dan koalisi ini menargetkan posisi-posisi Houthi di dekat ibukota Sanaa, di bagian utara Taez, dan di bagian tengah kota Yarim. Belum ada laporan jatuhnya korban dalam serangan udara ini.

Sebelumnya, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat, Adel al-Jubeir nenegaskan, negaranya akan merespons jika para pemberontak Syiah Houthi di Yaman mengambil langkah-langkah agresif. Hal ini disampaikan setelah kerajaan Teluk itu mengumumkan penghentian serangan udara di Yaman.

"Jika Houthi atau sekutu-sekutu mereka membuat langkah-langkah agresif, maka akan ada respons," tegas al-Jubeir kepada para wartawan di Washington. Dikatakannya, pemerintah Saudi tengah mengupayakan dialog politik antara semua pihak di Yaman, yang diharapkan akan menuju ke pemilihan umum dan implementasi konstitusi baru.

"Sekarang tujuannya adalah fokus ke proses politik, proses kemanusiaan dan di waktu yang sama, berupaya melindungi penduduk Yaman dari agresi Houthi, dan melawan setiap langkah agresi yang dilakukan Houthi," tegas diplomat tinggi Saudi itu.

Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab untuk membombardir Houthi sejak 26 Maret lalu, terutama setelah Houthi memaksa Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi mengungsi ke wilayahnya. Ketegangan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir, di tengah munculnya laporan soal konvoi 9 kapal Iran di perairan Yaman, yang dicurigai membawa suplai senjata. Militer AS lantas mengirimkan salah satu kapal induknya, USS Theodore Roosevelt dan juga kapal dengan rudal jelajah USS Normandy ke perairan Yaman. Menurut PBB, sekitar 900 orang tewas dalam konflik di Yaman sejak akhir Maret. (BBC/Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru