Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 12 Juni 2026

Jual Beli Uang Kuno Semarakkan Kontes Batu Akik di Balai Rahmat Shah

- Senin, 11 Mei 2015 12:30 WIB
582 view
Jual Beli Uang Kuno Semarakkan Kontes Batu Akik di Balai Rahmat Shah
Pematangsiantar (SIB)- Jual beli uang kertas  kuno dan koin Republik Indonesia  semarakkan kontes batu akik di Balai Rahmat Shah, Jalan MH Sitorus, Kelurahan Teladan, Kecamatan Siantar Barat, Pematangsiantar, Minggu (10/5) sekira pukul 04.40 Wib.

Pantauan SIB di lokasi, ratusan uang kuno yang terdiri dari uang kertas dan koin diperjual belikan di salah satu stand, mulai dari uang kertas 10 sen yang dicetak pada tanggal 17 Oktober 1945 dan uang 10 tien cent Japansche Regeering, uang kertas 10 rupiah dan uang benggol yang juga terdiri dari 1 sen sampai 10 sen dan lain-lainnya.

"Dalam uang kertas kuno itu dituliskan tanda pembajaran jang sah, dan uang negara Jepang 10 tien cent berlaku di Indonesia pada waktu itu, juga uang 10 roepiah Dai Nippon Teikoku Seihu dan uang kuno lainnya. Semua lengkap di sini," urai penjual uang kuno kertas-koin, Reza, warga Jalan Gatot Subroto, Komplek Tomang, Medan ini.

Penjual uang kuno kertas-koin ini juga mengatakan bahwa uang kuno tersebut bisa terkumpul banyak, karena majikannya seorang kolektor barang antik termasuk uang kuno. "Bos saya yang kumpulkan (uang kuno kertas-koin) sehingga bisa banyak seperti ini. Jadi karena kebanyakan dikumpulkan, sehingga ada niat untuk menjualnya," ujar Reza.

Dikatakannya juga, harga uang kuno yang diperjual belikan itu cukup bervariasi, tergantung dari nilai sejarah uang koleksi tersebut. "Harganya mulai dari satu lembar uang kuno seharga Rp20 ribu, satu lembar uang kuno seharga Rp10 ribu, dua lembar uang kuno Rp5 ribu dan 3 uang benggol kuno jual Rp10 ribu dan macam harga lainnya," urainya.

Salah satu pengunjung, P Pangaribuan mengaku sangat tertarik dengan banyaknya jumlah uang kuno kertas dan koin yang diperjual belikan di salah satu stand acara kontes batu akik, Balai Rahmat.

Terpisah, pemilik uang kuno kertas-koin, Irwan Fahmi mengatakan ketertarikan dirinya mengoleksi uang kuno tersebut berawal dari hobi semata. "Berawal dari kesukaan saya kepada uang daerah. Karena itu tahun 1945-1949 masa revolusi uang daerah, tingkat kelangkaannya luar biasa. Kemudian sama kayak batu, sifat uang kuno intim, karena tidak semua bisa menyimpannya," ujarnya.

Diterangkannya, awalnya dirinya tak mau menjual koleksi yang ia kumpulkan dari warga dan kolektor. "Tapi ketika  itu ada yang nawar Rp 250 ribu uang kertas pecahan 500 tahun 1958, padahal saya beli Rp 100 ribu, ya saya jual lah," tandasnya. (Dik/MS/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru