Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 23 Juni 2026

DLH Langkat Dinilai Lamban, Hasil Pemeriksaan Limbah Ternak Belum Ada Hasil

* Kadis LH: Akan Dilakukan Uji Sampling
Redaksi - Sabtu, 20 Januari 2024 19:14 WIB
578 view
DLH Langkat Dinilai Lamban, Hasil Pemeriksaan Limbah Ternak Belum Ada Hasil
(Foto: SIB/Arthur Simanjuntak)
KONFIRMASI: Kepala Dinas Lingkungan Hidup M Harmain SSTP didampingi Kabid PPLH Yasir dan Kabid Pencemaran Abdi saat dikonfirmasi, Kamis (18/1),  di ruang Kadis LH Kabupaten Langkat.
Langkat (SIB)
Kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dinilai lamban. Pasalnya, pengambilan sampel limbah yang dilakukan tim Lingkungan Hidup (LH) pada 16 Oktober 2023 lalu, dari peternakan bebek di Lingkungan VIII (8) Bangsal Wonosari, Kelurahan Perdamaian, Kecamatan Stabat, hingga kini belum diketahui hasilnya.
Pernyataan belum diketahuinya hasil sampling limbah dari kandang bebek, disampaikan Dinas Lingkungam Hidup, saat dikonfirmasi SIB di ruang kerja Kepala Dinas LH, Rabu (18/1/2024). Kepala Dinas Lingkungan Hidup M Harmain SSTP didampingi Kabid PPLH Yasir.
Salah seorang pegawai fungsional Yos yang berada di ruangan itu kepada SIB mengaku belum ada hasil sampel limbah yang diambil.
"Belum ada hasilnya. Kita tidak tahu apa uda keluar atau belum," ucap Yos saat ditanya terkait pencemaran udara yang diduga ditimbulkan dari kotoran perternakan bebek yang dikeluhkan sejumlah warga.
Uji Sampling
Kepala Dinas Lingkungan Hidup M Harmain SSTP melalui Kabid PPLH,Yasir mengatakan, akan melakukan uji sampling atau pengujian kualitas udara ambien atau udara bebas di peternakan bebek yang diduga menimbulkan polusi udara dan pencemaran lingkungan.
"Kami akan lakukan uji sampling tingkat kebauan. Untuk limbah cair nantinya akan kita ambil, ada tidak dari kegiatan yang ditimbulkan efek limbah cair. Betul tidak itu penyebab yang menimbulkan bau," kata Yasir.
Ia pun menambahkan, jika nantinya dari uji sampling itu menyatakan hasilnya di bawah ambang baku mutu harus diterima. Pihaknya tidak ada intervensi kemana pun dalam hal ini.
"Tidak ada intervensi dan di sini kita tidak bisa bicara katanya-katanya. Jika hasil lab uji sampling menyatakan di bawah ambang baku mutu maka harus diterima," ujar Yasir.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah warga Lingkungan VIII (8) Bangsal Wonosari, Kelurahan Perdamaian, Kabupaten Langkat mengeluhkan bau tak sedap yang diduga ditimbulkan dari kotoran perternakan di wilayah tempat tinggalnya.
Rini (35) salah seorang warga yang huniannya berdomisili di Lingkungan 8 mengeluhkan bau tak sedap ini cukup meresahkan, apalagi sekarang masuk pancaroba.
"Sering hujan panas dan itu sangat menguap kali, dari pagi sampai malam, gak tau mau bagaimana bernapasnya. Bahkan hidupkan kipas pun masih tercium baunya," keluh Rini, saat ditemui wartawan di kediamanya, Jumat (13/10/2023).
Warga yang bersebelahan peternakan dengan pembatas tembok tinggi berkisar 4 meter tersebut juga mengungkapkan, dua minggu sebelumnya suaminya jumpa dengan Kepling, terus menyampaikan keluhan itu.
"Harapan kami di tengah lingkungan begini janganlah ada ternak kaya gitu, itu kan bikin sesak. Setiap hari kami disuguhkan dengan bau yang tidak sedap akibat bau yang dibawa angin ke rumah kami,” paparnya.
Untuk itu, Rini mengungkapkan, meminta agar pemilik ternak bisa memindahkan lokasi perternakan jauh dari pemukiman warga. Sebab, dari segi kesehatan udara yang dihirup sudah terkontaminasi.
“Kami berharap peternak bisa memindahkan ternaknya. Kalau setiap hari kami menghirup udara yang kotor, tentu dari segi kesehatan sudah tidak layak. Apalagi bagi anak-anak kami,” ungkap Rini.
Hal yang sama, Cinthya (23), pemilik usaha cafe dan makanan juga mengeluhkan bau tak sedap tersebut. Janganlah di dekat pemukiman ada peternakan seperti ini, baunya mengganggu apalagi pas masak di dapur, kan kita juga cari uang.
"Pagi sore uapnya luar biasa baunya, dan belakangan ada juga ternak babi. Kita terganggu dengan baunya, karena kita kan jual makanan, jadi terkadang orang enggan datang kalau tercium baunya gak enak," beberya.
Sebelumnya, Mulyatin (55) salah satu kepala keluarga yang berdomisili di Lingkungan 8, juga mengeluhkan adanya bau menyengat itu. Ia mengungkapkan kepada wartawan, sepertinya pemerintah tidak mungkin tidak mengetahui hal ini, baunya buat sesak.
"Nggak mungkin nggak tahu. Kita berharap kepada pemerintah agar peternak di sini bisa direlokasi, karena ini pemukiman warga padat penduduk. Baunya buat sesak, bahkan kita sampai malas di rumah," ungkap pria paruh baya yang saat itu bersama istrinya.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, peternakan babi yang dikeluhkan sejumlah warga sebelumnya sudah berhasil direlokasi. (**)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru