Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 08 Agustus 2026

In Release Volume 2, Hansen Teo Harap Band Indie Pede pada Karya Orisinalnya

Oki Lenore - Jumat, 07 Agustus 2026 14:10 WIB
233 view
In Release Volume 2, Hansen Teo Harap Band Indie Pede pada Karya Orisinalnya
Ist/SNN
Hansen Teo

Medan(harianSIB.com)

Sukses dalam In Realease volume 1 yang diselenggarkan pada, Sabtu (25/7), Yogi Yuwasta melanjutkan iven bagi band indie di Sumatera untuk menunjukkan kualitas karya kreatifnya. "In Realease volume 2 tak semata menampilkan band tapi talent scot international Hansen Teo," tulis pria penggagas acara tersebut, Jumat (7/8). Lokasinya tetap sama: Serayu Coffee.

Hansen Teo emang punya nata batin dalam industri kreatif. Contohnya Peterpan. Pengelola rumah dagang ET45 itu yang mendorong produser di Jakarta untuk merekrut kelompok band yang awalnya digawangi Ariel Noah tersebut. Kemudian ST12 dan banyak lagi. "Kunci sukses itu pede pada karya kreatifnya. Jangan jadi epigon. Lahirkan karya unik. Tak meniru yang sudah ada. Pasti sukses," ujarnya.

Berpengalaman banyak, pada In Realease volume 2, Hansen Teo memberi ruang dan waktu pada pelaku industri kreatif untuk sharing. Mulai kuat-kiat hingga mendemokan karyanya. "Industri kreatif menanti karta orisinal," tegasnya.

Pada malam di volume 1, menampilkan 3 band asal Medan, Merahati, Flower Child dan Brutal Pop.Penampilan yang diselingi sesi live interview ini tampil sebagai pembeda dengan gigs lainnya.

Baca Juga:
Sebagai pembuka, Merahati yang tampil tanpa sang drummer tampil cukup maksimal dengan membawakan singel terbarunya bertitel "Melupakannmu". Band yang berformasikan, Arie (gitar), Maureen (bass), Emli (gitar), Fiqri (drum) dan Beby (vokal) ini juga membeberkan sejarah singkat awal terbentuknya Merahati pada 20 April 2020.

Setelah penampilan Merahati, dilanjutkan dengan live interview band Flower Child. Band pop rock yang diperkuat, Dilla (vokal), Rizki (bass), Raki (drum) dan Faisal (gitar) tampil rapih membawakan 2 singel karya mereka dengan salah satu singel yang baru saja dirilis bertitel "Menolak Ingatan". Band yang baru terbentuk pada pertengahan tahun 2026 ini, kini sedang proses penggarapan mini album (EP) perdana.

Sebagai penutup unit alternative rock Kota Medan, Brutal Pop sukses menutup acara pada malam itu dengan sempurna. Trio berformasikan, Hasan (bass/vokal), Eko (gitar) dan Teguh (drum) ini tampil maksimal malam itu dengan membawakan 4 lagu salah satu diantaranya singel perdana mereka bertitel "Cinta Tak Boleh Ngemis" ditambah satu lagu cover "Walah" milik Netral.

Dalam sesi live interview Hasan mengungkap, nama Brutal Pop secara filosofis mereka maksudkan sebagai band yang mengusung musik pop yang senang-senang. Brutal Pop kini juga tengah proses penggarapan debut mini album (EP) perdana.

Sebelum live interview dan live perform acara yang digelar pandu MC, Array Anarcho yang juga dihadiri para wartawan berbagai media ini diawali dengan konferensi pers.

Salah seorang inisiator "In Release" Tri Harma yang juga founder entitas musik "Cumangegigs" didampingi founder "Warta Yogigs", Yogi dan Founder Anamatope, Atta menyampaikan, "In Release" ini terselenggara beranjak dari kurangnya ruang bagi musisi/band di Kota Medan dalam mengamplifikasi karyanya agar bisa dijangkau pendengar yang lebih luas lagi, tiga orang pendiri entitas berbeda yang fokus pada musik Medan, sepakat berkolaborasi coba mendorong band-band Medan dalam menyebarluaskan karyanya. In Realease memang bukan sekadar gigs, event yang nantinya juga di support salah satu live space "Serayu Kopi" ini menawarkan konsep yang tak sekadar pertunjukkan musik saja. In Realease menawarkan konsep gigs yang informatif lewat live interview yang ngulik lebih mendalam soal band dan karya-karyanya.

"Kalau gigs pada umumnya di Medan fokus pada perfomance band. Bahkan terkadang penonton tidak tahu ini siapa band yang tampil dan apa judul karya atau lagu yang mereka bawakan. Di Indonesia Realease kita bakal mengulik perjalanan band dan membedah karya-karyanya dari POV para pewawancara. Tanpa menghakimi menilai karya musisi yang tampil seperti ajang pencarian bakat," ungkap Tri Harma salah seorang inisiator.

Dan yang paling urgent, In Realease ini juga menjadi sarana promo dan eksposure untuk band-band yang punya karya sendiri. "Kita di sini mengutamakan band karya, bukan band coveran. Karena bagi kami band Medan yang punya karya patut diberi eksposure lebih karena kita gak kalah dengan band-band di luar Sumatera,"ungkap Trie.

Acara yang dipandu MC Array Anarcho ini berjalan lancar dan ditutup dengan sesi foto bersama dengan para penampil, wartawan dan penyelenggara acara.(*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Barekraf RI Anugerahkan Gelar Pelestari Musik pada Hansen Teo
komentar
beritaTerbaru