Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 29 Juni 2026

Gaslighting: Ketika Kebenaran Dibuat Terasa Salah

Oleh: Tonggo Robby Pardede
Redaksi - Minggu, 28 Juni 2026 22:42 WIB
186 view
Gaslighting: Ketika Kebenaran Dibuat Terasa Salah
harianSIB.com/Dok
Tonggo Robby Pardede

(harianSIB.com)

Perkembangan media sosial dan dinamika politik belakangan ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana fakta dan mana rekayasa. Informasi yang benar maupun yang keliru kerap dikemas dengan sangat rapi sehingga tampak sama-sama meyakinkan. Di tengah situasi seperti itu, muncul satu istilah yang semakin sering dibicarakan, yakni gaslighting.

Istilah gaslighting berasal dari karya fiksi Gaslight, yang diadaptasi dari drama panggung tahun 1938. Ceritanya mengisahkan seorang suami yang berusaha membuat istrinya percaya bahwa dirinya telah kehilangan kewarasan. Salah satu caranya adalah meredupkan lampu gas di rumah. Ketika sang istri menyadari cahaya lampu menjadi redup dan mempertanyakannya, sang suami terus-menerus menyangkal dengan mengatakan bahwa lampu tidak berubah. Bahkan, ia menuduh istrinya hanya berhalusinasi atau salah mengingat.

Manipulasi itu dilakukan berulang kali hingga akhirnya sang istri mulai meragukan apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang ia ingat, bahkan kewarasannya sendiri.

Dari kisah tersebut lahirlah istilah gaslighting, yang kini digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan tindakan manipulatif yang dilakukan secara sistematis agar seseorang meragukan persepsi, ingatan, atau realitas yang dialaminya sendiri.

Baca Juga:
Dalam kehidupan sehari-hari, praktik gaslighting dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang berkata kasar, tetapi ketika diingatkan justru menjawab, "Saya tidak pernah mengatakan itu. Kamu mengada-ada." Contoh lain, seorang atasan mengubah instruksi yang pernah diberikan, kemudian menyalahkan bawahannya dengan mengatakan, "Saya sudah bilang dari awal. Kamu saja yang tidak ingat."

Karena itu, gaslighting bukan sekadar kebohongan biasa. Yang membedakannya adalah adanya tujuan untuk membuat orang lain kehilangan kepercayaan terhadap penilaian dan ingatannya sendiri sehingga lebih mudah dipengaruhi atau dikendalikan.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
FMMAKP Desak DPRD Sumut Buka Anggaran Ratusan Miliar Secara Transparan
Imigrasi Sumut Perkuat Sinergi Dengan Insan Pers, Gaungkan Semangat Imigrasi untuk Rakyat
Digital Evidance dan Tantangan Pembuktian Kejahatan Berbasis Kecerdasan Buatan
Satreskrim Polres Tanjungbalai Ungkap Sindikat Pemalsuan Data Elektronik, 16 Orang Tersangka
7 Tersangka Narkoba Ditangkap Polres Batubara di 4 Lokasi Berbeda
Polda Sumut Gerebek Rumah Pengedar Sabu di Medan Denai
komentar
beritaTerbaru