Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026

Mendikbud: PPK Pintu Masuk Pembenahan Pendidikan Nasional

- Senin, 17 Juli 2017 16:47 WIB
748 view
Jakarta (SIB)- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyebut kebijakan penguatan pendidikan karakter (PPK) salah satu upaya membenahi pendidikan Indonesia.

"Jadi, PPK ini merupakan pintu masuk untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap pendidikan kita," kata Mendikbud dalam Pembukaan Rapat Koordinasi dan Diskusi Kelompok Terpumpun Tim Implementasi PPK di Jakarta, Jumat (7/7).

Mendikbud menjelaskan, PPK hanya memperkuat Kurikukum 2013 (K-13) yang sudah memuat pendidikan karakter. Namun, ia mengatakan, dalam penerapannya dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler agar lebih memiliki muatan pendidikan karakter.

Selain itu, ia melanjutkan, pemerintah juga menambahkan kegiatan dalam kokurikuler dan ekstrakurikuler. Pemerintah berharap, integrasi ketiganya dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak didik.

"Prinsipnya, manajemen berbasis sekolah, lalu lebih banyak melibatkan siswa pada aktivitas daripada metode ceramah, kemudian kurikulum berbasis luas atau broad based curriculum yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar," ujar Muhadjir.

tidak ada program full-day school
Sehari sebelumnya, Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak ada rencana membuat program sekolah satu hari penuh atau "full day school".

"Saya tegaskan saya tidak punya niat, Kemdikbud tidak ada rencana untuk program full day school," kata Muhadjir saat menyampaikan pidato pada lokakarya guru di Labschool Jakarta.

Muhadjir menjelaskan program yang dimaksud ialah program penguatan karakter siswa melalui kurikulum yang sudah ada tanpa mengganti dengan kurikulum baru.

Muhadjir menjabarkan dirinya berpedoman pada visi Presiden yang tertuang pada Nawa Cita dalam membuat program penguatan karakter.
"Dalam Nawa Cita jelas, program pendidikan karakter porsinya 70 persen, sisanya untuk ilmu pengetahuan," ujar Muhadjir.

Muhadjir yang mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang berpendapat dengan porsi pendidikan karakter sebesar 70 persen dan sudah berjalannya Kurikulum 2013, memerlukan kebijakan baru untuk penguatan pendidikan karakter tanpa mengubah kurikulum yang sudah berjalan.

"Maka perlu ada penguatan karakter, penguatan saja," kata Muhadjir.

Dia juga menerangkan bahwa penerapan delapan jam di sekolah juga bukan berarti belajar di kelas selama delapan jam, melainkan diisi dengan kegiatan lain di tempat lain.

"Delapan jam di sekolah, di kelas, jangankan anak-anak, guru juga nggak kuat," kata dia.

Menurut Muhadjir memaksakan anak didik belajar selama delapan jam di sekolah tidak sesuai dan tidak efektif.

Dalam pidatonya Muhadjir berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana membuat program sekolah satu hari penuh.

Bahkan dia berusaha meyakinkan dengan meminta wartawan mengecek dokumen atau anggaran yang menjadi bukti adanya program "full day school" di Kemendikbud. (Ant/RoL/h)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru