Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 25 April 2026
Kondisi Ruangan di SMPN 2 Medan Sangat Tidak Representatif

Asbes Rendah, Siswa dan Guru Kepanasan Terpaksa Gunakan Kipas Angin Bertenaga Baterai

- Senin, 07 Agustus 2017 20:32 WIB
711 view
Medan (SIB) -Di tengah besarnya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan dengan menaikkan alokasi anggaran pendidikan di APBN dan APBD Provinsi serta APBD kabupaten/kota, ternyata di Kota Medan masih ditemukan ruang sekolah yang sangat tidak representatif. Mirisnya lagi, kondisi tersebut terjadi di SMP yang paling difavoritkan di kota ini yakni SMPN 2 yang berada di Jalan Brigjen Katamso Medan di kawasan Avros Polonia.

Kebetulan letak SMPN 2 ini berada di lingkungan pemukiman penduduk dan dipagar tembok  yang mengakibatkan posisinya terkesan terkurung dan sirkulasi udara serta angin yang minim masuk ke ruang sekolah.

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena keberadaan asbes ruang kelas yang relatif rendah dibandingkan bangunan biasanya. Rendahnya asbes membuat ruang kelas mudah panas karena sirkulasi udara yang tidak luas karena sempitnya ruangan.

Sementara fasilitas AC belum ada di ruang kelas dan dari pantauan SIB, Kamis (3/8) terlihat di dinding kelas ada kipas angin namun tidak bisa dipakai karena sudah rusak.

Akibatnya sejumlah siswa terpaksa meminta kepada orangtuanya dibelikan kipas angin kecil bertenaga baterai. Inilah yang kemudian dipakai sejumlah siswa ketika cuaca panas terutama di jam-jam pelajaran siang. Para guru pun terpaksa membeli kipas angin kecil bertenaga baterai untuk menghilangkan kegerahan.

Sementara yang tak mampu membeli kipas angin bertenaga baterai terpaksa membeli kipas angin biasa dan sebagian menggunakan buku tulis sebagai alat kipas mengusir gerahnya suasana di ruang kelas.

B Pasaribu warga Avros Polonia mengaku telah membeli kipas angin kecil bertenaga baterai sejak tahun lalu untuk dipakai anaknya yang kini duduk di kelas VIII SMPN 2.

"Saya memang sudah lihat kondisi ruang kelas yang sempit dan asbesnya rendah. Kalau siang memang sangat panas dan gerah. Wajar saja kalau anak saya dan teman-temannya terpaksa minta dibelikan kipas angin baterai," kata Pasaribu.

Ia menyayangkan mengapa di salah satu SMPN terfavorit di kota besar seperti Medan masih ditemukan kondisi seperti itu.

"Ini kan sangat miris. Masya di tengah kota metropolitan di sekolah favorit siswanya kegerahan sampai harus bawa kipas angin sendiri," ucapnya.

Sementara itu, sejumlah orang tua siswa lainnya menyebut SMPN 2 merupakan sekolah tingkat SMP terfavorit yang banyak diminati orang tua agar anaknya bisa bersekolah di situ. Tidak heran jika awalnya sekolah ini hanya menampung 7 kelas baru untuk siswa kelas VII. Namun kata para orang tua yang berdomisili di kawasan Avros setelah 2 minggu kegiatan belajar mengajar dimulai, ada lagi penambahan siswa baru dan tambahan kelas baru.

Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMP Negeri 2 Medan  Sitara yang dikonfirmasi SIB, Kamis (3/8) mengakui kondisi ruang kelas di sekolah tersebut tidak difasilitasi AC ataupun kipas angin. Hal itu membuat para murid bahkan guru mengalami kepanasan saat proses belajar mengajar.

"Jangankan murid, guru saja kepanasan," sebut dia di ruang kerjanya.

Sitara mengakui kondisi yang membuat ruang kelas panas dikarenakan jarak lantai ke asbes sangat dekat. "Memang kemarin ruang kelas sempat direnovasi tapi hanya lantai yang dinaikkan sedangkan asbesnya tidak dinaikkan. Jadi jaraknya dekat antara asbes dan lantai. Itulah salah satu yang membuat di ruang kelas panas," ungkapnya.

Disebutkan, persoalan di ruang kelas yang panas sebelumnya telah dibahas pihak SMP Negeri 2 Medan. Tapi lantaran anggaran untuk membeli AC dan kipas angin tidak ada, keluhan  itu belum terealisasi.

"Kalau dana BOS kan tidak bisa digunakan untuk itu," ucapnya sembari mengatakan kalau kepala sekolah tidak ada di tempat.

Dia juga mengakui kalau, situasi panas seperti itu bisa membuat proses belajar mengajar terkendala. "Iya memang benar para murid terganggu belajar karena kepanasan," jawabnya.

Ketika disinggung mengenai fasilitas lain seperti yang dikabarkan pintu kamar mandi tidak ada, Sitara tidak membantahnya. "Setahu saya ada, kalau emang gak ada berarti sedang diperbaiki atau rusak," jawabnya.

Menanggapi adanya tambahan siswa dia menyebutkan, ketika tahun ajaran baru 2017/2018, SMP Negeri 2 Medan melakukan penambahan sebanyak tiga kelas. Hal itu dilakukan, karena permintaan sangat banyak.

"Iya memang ada penambahan tiga kelas, berarti semuanya ada 10 kelas. Itu semua sudah diajukan ke Dinas Pendidikan dan sudah di acc-kan," tambah Sitara. Namun ia tidak merinci sistem penerimaan siswa tambahan tersebut. (R18/A18/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru