Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 06 Oktober 2026

Perjuangan Kartini Masih Relevan

- Senin, 22 April 2019 12:55 WIB
350 view
Angkatan tenaga kerja di seluruh negara ternyata masih didominasi kaum pria. Hal ini menunjukkan angkatan kerja perempuan masih rendah. Perjuangan kesetaraan gender yang sudah lama digaungkan, seharusnya sudah berhasil membuat pria dan perempuan berada di posisi sejajar.

Partisipasi angkatan kerja pria di Indonesia mencapai 83 persen, sedangkan perempuan hanya 54 persen. Berarti hampir setengah perempuan tidak masuk dunia kerja. Gaji yang diterima perempuan secara rata-rata income lebih rendah 32 persen dari pria. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) upah buruh pria di 2018 rata-rata sebesar Rp 3,6 juta, sementara perempuan di angka Rp 2,4 juta.

Rendahnya tingkat partisipasi dalam dunia kerja tersebut dipicu stigma yang dihadapi perempuan sejak kecil hingga dewasa. Mereka dianggap lemah atau lebih cocok hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Upah yang lebih rendah dari pria dikarenakan adanya anggapan perempuan kurang berkontribusi di tempat kerjanya.

Menurut laporan Coconuts.co, hak-hak perempuan di Indonesia masih harus diperjuangkan. Di beberapa daerah di Jawa Timur, setengah dari anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Lebih dari 41 persen perempuan Indonesia melaporkan mengalami beberapa bentuk kekerasan fisik, sosial, ekonomi dan emosional. Lalu, diperkirakan 60 juta wanita juga telah mengalami mutilasi genital.

Keterwakilan perempuan dalam dunia politik juga masih sangat rendah. Padahal sudah ada ketentuan kuota 30 persen bagi perempuan. Faktanya, dari 100 anggota DPRD Sumut hanya 15 perempuannya. Dari 33 kabupaten dan kota, masih ada daerah yang tidak memiliki anggota DPRD perempuan, yaitu Kabupaten Pakpak Bharat dan Nias.

Keterlibatan perempuan dalam politik sangat penting. Sebab kebijakan negara berupa UU digodok di parlemen. Jika jumlah perempuan minim di sana, bagaimana mereka bisa memengaruhi dan memerjuangkan hak kaumnya.

Itu sebabnya perempuan perlu didorong berpolitik. Tak cukup hanya mengandalkan kuota 30 persen saja. Tentu saja modal utama masuk dunia politik adalah pendidikan. Kemudian meningkatkan kualitas dan solidaritas sesama perempuan.

Sebenarnya sudah banyak perempuan yang berkualitas dalam pemerintahan Jokowi. Sebut saja Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Retno Marsudi, Nila Moloek, Puan Maharani dan Yohana Yembise. Mereka adalah pewaris perjuangan Kartini di abad digital ini. Karya mereka sudah tercatat dalam sejarah bangsa.

Namun masih banyak perempuan lainnya yang mengalami diskriminasi. Perjuangan Kartini masih relevan untuk diteruskan. Perempuan Indonesia harus bangkit, tidak hanya menjadi sejajar saja dengan pria. Tetapi lebih dari itu, harus menghasilkan karya yang membanggakan bangsa dan negara. Selamat Hari Kartini. (**)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru