Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Tiga Penyebab Utama Jalan di Indonesia Cepat Rusak, Dosen Teknik Sipil Beberkan Faktor Kuncinya

Redaksi - Jumat, 05 Desember 2025 13:00 WIB
854 view
Tiga Penyebab Utama Jalan di Indonesia Cepat Rusak, Dosen Teknik Sipil Beberkan Faktor Kuncinya
Foto: Dok/Int
Jalan berlubang digenangi air

Jakarta(harianSIB.com)

Jalan merupakan infrastruktur dasar yang sangat penting bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Namun, kualitas jalan di Indonesia kerap menjadi sorotan.

Banyak ruas cepat berlubang, bergelombang, atau rusak meski baru beberapa bulan selesai dibangun. Kondisi ini terus berulang dan sering dibiarkan bertahun-tahun.

Dosen Teknik Sipil Universitas Tangerang Raya (Untara), Rizki Wahyudi, mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat jalan di berbagai daerah di Tanah Air mudah mengalami kerusakan.

Rizki menjelaskan, penyebab pertama adalah maraknya truk ODOL (over dimension over loading), yakni kendaraan yang melebihi batas maksimum dimensi dan/atau muatan yang telah ditetapkan.

Baca Juga:
Banyak truk membawa beban jauh di atas tonase yang diizinkan, padahal setiap lapis perkerasan jalan dirancang untuk menahan beban tertentu.

"Pada dasarnya ada tiga penyebab utama kerusakan jalan. Yang pertama adalah kendaraan ODOL," ujar Rizki saat dihubungi, Kamis (4/12/2025), seperti dilansir Kompas.com.

Menurutnya, truk pengangkut material tambang atau hasil perkebunan yang kelebihan muatan membuat jalan lebih cepat rusak, ditandai retak buaya, amblas, hingga gelombang.

Faktor kedua adalah buruknya kualitas drainase. Banyak ruas jalan di Indonesia tidak memiliki sistem drainase memadai, bahkan ada yang tanpa drainase sama sekali. Hal ini sangat berisiko mengingat Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan tinggi.

"Genangan air adalah musuh utama jalan berperkerasan lentur (aspal)," jelas Rizki yang pernah bekerja di perusahaan kontraktor dan pengawas jalan.

Dijelaskannya, air yang meresap ke struktur perkerasan dapat melemahkan daya dukung tanah dan agregat sehingga aspal mudah terkelupas. Tanpa perbaikan drainase, kerusakan akan terus berulang meski tambal sulam dilakukan berkali-kali.

Faktor ketiga adalah ketidaktepatan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan konstruksi jalan. Setiap jalan memiliki desain dan kapasitas berbeda sesuai fungsi dan jenis kendaraan yang melintas.

Namun, sering kali desain tidak sesuai kondisi lapangan, misalnya jalan desa yang mendadak menjadi jalur tambang atau logistik.

"Setiap jalan memiliki klasifikasi dan kapasitas berbeda untuk beban yang mampu dipikulnya," tegas Rizki.

Perubahan fungsi jalan tanpa penyesuaian struktur membuat jalan cepat rusak. Selain itu, lemahnya pengawasan serta ketidaktepatan pelaksanaan konstruksi juga turut memperburuk kualitas jalan di Indonesia. (*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Reses Dapil V DPRD Medan, Masyarakat Medan Utara Harapkan Pembenahan Infrastuktur
Adopsi Hasil Reses, Ketua DPRD Medan Henry Jhon Hutagalung Berhasil Perjuangkan Pembangunan Infrastuktur dan Drainase
Mahasiswa Demo Dinas PU dan Kantor Bupati Asahan, Soroti Lambatnya Pembangunan Infrastuktur
Ketua Komnas PA Indonesia : Pemerintah Harus Siapkan Infrastuktur dan Beri Makan Siswa Gratis
Sofyan Djalil: Infrastuktur Kita Ketinggalan dalam Skala yang Parah
Presiden Jamin Tidak Ada Pengurangan Belanja Infrastuktur
komentar
beritaTerbaru