Ana mengatakan, setelah pembicaraan selesai, bawahannya berdiri dan mengajaknya bersalaman. Dalam momen tersebut, ia mengaku melakukan sebuah gestur secara spontan yang menurutnya dimaksudkan sebagai bentuk dukungan moral.
"Dalam momen tersebut terdapat gestur spontan yang saya maksudkan sebagai bentuk dukungan moral dan motivasi," katanya.
Ana menegaskan tidak ada maksud untuk melakukan pelecehan terhadap bawahannya. Ia juga membantah adanya kontak fisik lain sebagaimana informasi yang beredar.
"Saya perlu menegaskan bahwa saya tidak pernah melakukan tindakan yang dimaksudkan untuk merendahkan, mempermalukan, menjatuhkan, apalagi melecehkan secara seksual. Saya sangat menghormati harkat dan martabat yang bersangkutan," katanya.
"Sehingga informasi atau berita yang beredar tidak benar. Dan faktanya, yang terjadi adalah berjabat tangan disertai gestur spontan, dan tidak terdapat kontak fisik lain di luar itu," sambungnya.
Ana juga menyebut tidak ada persoalan lanjutan antara dirinya dan bawahannya setelah kejadian tersebut. Menurut dia, aktivitas kedinasan tetap berjalan seperti biasa.