Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 31 Agustus 2026

Bunga KPR Indonesia Paling Tinggi di Asia Tenggara

*Bisa Picu Lonjakan Kredit Macet
- Selasa, 26 Agustus 2014 13:52 WIB
383 view
 Bunga KPR Indonesia Paling Tinggi di Asia Tenggara
Jakarta (SIB)- Bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Indonesia rata-rata berada di kisaran 13%. Bunga ini termasuk yang paling tinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Tingkat bunga KPR di Indonesia berada di kisaran 7,5%-17%. Bunga KPR terendah yaitu 7,5% tadi adalah KPR untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari pemerintah.

Sedangkan bunga double digits yang bisa sampai mendekati 15% diberikan oleh bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta. Sementara di Bank Pembangunan Daerah (BPD) bunganya bisa sampai mendekati 18%.

Coba kita tengok suku bunga di Filipina yang saat ini pertumbuhan ekonominya sedang tinggi. Negara berkembang ini memberikan suku bunga KPR di kisaran 5,25% sampai 12,25%.

Bunga terendah di Filipina diberikan oleh Philippine National Bank (PNB) yaitu sebesar 5,25% untuk cicilan satu tahun. Jika memilih untuk mencicil 20 tahun maka bunganya 10,75%, masih lebih kecil dari di Indonesia.

Sedangkan bunga yang tertinggi 12,25% diberikan oleh bank swasta setempat tapi dengan jangka waktu cicilan hingga 30 tahun.

Menurut Analis Perbankan OSO Securities Supriyadi, tingginya suku bunga KPR ini memicu tingginya angka kredit macet atau NPL perbankan. "Kenaikan bunga KPR akan meningkatkan NPL. Bagi yang belum ngambil rumah, ini akan mengerem permintaan properti," kata Supriyadi saat dihubungi terpisah, Senin (25/8).

Dia menjelaskan, kenaikan bunga KPR ini ada dampak positif dan negatifnya. Dari sisi negatif, kenaikan bunga KPR yang terus merangkak bisa menimbulkan tingginya kredit macet.

Hingga Juni 2014, secara nasional rata-rata kredit macet perbankan mencapai 2,18%. Menurutnya, angka kredit macet tersebut masih terjaga meskipun secara amannya angka NPL berada di bawah 2%. "NPL per Juni 2,18%, masih terjaga, harapan di bawah 2%, itu aman. Kalau sudah di atas 5% itu baru bahaya," katanya.

Dari sisi positif, Supriyadi menyebutkan, kenaikan bunga KPR ini akan mengerem laju pertumbuhan permintaan properti yang bisa menyebabkan kondisi bubble.
"Di China itu bunga KPR nya lebih tinggi dari kita. Itu sengaja agar bisa mengerem laju permintaan properti. Di sana sudah terlalu tinggi permintaannya tapi tidak disupport kondisi riil jadi bubble. Daripada bubble jadi bunga KPR dinaikkan," tandasnya.(dtf/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru