Jakarta (SIB) -Panglima TNI selaku KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, KSAD Jenderal Mulyono dan KSAL Laksamana Ade Supandi 'jalan-jalan' mengarungi langit Rabu pagi menggunakan 4 pesawat Sukhoi SU-30 MK 2 milik TNI AU. Kegiatan ini diinisiasi Marsekal Hadi dalam rangka pemberian brevet wings, tanda penerbang kehormatan kepada Kapolri, KSAD dan KSAL.
Kurang lebih 30 menit berada di ketinggian, keempat pesawat Sukhoi mendarat mulus di Lanud Halim Perdanakusuma. Usai kegiatan tersebut Hadi mengaku berhasil mengerjai Kapolri, KSAD, dan KSAL.
"Saya yakin Kapolri, KSAD dan KSAU merasakan sensasi terbang dengan Sukhoi," kata Hadi di gedung Suma, Pangkalan Lanud Halim Perdanakusuma.
Sensasi yang dimaksud Hadi adalah terbang bersama pesawat tempur dan proses pendaratan pesawat dengan menggunakan drag chute. "Saya yakin beliau bertiga tidak expect kalau ngerem-nya pesawat menggunakan drag chute," sambung Hadi.
Drag chute adalah komponen yang ada di pesawat tempur, berbentuk payung seperti parasut yang terletak di ekor pesawat. Fungsinya untuk menurunkan laju pesawat sesudah mendarat.
"Sehingga semuanya, saya yakin, bertiga kaget semua. Tapi itulah yang memang saya sampaikan ke pilot agar tidak usah dikasih tahu nanti kalau nge-break (nge-rem) agar menggunakan drag chute. Biar bisa merasakan sensasinya," ujar Hadi disambut tawa Kapolri, KSAD, KSAL.
Hadi menerangkan tujuan besar kegiatan ini adalah untuk menunjukkan soliditas TNI dan Polri. "Tujuan besarnya (kegiatan) adalah kita menunjukkan bahwa soliditas TNI-Polri yang kita bina selama ini, kita pertahankan dan akan semakin kuat," terang Hadi.
BREVET WINGS
Seusai terbang dengan Sukhoi, TNI AU memberikan Brevet Wings atau penerbang kehormatan kepada Kapolri, KSAD, dan KSAL.
Upacara pemberian brevet dipimpin langsung Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang masih menjabat KSAU di Lanud Halim Perdanakusuma.
Hadi menerangkan awalnya ingin mengajak Kapolri, KSAD, dan KSAL terbang dengan formasi 2 versus 2. Tetapi rintik hujan yang turun membuat rencana batal dan akhirnya hanya melakukan formasi right echelon.
"Cuaca karena memang kurang bagus jadi hanya exercise itu (right echelon) yang kita laksanakan. Rencananya mau kita laksanakan adalah exercise 2 V 2," ujar Hadi.
Hadi menjelaskan formasi 2 V 2 adalah dua pesawat tempur lawan dua pesawat tempur di udara. Formasi tersebut biasanya digunakan untuk mengunci posisi pesawat musuh di udara.
"Dua lawan dua di udara adalah exercise yang biasa kita lakukan apabila kita melakukan intersect (memotong) pesawat-pesawat musuh dan itu pun dikendalikan radar yang ada di bawah atau ground control intersection," jelas Hadi.
BIASA NANGKAP MALING
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku terbang dengan Sukhoi SU-30 MK 2 milik TNI Angkatan Udara adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat tempur. Tito mengungkapkan rasa bangga dapat menaiki salah satu pesawat tempur yang disebutnya tercanggih di dunia itu.
"Ini pertama kali naik pesawat tempur. Tapi saya terus terang nyaman naik pesawat ini karena kecepatannya kalau tidak dimanuver, nyantai saja, dia seperti naik Mercy, ya," kata Tito.
"Jadi 30 menit lumayan ya terbang dan ini saya merasa sangat beruntung karena kalau nggak jadi Kapolri, mungkin saya nggak terbang naik Sukhoi, pesawat salah satu yang tercanggih di dunia," sambung Tito.
Saat ditanya sensasi naik Sukhoi, Tito mulai berkelakar. Dia menceritakan awalnya merasa nyaman, namun saat pesawat mulai bermanuver, dia merasa pusing dan mual.
"Kesannya nyaman naik pesawat ini... awalnya. Setelah itu dibawa manuver belok kanan, kiri, ke atas, ke bawah, kepala pusing juga," ujar dia sambil tertawa. "Biasa nangkap maling sekarang diajak naik pesawat," imbuh dia.
Namun Tito menyebut pengalaman menaiki Sukhoi menjadi pengalaman berarti seumur hidupnya. Dia menerangkan kegiatan ini tak hanya untuk menjalin hubungan baik antara dirinya dan Panglima TNI, KSAD, serta KSAL secara personal. Lebih dari itu Tito berharap kemesraan pimpinan Polri dan TNI dapat menular ke jajaran bawah.
"30 menit ini memberi arti bagi saya seumur hidup. Kegiatan ini bukan hanya menjalin hubungan yang lebih baik secara personal antara Panglima TNI, Kapolri, KSAD dan KSAL, yang hari ini kaki 30 menit mengarungi udara Indonesia bersama pesawat kebanggaan kita, Sukhoi," tutur Tito.
"Momentum ini juga memberi dampak yang luas kepada institusi, hubungan antara Polri dan TNI. Saya harap kebersamaan ini juga akan mewarnai di jajaran TNI dan Polri untuk tetap kompak di masa mendatang karena TNI dan Polri adalah dua pilar yang paling utama dalam peran menjaga keutuhan NKRI," lanjut Tito.
AKSI PRAJURIT KOSTRAD
Para prajurit Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pamer kemampuan di depan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Salah satunya memakan ular kobra.
Marsekal Hadi untuk pertama kalinya sebagai Panglima TNI berkunjung ke Markas Divisi Infanteri 1 Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Rabu (20/12). Dia tiba di lokasi menggunakan helikopter.
Marsekal Hadi datang bersama KSAD Jenderal Mulyono dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Jaswandi. Kehadiran mereka langsung disambut hangat oleh Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi.
Kehadiran Hadi disambut riuh yel-yel para prajurit Kostrad. Ada 2.200 prajurit Kostrad yang bersiaga di lapangan hitam Madifiv 1 Kostrad. Berbagai alutsista juga disiagakan.
Para prajurit juga sempat mendemonstrasikan berbagai kemampuan di depan Marsekal Hadi, termasuk bela diri. Pada kesempatan ini, Pasukan Taipur (Intai dan Tempur) Kostrad mencuri perhatian dengan pakaian mereka yang serbahitam.
Para prajurit Taipur Kostrad ini tampak membawa ular kobra. Di depan Marsekal Hadi, mereka menggigit tubuh ular berbisa itu dengan buas. Darah ular itu juga mereka minum.
Aksi dengan ular kobra itu untuk menunjukkan prajurit Kostrad terlatih di segala medan tempur. Dalam kondisi perang, prajurit Kostrad tahu bagaimana cara bertahan hidup, termasuk dengan memburu dan memakan ular.
Dalam kesempatan ini, Marsekal Hadi akan melihat berbagai kesiapan alutsista Kostrad. Dia juga akan memberi pengarahan kepada seluruh prajurit.
(detikcom/h)