Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Sel di Paru-paru dan Tulang Lebih Rentan Terserang Kanker

* Angka Harapan Hidup Pasien Kanker Meningkat Jika Memiliki Pasangan
- Minggu, 06 Maret 2016 17:11 WIB
293 view
Jakarta (SIB)- Ada puluhan macam kanker, namun tidak semuanya memiliki perkembangan keganasan yang sama. Hanya beberapa jenis yang jauh lebih cepat berkembang. Peneliti berusaha mengungkapnya. Termasuk mengungkap bagian tubuh mana yang lebih rentan terkena penyakit ini.

Ilmuwan di University of Pennsylvania menuturkan, sel di paru-paru dan tulang lebih rentan terserang kanker. Alasannya pada sel-sel ataupun struktur jaringan yang padat lebih sulit memperbaiki DNA yang rusak ataupun mutasi genetik penyebab kanker.

Dikutip dari Daily Mail, Kamis (3/3) jika ada tumor di jaringan padat seperti tulang dan paru-paru, kecenderungan mutasi genetiknya 100 kali lebih tinggi ketimbang jaringan lunak.

Menurut ilmuwan, ketika kanker menyerang jaringan lunak, seperti otak dan sumsum tulang, maka kelainan genetiknya cenderung lebih rendah. Diyakini ini terkait dengan tekanan yang diberikan sel kanker saat berpindah dan membelah. Semakin padat suatu jaringan maka tubuh lebih sulit memperbaiki DNA yang rusak.

"Kami berhipotesis bahwa jaringan kaku dengan matriks padat dan konstriksi lebih kecil menyebabkan lebih banyak deformasi yang merusak inti sel," kata Dr Jerome Irianto, dari University of Pennsylvania.

Para peneliti juga membuat percobaan di mana sel-sel kanker dibuat untuk bermigrasi melalui filter plastik tipis dengan lubang-lubang kecil. Ketika sel dipaksa bermigrasi melalui lubang selebar 3 mikrometer, diketahui lebih banyak mengakibatkan kerusakan DNA ketimbang saat melewati lubang selebar 8 mikrometer.
"Kanker perlu melakukan invasi untuk menyebar, dan invasi itu bisa menyebabkan mutasi," ucap Irianto.

Penelitian ini telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan Biophysical Society di Los Angeles.
Meningkat
Pasien kanker dikatakan pakar akan hidup lebih lama jika memiliki pasangan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian terbaru dari Australia.

Katie Clift dari Queensland University of Techology and Cancer Council mengatakan, dukungan dari pasangan bisa jadi membuat pasien kanker lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Adanya semangat ini membuat pengobatan menjadi lebih manjur dan angka harapan hidup pasien meningkat.

"Sebaliknya, penelitian kami menemukan pasien kanker yang tidak memiliki pasangan, baik pria maupun wanita, akan meninggal lebih cepat dibandingkan dengan pasien lainnya yang sudah menikah atau memiliki pasangan hidup. Hal ini berlaku untuk seluruh tipe penyakit kanker," tutur Clift, dikutip dari ABC Australia.

Penelitian Clift dilakukan kepada 170.000 kasus kematian akibat kanker antara tahun 1996 hingga 2012. Mereka yang tidak memiliki pasangan meninggal dalam waktu 10 tahun setelah didiagnosis kanker.

Lalu, apakah ini berarti memiliki pasangan memperpanjang angka harapan hidup pasien? Clift berkata hal itu bisa saja terjadi. Meskipun penyebabnya belum jelas, memiliki pasangan diketahui memberikan banyak efek positif.

Clift menjelaskan pasangan berfungsi besar dalam memengaruhi kondisi psikososial pasien. Dukungan dari pasangan akan membuat pasien merasa lebih nyaman untuk berjuang dan melakukan pengobatan.

"Mereka yang memiliki pasangan menjalani gaya hidup yang lebih sehat, memiliki sumber daya finansial yang lebih baik, dukungan sosial sekaligus dukungan moral yang membantu aspek psikososial pasien," tutur Clift. (dth/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru