Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Minuman Beralkohol Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

* Pengobatan Kanker Payudara Pria dan Wanita Tak Bisa Dipukul Rata
- Minggu, 20 Maret 2016 19:54 WIB
269 view
Jakarta (SIB)- Mau terhindari dari peningkatan risiko penyakit seperti kanker payudara? Salah satu langkah sehat yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghindari asupan minuman beralkohol.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Plos One menyebutkan bahwa alkohol meningkatkan respons estrogen dalam mendorong pertumbuhan sel-sel kanker payudara. Selain itu, alkohol juga dapat mengurangi efek dari beberapa jenis obat kanker.

"Tingkat yang lebih tinggi dari hormon estrogen berhubungan dengan risiko kanker payudara yang lebih besar," tutur Chin-Yo Lin, peneliti dari University of Houston, seperti dikutip dari Times of India, Rabu (16/3).

Paparan alkohol dalam jangka panjang juga diketahui dapat memengaruhi beberapa mekanisme tubuh terkait kanker. Oleh sebab itu, Lin menganjurkan bagi Anda yang hobi mengonsumsi minuman beralkohol untuk segera menghentikannya.

Selain minum minuman beralkohol, faktor lain yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara adalah kegemukan.

Seperti telah dipublikasikan dalam Journal of Cancer Research, peneliti dari University of Miami dan University of Granada menemukan bahwa lemak yang mengelilingi tumor atau disebut juga lemak peritumoral, sangat mungkin untuk melebar dan menyatu dengan sel induk kanker. Sel ini sendiri berkaitan langsung dengan pertumbuhan tumor.

Sel-sel kanker ini memang ditemukan pada tumor dalam jumlah kecil, namun jumlahnya bisa membesar bergantung pada gaya hidup orang tersebut. Yang mengkhawatirkan, kemoterapi dan radioterapi konvensional tidak mampu menghilangkan sel-sel ini. Inilah sebabnya setelah tahap pertama pengobatan, seringkali kanker kambuh kembali.

Tak Bisa Dipukul Rata
Sementara itu, baik wanita maupun pria sama-sama berisiko terserang kanker payudara. Namun penelitian terbaru mengungkap penanganannya tak bisa disamakan alias sama sekali berbeda.

Fakta ini didapat peneliti setelah mengamati 1.500 pria yang mengidap kanker payudara dari 9 negara. Hasilnya, pria seringkali dirugikan dengan pengobatan yang diberikan kepadanya.

Pertama, sebagian besar dokter masih beranggapan bahwa secara biologis, payudara pria dan wanita tak ada bedanya. Kedua, riset tentang kanker payudara pada pria jarang dilakukan, sehingga peneliti-peneliti sebelumnya tidak pernah mengungkap adanya perbedaan ini.

Total ada tiga perbedaan utama yang ditemukan peneliti dari Erasmus Medical Centre di Rotterdam, di antaranya kanker pada payudara pria menyerang jaringan ikat yang berbeda. Selain itu, sel-sel kanker yang terkandung di dalamnya juga berbeda dari yang menyerang wanita.

Terakhir, sistem imun atau kekebalan tubuh pria memberikan respons yang berbeda saat payudara mereka diserang kanker. "Harapan kami, temuan ini bisa menjadi panduan pilihan pengobatan yang lebih baik untuk pasien pria di masa depan," kata ketua tim peneliti, Dr Carolien van Deurzen.

van Deurzen juga menyayangkan karena kebanyakan pasien kanker payudara pria terdiagnosis belakangan, terutama ketika stadium kanker mereka sudah lanjut, yang artinya memperkecil harapan hidup mereka.

Secara tidak langsung, fakta ini menunjukkan rendahnya kesadaran pria, termasuk para dokter juga, tentang risiko kanker payudara pada kaum mereka. Meskipun sebenarnya peluang pria untuk terserang kanker payudara cukup langka, yakni 1 dari tiap 100 kasus kanker payudara.

"Justru karena kelangkaan itu, mereka jarang dilibatkan dalam riset-riset tentang kanker payudara, sehingga kondisi mereka sebenarnya tidak terpantau dengan baik," imbuh van Deurzen seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (15/3). (dth/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru