Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Kanker Nasofaring Pembunuh Nomor 4 di Indonesia, Apa Penyebabnya?

* Hati-hati Pilek Menahun, Bisa Jadi Tanda Gejalanya
- Minggu, 29 Mei 2016 16:12 WIB
602 view
Kanker Nasofaring Pembunuh Nomor 4 di Indonesia, Apa Penyebabnya?
Jakarta (SIB)- Kanker nasofaring merupakan penyakit kanker pembunuh nomor 4 di Indonesia. Tingginya angka polusi asap ditengarai merupakan salah satu faktor penyebab kanker nasofaring sangat berbahaya.

Dr dr Cita Herawati SpTHT-KL dari RS Kanker Dharmais mengatakan penyebab utama terjadinya kanker nasofaring adala virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini sebenarnya cukup umum dan dimiliki oleh kurang lebih 95 persen penduduk dunia.

Ditambahkan dr Cita, virus ini senang berdiam di bagian nasofaring, organ tubuh yang berada di belakang hidung dan atas tenggorok. Lebih dari 85 persen masyarakat tidak mengalami gejala apapun ketika virus ini menginfeksi.

"Tapi pada orang Asia ras mongoloid, 5 sampai 15 persen bermutasi menjadi sel kanker. Akhirnya sel ini menyerang nasofaring dan disebut sebagai kanker nasofaring atau karsinoma nasofaring (KNF)," urai dr Cita, dalam temu media Sahid Sahirman Memorial Hospital, di Grand Sahid Jaya, Rabu (25/5).

Polusi asap disebut sebagai faktor risiko terbesar karena virus Epstein-Barr rentan menjadi aktif jika pengidapnya terpapar polusi. Selain melemahkan sistem daya tahan tubuh, polusi asap juga membuat kerja nasofaring menjadi lebih berat.

"Kalau ada asap terhirup yang menyaring adalah pertama hidung dan kedua nasofaring, untuk memastikan udara yang masuk ke paru-paru bersih. Jika paparan asap tinggi maka kerja nasofaring akan lebih berat. EBV-nya sudah hilang, datang lagi, hilang datang lagi, lama-lama menetap dan akhirnya menyebabkan mutasi sel dan berkembang jadi kanker nasofaring," tuturnya lagi.

Berdasarkan penelitian, pria lebih berisiko terserang kanker nasofaring. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, pria lebih sering beraktivitas di luar rumah. Kedua, prevalensi perokok juga lebih tinggi pada pria.

Namun hal itu bukan berarti wanita bebas dari risiko kanker nasofaring. dr Cita mengatakan wanita, terutama ibu rumah tangga di desa, rentan terserang kanker nasofaring akibat polusi asap dari kayu bakar.

Selain itu, polusi asap yang berasal dari dupa atau obat nyamuk bakar juga bisa meningkatkan risiko terserang kanker nasofaring. Maka dari itu, dr Cita mengatakan hindari polusi asap jika tak ingin terserang kanker nasofaring.

"Kalau masih masak pakai kayu bakar sebaiknya diganti dengan kompor gas. Selain jika sering beraktivitas di luar ruangan yang banyak polusi asap kendaraan jangan lupa gunakan masker," tuturnya.

Waspada
Pilek memang penyakit bersumber virus yang bisa sembuh sendiri. Namun jika pilek terjadi bertahun-tahun, pakar mengatakan bisa jadi tanda gejala kanker nasofaring.

Dr dr Cita Herawati mengatakan, kanker nasofaring memang kalah populer dibanding jenis kanker ganas lainnya. Gejalanya pun mirip-mirip dengan sinusitis sehingga seringkali terabaikan.

"Gejala awalnya itu pilek atau common cold. Tapi terjadinya menahun alias nggak sembuh-sembuh. Pasien juga biasanya merasa nggak enak telinganya, atau mimisan sedikit-sedikit tapi sering," tutur dr Cita.

Dikatakan dr Cita, gejala-gejala seperti ini sangat umum sehingga pasien jarang berobat ke spesialis. Nah, pada pilek dan keluhan di telinga akibat kanker nasofaring, gejalanya tidak akan hilang meski sudah mendapat obat dari dokter umum.

Di tingkat yang lebih parah, gejala lanjutan yang muncul antara lain benjolan di leher dan pendengaran berkurang. Selain itu, pasien juga biasanya mengalami gangguan penglihatan berupa penglihatan ganda atau double.

"Ketika sudah begini pun seringnya tidak ke THT. Benjolan di leher ke dokter bedah untuk diangkat dan gangguan penglihatan berobatnya ke dokter mata. Padahal gejala-gejala ini merupakan tanda kanker nasofaring memasuki stadium lanjut," ungkapnya.

Ia mengatakan mortalitas atau angka kematian kanker nasofaring di stadium awal termasuk sedang, yakni 10 persen. Namun jika sudah memasuki stadium lanjut, mortalitas bisa meningkat hingga 60 persen.

Angka harapan hidup pasien untuk 5 tahun pun berkurang dari stadium 1 di 70-100 persen menjadi 50 persen di stadium 4. Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk memperkaya informasi tentang kanker nasofaring.

"Soalnya kita ini termasuk berisiko tinggi. Satu karena polusi udara dan kedua karena ras mongoloid, dalam artian orang Asia, lebih berisiko memiliki virus eipstein-bar daripada ras lainnya," ungkap dr Cita. (detikHealth/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru