Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 16 Mei 2026

Anak Lahir Caesar Berpotensi Terkena Alergi

- Minggu, 20 November 2016 15:43 WIB
896 view
Anak Lahir Caesar  Berpotensi Terkena Alergi
Medan (SIB)- Anak yang lahir caesar lebih berpotensi terkena alergi dibandingkan anak yang lahir normal.

Anak yang lahir caesar, kekebalan atau imun di tubuhnya cenderung melemah. Sedangkan anak yang lahir normal dalam perjalanan keluar dari ibunya, si anak terminum berbagai cairan yang justru mampu meningkatkan kekebalan di tubuh si anak tersebut,ujar dr Lily Irsa, SpA(K) dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Ia mengatakan itu kepada wartawan di sela acara "Bunda Tanggap Alergi dengan 3K" di Klinik Citra Medika Jalan Platina Raya Medan Rabu (16/11).
Selain dr Lily,juga hadir  memberi keterangan dr Isti Ilmiati Fujiati, MSc.CM-FM, MPdKed dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran USU,  Zeinda Rismandari, Allergy Care Manager Sarihusada dan dr Yudha Prayogi, pimpinan Klinik Citra Medika.

Sarihusada melakukan rangkaian kegiatan edukasi "Tanggap Alergi"  bertujuan untuk terus meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai alergi. Juga menyediakan advokasi bagi masyarakat dalam menangani alergi. Kegiatan ini digelar seminggu, 14 hingga 18 Nopember 2016 di 10 klinik di Medan.

Menurut dr Lily,  semua di atas bisa diatasi dengan makanan dan minuman bergizi sehingga tubuh harus tetap sehat.

Upaya lain, menurut dr Lily, perlu tanggap alergy dengan 3 K yakni Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan. "Cermati gejalanya dan temukan solusinya," kata dr Lily.

Disebutnya,untuk pengendalian tersebut lebih dulu kita kenali kalau kulit merah dan gatal, gangguan pernafasan dan pencernaan. Jika ini tanda-tandanya segera periksakan si kecil ke dokter. Hindari penyebab alergi agar gejalanya tidak muncul. Misalnya, jika si kecil alergi protein susu sapi, hindari makanan yang mengandung protein susu sapi dan produk turunannya antara lain keju dan mayonaise.

Studi di seluruh dunia, anak-anak di tahun pertama kehidupan cenderung alergi susu sapi sekitar 2 % sampai 5 %.

Bagi orangtua yang memiliki alergi,kata Lili, anaknya akan beresiko 60-80 % terkena alergi.

Alergi lain misalnya bisa juga terkena debu, asap rokok, perokok pasif anaknya bisa asma, gangguan saluran pernafasan dan bawaan lahir akibat caesar bisa berpotensi alergi.

Bisa jadi meminum susu sapi, tubuh terdapat  merah-merah, biduran, gejala saluran cerna bisa diare berdarah, saluran nafas kalau pagi bersin-bersin.
"Kalau timbul gejala tersebut, langsung konsultasikan ke dokter. ," katanya.

Ibu dengan anak yang alergi susu sapi dapat tetap memberikan ASI, dan si ibu juga sebaiknya menghindari makanan/minuman alergi seperti susu sapi dan lain-lain serta  makanan protein lain.

Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak," katanya.

Dia menambahkan, sekitar 20 % anak usia satu tahun pertama mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan.

Secara global, 240-550 juta orang berpotensi menderita alergi makanan.

Sementara itu, Dr Isti Ilmiati Fujiati menilai, selama ini banyak orangtua yang belum memahami cara mengenali gejala alergi yang tepat tetapi masih mencoba solusi sendiri.

"Untuk itu perlu ada penyuluhan mengenai alergi," kata Isti.

Kalau dulu lebih suka pengobatan, sedangkan sekarang lebih baik pencegahan. Sebab banyak pasien datang yang awalnya alergi tapi karena tidak tahu dalam jangka lama maka jadi bertambah ada penyakit lain seperti infeksi. Jadi infeksi yang diobati padahal awalnya alergi.

Zeinda Rismandari, Allergy Care Manager Sarihusada menambahkan alergi tidak saja berdampak pada tingkat kesehatan di kemudian hari tapi juga berdampak pada produktivitas penderita alergi.

"Kami mendorong setiap orangtua untuk mengingat 3K dan edukasi ini dapat juga diakses melalui website alergianak.com," tegas Zeinda. 
          
Sarihusada katanya, menggelar roadshow edukasi "Tanggap Alergi" di dua kota besar lainnya yaitu Yogyakarta pada 17-21 Oktober 2016 dan Surabaya 7-11 Nopember serta terakhir di Medan 14-18 Nopember 2016. Kegiatan roadshow ini terbuka cuma-cuma bagi pengunjung klinik dan anggota masyarakat lainnya yang ingin memperoleh informasi seputar alergi maupun melakukan konsultasi. (A2/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru