Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 16 Mei 2026

Jangan Jauhi Anggota Keluarga Terkena TB

* Obat TB Bisa Memicu Hormon Kesuburan
- Minggu, 11 Desember 2016 17:05 WIB
449 view
Jakarta (SIB)- Agar tuntas, pengobatan tuberkulosis (TB) mesti dilakukan setidaknya selama enam bulan. Pada pasien wanita, ketika menjalani pengobatan tapi kemudian hamil, bukan berarti pengobatan mesti dihentikan.

dr Diah mengungkapkan, ibu hamil dengan kuman TB yang tidak resisten mendapat pengobatan sama dengan pasien TB pada umumnya. Tapi, obat yang dipakai berbentuk oral, bukan injeksi. Menurut jurnal-jurnal ilmiah, penggunaan obat TB oral relatif aman bagi ibu hamil.

Meski ketika menegakkan diagnosis TB kerap kali ditemui kesulitan misalnya ketika ibu susah mengeluarkan dahak, merasakan sakit saat batuk dan tak mau dirontgen. Padahal, jika memang amat diperlukan, rontgen bisa tetap dilakukan pada hamil dengan menggunakan semacam pengaman pada perut ibu, ujar dr Diah.

"Lalu yang sering nih saat dia sakit TB, dia hamil, buru-buru deh distop obatnya karena katanya nggak boleh minum obat. Bisa bayangin kan kalau ibu lagi hamil, ada TB dia nggak minum obat dan nggak sembuh, kan bayinya juga nggak sehat," kata dr Diah.

Memang, konsumsi obat TB saat hamil tidak 100 persen bebas efek samping. Tapi, dr Diah mengingatkan efek yang tak diinginkan justru lebih besar ketika ibu tidak mengonsumsi obat. Untuk itu, dr Diah mengingatkan ketika menjalani pengobatan TB, konsultasi amat penting.

Dikatakan, banyak terjadi wanita sedang berobat TB tapi kemudian hamil. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena obat TB bisa memicu hormon kesuburan. Nah, ketika sudah hamil, dr Diah berpesan jaga kehamilannya dan jangan hentikan pengobatan hingga TB yang diidap bisa sembuh.

"Cuma kalau belum hamil ya sebaiknya ditunda dululah, dituntaskan dulu pengobatannya," ujar dr Diah.

Tekan Risiko Tertular
Saat orang terdekat, misalnya anggota keluarga terkena tuberkulosis (TB), jangan lantas dijauhi. Meski kekhawatiran akan tertular bisa saja ada, bukan berarti tak ada langkah yang dapat dilakukan untuk menekan risiko tertular TB.

Orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien TB atau kerap melakukan kontak dengan pasien TB, misalnya tenaga kesehatan, memiliki TB laten. TB laten adalah kondisi di mana seseorang sudah terinfeksi kuman TB tapi belum positif TB.

"Kalau sudah terinfeksi, jangan sampai sakit. Ini bisa jadi bom waktu untuk kasus TB di masa depan," kata dr Diah Handayani SpP dari RSUP Persahabatan di sela-sela temu media 'Edukasi Tuberkulosis di Transportasi Publik' di Gedung Balaikota, Jakarta, Rabu (7/12).

Untuk menekan penularan TB, dr Diah mengungkapkan hal utama yang mesti dilakukan yakni si pasien pastinya harus diobati sampai sembuh. Sehingga, jangan lupa minum obat teratur. Nah, di sinilah peran anggota keluarga dan orang di sekitar untuk mengingatkan pasien minum obat.

Dijelaskan dr Diah, jika di awal tes dahak positif TB, asal patuh minum obat dalam dua minggu hasilnya sudah bisa negatif. Artinya, meski kuman ada tapi sudah mati semua atau jumlah kuman makin sedikit.

Kemudian, pasien mesti diedukasi saat batuk, tutupi dengan tangan atau tisu. Jika memakai tisu, segera buang ke dalam tempat sampah tertutup. Jangan pula buang dahak sembarangan. Jika membuang dahak di wastafel atau kloset, siram dengan bersih. Pemakaian masker pada pasien pun amat dianjurkan. Jangan lupa, beri kamar pasien yang nyaman yakni yang memiliki ventilasi dan jendela untuk memudahkan masuknya sinar matahari.

"Keluarga juga mesti suportif. Pada orang yang berisiko tinggi yaitu perokok, anak di bawah 5 tahun dan punya diabetes periksakan. Sebab, metabolisme pada pasien diabet membuat daya tahannya lemah," terang dr Diah.

Hal lain yang penting, beri edukasi pada perokok untuk segera menghentikan kebiasaannya. dr Diah menyebutkan, perokok 3 sampai 7 kali lebih berisiko terkena TB dibanding orang yang tidak merokok. (detikhealth/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru