Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026
Bolos Sakit Pasca Lebaran

IDI: Dokter Palsukan Surat Sakit untuk Bolos Bisa Dipidana

- Minggu, 26 Juli 2015 19:57 WIB
736 view
IDI: Dokter Palsukan Surat Sakit untuk Bolos Bisa Dipidana
Jakarta (SIB)- Saat pasien sakit dokter biasanya akan membuat surat izin agar bisa beristirahat di rumah. Namun terkadang surat tersebut malah dimanfaatkan untuk bolos, termasuk di hari-hari pertama masuk usai lebaran ini.

Terlebih ketika akhir libur panjang beberapa orang mungkin dengan sengaja meminta surat izin sakit pada dokter meski sebetulnya sehat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Zaenal Abidin, MH, mengatakan praktik seperti itu sebetulnya tak diperbolehkan. Dokter bisa terjerat hukuman pidana karena dianggap membuat keterangan palsu.

"Enggak ada yang seperti itu. Tak boleh sembarangan memberikan keterangan," ujar dr Zaenal ketika dihubungi Rabu (22/7).

Surat izin hanya bisa diberikan ketika dokter memang sudah memeriksa pasien. Sehabis libur panjang atau tak ada libur, pemberian surat izin tetap tak berubah sehingga banyaknya surat yang dikeluarkan seorang dokter tergantung dari jumlah pasiennya yang sakit.

"Kalau dokter memberikan surat izin ke A, terus dia keluyuran dan kecelakaan atau ada apa-apa yang bikin ketahuan nah itu kan dokternya bisa dipersoalkan. Dianggapnya bisa melakukan persengkokolan," lanjut dr Zaenal.

Jika memang ada dokter yang melanggar IDI dikatakan dr Zaenal hanya akan memberikan sanksi etik. Namun lebih dari itu ada hukum yang dilanggar sehingga ancaman pidana juga bisa menanti.

Kelelahan Bukan Alasan
Memasuki hari-hari pertama masuk kerja seusai libur panjang, rupanya belum semua karyawan kembali beraktivitas. Kantor-kantor dilaporkan masih banyak yang sepi, beberapa karyawan belum masuk dengan berbagai alasan baik cuti maupun sakit.

Baru-baru ini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Yuddy Chrisnandi menyebut usai lebaran ini masih ada 30 persen pegawai pemerintahan yang mengambil cuti tahunan. Sementara di lingkungan pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 1.000 dari 69 ribu pegawai belum masuk kerja.
Ketua Umum Asosiasi Praktik Dokter Mandiri, dr HB Junaz menyebut faktor kelelahan saat Lebaran maupun mudik membuat sebagian karyawan kehilangan semangat untuk bekerja. Akibatnya, banyak yang memilih untuk memperpanjang liburnya dengan tidak masuk kerja.

"Sebenarnya yang sakit bukan fisiknya, tapi psikisnya yang mendorong buat malas-malasan," kata dr Junaz saat dihubungi Rabu (22/7).

Hitung-hitungan dr Junaz menunjukkan, selelah-lelahnya berlebaran tidak akan menguras begitu banyak tenaga sampai tidak sanggup masuk kembali ke kantor masing-masing. Kalori yang dikonsumsi selama Lebaran seharusnya cukup untuk beraktivitas sesudahnya.

"Seharusnya ada imbauan yang lebih tegas dari pemimpin-pemimpin di kantor," kata dr Junaz.

Soal lonjakan jumlah pasien seusai libur Lebaran, dr Junaz mengaku belum mengalaminya di tempat praktik. Bahkan, cenderung berkurang. Jika biasanya bisa melayani 20-25 pasien, belakangan ini cuma 10-15 pasien.

"Mungkin juga karena yang datang ke dokter praktik lebih berkurang karena lebih banyak yang menggunakan BPJS," kata dr Junaz.(detikhealth/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru