Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Rendahnya Oksigen di Otak Berisiko Fatal

- Minggu, 16 Agustus 2015 14:36 WIB
421 view
Rendahnya Oksigen di Otak Berisiko Fatal
Jakarta (SIB)- Kekurangan oksigen di otak atau yang biasa disebut hipoksia dapat berisiko kematian. Peneliti Universitas Indonesia (UI) membuktikan, protein neuroglobin dan sitoglobin berperan menjaga kerusakan otak akibat rendahnya oksigen.

"Dua protein ini akan berusaha beradaptasi dengan kekurangan oksigen tersebut. Namun, adaptasi ini ada batasnya. Tentunya banyak faktor yang memengaruhi. Tapi, yang saya lihat di sini baru perbedaan pola ekspresi nya," ucap Ninik Mudjihartini kepada SH usai sidang pengukuhan dirinya sebagai doktor dalam bidang Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran (FK) UI Jakarta, Jumat (10/7).

Otak adalah organ paling rawan terhadap keadaan hipoksia. Rendahnya ketersediaan oksigen akan memengaruhi aktivitas metabolis jaringan saraf.

Hipoksia adalah suatu keadaan ketika pasokan oksigen tidak mencukupi keperluan sel, jaringan, atau organ. Pada keadaan hipoksia, semua aeroborganisme  yang melakukan metabolisme dengan bantuan oksigen mengembangkan berbagai mekanisme untuk mengindra dan memberikan respons adaptasi.

Ini agar sel dapat mempertahankan kelangsungan hidup nya. Hipoksia berperan penting pada patofisiologi berbagai penyakit, seperti stroke, kanker, paru kronis, cacat tubuh, bahkan kematian.

Ninik melihat, keadaan hipoksia pada masyarakat akan menimbulkan dampak cukup serius, bahkan hingga kematian. Otak adalah organ tubuh yang menggunakan energi paling besar dibandingkan organ tubuh yang lain.

Berat otak hanya 2 persen dari keseluruhan tubuh. Namun, energi yang diperlukan otak untuk bekerja sebesar 20 persen dari energi yang dihasilkan tubuh. Oleh karena itu, pasokan energi harus diperhatikan dengan baik. Hal tersebut karena glukosa yang kian berkurang akan mempercepat kematian sel.

Dalam pengujiannya, Ninik menggunakan sel otak tikus sebagai hewan uji. Ia mengukur eskpresi mRNA neuroglobin (Ngb) dan sitoglobin (Cygb) di tingkat gen. Ia mengukur tingkat proteinnya dengan dua cara yang berbeda, tetapi menghasilkan hasil yang sama, yaitu cara ELISA dan Intensitas Fluore-sen (IF).

Hasil penelitian dengan dua cara tersebut  menunjukkan ekspresi protein Ngb sudah menurun pada hipoksia hari pertama. Sementara itu, Cygb dari hari pertama meningkat dan menetap sampai hari ke-14.

Mohamad Sadikin, Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler yang juga promotor penelitian ini mengungkapkan, riset tersebut membuka jalan penelitian lebih lanjut tentang dua protein  itu. Selain itu, penelitian ini memberi edukasi kepada masyarakat bahwa kekurangan oksigen berdampak kurang baik sehingga harus benar-benar disikapi. (SH/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru