Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026
Prof dr Aznan Lelo PhD SpFK:

MSG, Narkoba Terselubung Dapat Mengganggu Jiwa Seperti Depresi dan Kematian

- Minggu, 23 Agustus 2015 15:13 WIB
1.932 view
MSG, Narkoba Terselubung Dapat Mengganggu Jiwa Seperti Depresi dan Kematian
Medan (SIB)- Prof dr Aznan Lelo PhD SpFK dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mengatakan, tujuh puluh tahun merdeka telah berlalu, rakyat Indonesia bukan makin sehat jiwa raganya, malah kebalikannya.

“Dulu bangsa kita terkenal ramah santun dan baik akhlaknya serta pemberani dan perkasa. Sekarang terlihat beringas tidak Pancasilais, gampang murka, membakar, membegal, memperkosa, korupsi dan sebagainya yang dilakukan tanpa pandang usia, mulai dari anak-anak sampai si tua renta, tanpa pandang tingkat pendidikan dan keyakinan,” kata Aznan sebagai pembicara kunci pada seminar ilmiah dalam rangka peringatan Dies Natalis ke 63 USU di Medan, Selasa (18/8). Turut memberi sambutan Pj Rektor Prof Subhilhar dan ketua panitia Dies USU Prof Bustami.

Dikatakannya dengan topik makalah “MSG, Narkoba Terselubung,” kenapa terjadi perubahan negatif secara berjamaah. Narkoba apa yang telah merusak bangsaku ini. Pastilah Narkoba yang tidak perlu diperoleh secara sembunyi-sembunyi, tapi didapat secara terang benderang, gampang dan dianggap aman.

Narkoba yang mungkin menzalimi orang banyak dalam jumlah besar tentulah melalui makanan. Pada kenyataannya cukup banyak obat berbahaya yang belum tercantum sebagai Narkoba namun tersedia dalam berbagai bentuk dan dikonsumsi oleh masyarakat luas tanpa kendali, salah satu contohnya adalah penyedap masakan monosodium glutamate (MSG) dengan berbagai nama dagang dan wujud tampilan, mulai bubuk penyedap, saus, keuh mueh, susu formula, obat-obatan, vaksin dan sebagainya. Selain itu, MSG juga dapat menimbulkan stress oksidatif yang berat.

Meskipun MSG selalu ditemukan dalam berbagai jenis makanan yang kita konsumsi, bukanlah berarti MSG itu aman. Cukup sering ditayangkan di televisi dan dikabarkan di media massa tentang kejadian keracunan makanan pada murid-murid di sekolah-sekolah atau setelah pulang sekolah, pada buruh-buruh di tempat kerjanya dan di asrama. Sayangnya tidak pernah diungkapkan oleh pihak terkait racun apa yang menyebabkan kejadian tersebut. MSG kah, tidak ada pembuktian, bukan berarti tidak mungkin. Yang jelas banyak anggota masyarakat yang ketagihan atau kecanduan untuk mengkonsumsi kembali makanan tersebut, malah dengan jumlah yang lebih banyak dan cukup sering terjadi reaksi putus obat apabila dia tidak mendapatkan makanan yang harus dikonsumsinya tersebut.

Malah ada pasien anak yang marah kepada ibunya setelah dokter menasehati agar si anak tidak diizinkan jajan makanan yang mengandung MSG. Benar, MSG dapat menimbulkan kecanduan seperti Narkoba. Hal ini makin diperparah dengan semakin gencarnya iklan di televisi yang menyampaikan perlunya penambahan MSG dalam makanan sehari-hari.

MSG adalah garam sodium atau natrium dari asam amino glutamate atau asam glutamat, tersedia sebagai kristal putih yang tidak berasa dan larut dalam air atau alkohol. MSG digunakan sebagai penyedap rasa sehingga makanan terasa lebih enak. MSG diyakini adalah sediaan yang aman tanpa perlu pertimbangan serius.

Makanan sedia jadi banyak yang tidak mencantumkan bahwa makanan tersebut mengandung MSG, beberapa kemasan hanya mencantumkan ada bahan PENYEDAP. Batas aman menurut  badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari adalah kurang dari 120 mg/kg berat badan.

Setelah MSG dicerna, asam glutamat terpisah dari sodium dan dirubah menjadi glutamate yang ditandai dengan meningkatnya kadar glutamate bentuk bebas di dalam darah. Dikenal dua jenis reseptor glutamate yaitu Ligand-gated (ionotropic) dan G-protein coupled (metabotropic). Selanjutnya ionotropic receptor diklasifikasikan menurut ikatannya terhadap agonis tertentu yaitu  N-methly-D-aspartate receptor (NMDA Rs). Reseptor NMDA Rs ini diperkirakan berkaitan dengan kejadian toksisitas glutamate.

MSG (monosodium glutamate) biasanya tersedia berupa kristal putih mirip dengan narkoba lain dan digunakan sebagai penyedap makanan di banyak negara. Namun konsumsinya yang berlebihan telah dilaporkan dapat menimbulkan efek yang merugikan pada banyak organ tubuh, terutama mempengaruhi fungsi dan fisiologi otak dan juga menyebabkan stress oksdatif yang berat. Setelah dikonsumsi MSG terurai menjadi glutamate bebas yang merangsang sistem syaraf eksitatori. Pada awalnya nyeri dan kejang lalu parastesi dan lumpuh. Sodiumnya  yang bebas dapat menaikkan tensi dan meningkatkan potensial aksi, kata Aznan.

Sampai saat ini kajian khasiat farmakologi MSG sebagai obat belum dilaksanakan dengan benar pada manusia. Khawatir dengan efek samping sediaan ini, maka kajian pada hewan coba cukup banyak dilaporkan. Pemberian MSG pada neonates tikus dapat merusak neuron aspartatergic dan glutamatergic. Akibatnya MSG menyebabkan keterlambatan perkembangan neurobehavioral tikus, yang ditandai dengan melambatnya tampilan reflek syaraf dan maturasi koordinasi motorik  .

Penelitian yang dilakukan Xiong dkk (2009) menunjukkan bahwa: MSG memicu pembengkakan dan kematian neuron sesuai dosis yang diberikan.

Pasca pemberian MSG terjadi perlambatan gerakan. Selain itu MSG dapat mengganggu respon kognitif, retensi memori dan kemampuan belajar. Kejadian ini semua akibat pengaruh MSG dalam meningkatkan ambilan kembali serotonin di kortekserebri dan deregulasi fungsi HPA axis .

Fakta yang dijumpai di negeri kita Indonesia yang telah merdeka tujuh puluh tahun yang ditandai dengan merdekanya peredaran Narkoba terselubung tanpa kepedulian pihak terkait dan kita semua, maka akan seperti apakah tampilan anak bangsa Indonesia dimasa depan yang terus terpapar MSG melalui vaksin, susu, cemilan dan makanan sehari-hari? Ayo katakan stop MSG mulai saat ini, katanya.

Di Amerika, walau badan POM mereka menyatakan boleh mengkonsumsi 3 gram, tetapi presiden melalui pemerintah hanya membolehkan mengkonsumsi penyedap makanan 1/2 gram.

MSG membodohi otak menyatakan enak. Sudah tahu, mie instan ditolak masuk ke Taiwan. Dalam setiap pertemuan, kata Aznan, selalu dikatakannya MSG itu berbahaya, sehingga sales manager dan produk penyedap makanan itu datang ke Medan, minta Aznan tutup mulut. Tetapi saya harus katakan, karena sudah sangat banyak korbannya, bahkan ada yang meninggal, katanya pada wartawan.(A01/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru