Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 16 Mei 2026

Diabetes Melitus Penyebab Utama Kerusakan Ginjal, Termasuk Pereda Nyeri

- Minggu, 07 Februari 2016 14:29 WIB
544 view
Diabetes Melitus Penyebab Utama Kerusakan Ginjal, Termasuk Pereda Nyeri
Jakarta (SIB)- Ginjal menjalankan banyak fungsi, terutama sebagai penyaring racun untuk dikeluarkan. Beberapa hal bisa membuat fungsinya menurun, mulai dari penyakit hingga penggunaan obat-obatan tertentu.

"Secara global, penyebab utama kerusakan ginjal adalah diabetes melitus yakni 50 persen dan hipertensi 27 persen," kata dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH, konsultan ginjal dan hipertensi dari PAPDI (Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia), baru-baru ini.

Diabetes melitus misalnya, bisa memicu komplikasi pada pembuluh darah kecil. Kerusakan di sekitar mata bisa memicu diabetic retinopathy, yakni kerusakan retina akibat komplikasi diabetes. Demikian juga di ginjal, komplikasi diabetes bisa membuat fungsi ginjal terganggu.

Selain penyakit-penyakit kronis, penyebab kerusakan ginjal lainnya adalah penggunaan obat-obat pereda nyeri atau analgesik dalam jangka waktu terlalu panjang. Dalam kedokteran, kerusakan ginjal akibat obat pereda nyeri disebut analgesik nephropathy.

"Di Australia angkanya tinggi karena kebiasaan sedikit-sedikit minum pereda nyeri," jelas dr Tunggul.

Sedangkan dalam keseharian, banyak orang beranggapan terlalu banyak duduk bisa merusak ginjal. Anggapan tersebut, menurut dr Tunggul ada benarnya. Oleh karena itu, salah satu saran untuk menjaga fungsi ginjal adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat termasuk banyak olahraga.

"Terkait banyak duduk, itu mungkin flow urine menjadi lebih rendah lalu risiko pembentukan kristal-kristal meningkat," tandas dr Tunggul.

Sementara itu, terbongkarnya praktik jual beli ginjal oleh kepolisian dikhawatirkan bikin takut calon donor. Padahal, donor ginjal sangat dibutuhkan di Indonesia.

"Di Indonesia ada 10.000 pasien gagal ginjal tahap akhir, tercatat baru ada 800 operasi cangkok ginjal sejak 1977," kata dr Tunggul D Situmorang.

Cangkok atau transplantasi ginjal dibutuhkan oleh pasien gagal ginjal tahap akhir yang tinggal menyisakan kurang dari 6 persen fungsi ginjal aslinya. Selain cangkok, alternatif pengobatan yang bisa dilakukan adalah hemodialisis atau cuci darah seumur hidup.

Dijelaskan oleh dr Tunggul, ginjal menjalankan berbagai fungsi termasuk menjaga keseimbangan cairan dan mineral, serta keseimbangan asam-basa. Organ berbentuk kacang buncis seukuran kepalan tangan ini juga menjalankan fungsi penyaringan dan pembuangan limbah cairan dan menghasilkan hormon.

Minimnya operasi cangkok ginjal di Indonesia, menurut dr Tunggul disebabkan oleh faktor medis dan nonmedis. Faktor medis antara lain terkait reaksi imunologis berupa penolakan oleh tubuh, meski saat ini sudah bisa diatasi dengan obat-obatan penekan anti penolakan.

Sedangkan faktor non medis, antara lain adalah kurangnya jumlah donor dibandingkan dengan jumlah kebutuhan. Kondisi ini diyakini turut mendorong adanya parktik jual beli organ, meski dalam praktiknya tetap akan melalui skrining medis maupun legal yang sangat ketat.(detikhealt/ r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru