Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Warga Indonesia Berisiko Tinggi Mengidap Katarak, Penyembuhan Harus Dioperasi

- Minggu, 14 Februari 2016 18:45 WIB
847 view
Warga Indonesia Berisiko Tinggi Mengidap Katarak, Penyembuhan Harus Dioperasi
Jakarta (SIB)- Faktor risiko katarak dipengaruhi juga oleh tempat tinggal dan iklim. Indonesia yang berada di daerah tropis membuat masyarakatnya berisiko tinggi mengidap katarak.

Menurut dr Setiyo Budi Riyanto, SpM(K), pakar katarak dan bedah refraksi dari Jakarta Eye Center, Indonesia sebagai daerah tropis memiliki risiko lebih tinggi dari negara Eropa dan Amerika. Penyebabnya adalah tingginya paparan sinar ultraviolet.

"Di kita katarak bisa lebih cepat. Biasanya kan di atas 70 tahun, tapi orang Indonesia rata-rata umur 56 tahun sudah kena," ungkap dokter yang juga menjabat sebagai direktur JEC Menteng ini kepada wartawan di JEC Kedoya, Jl Terusan Arjuna Utara, Jakarta Barat, seperti ditulis pada Minggu (7/2).

Dijelaskan oleh dr Budi, katarak merupakan penyakit degeneratif yang akan menyerang semua orang. Sebanyak 90 persen orang akan mengidap katarak ketika berusia di atas 70 tahun. Sementara sisanya mengidap katarak ketika menginjak usia 50 tahun.

"Kamu kena, saya juga kena, semua orang pasti kena katarak. Tinggal bagaimana supaya katarak itu ditangani ketika belum parah sehingga bisa terhindar dari kebutaan," tambahnya.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut dari 285 juta pengidap gangguan penglihatan di seluruh dunia, 51 persennya diakibatkan oleh katarak. Di Indonesia sendiri diperkirakan ada satu pasien katarak baru di antara 1.000 orang.

Presiden Direktur JEC Korporat sekaligus Direktur Utama JEC Kedoya dr Johan A Hutauruk, SpM(K) mengatakan pencegahan katarak bisa dilakukan dengan mengurangi paparan sinar ultraviolet. Misalnya dengan menggunakan kacamata hitam ketika bepergian atau tidak memandang langsung ke arah matahari.

"Selain itu perlu juga dilakukan pola hidup sehat. Makan makanan bergizi, jangan lupa olahraga. Kalau sehat kan akan terhindar dari penyakit lain yang bisa meningkatkan risiko katarak," pungkasnya.

Harus Dioperasi

Katarak, penyebab gangguan penglihatan terbesar di dunia, tak bisa disembuhkan dengan menggunakan obat atau kacamata. Pakar mengatakan satu-satunya cara untuk menyembuhkan katarak adalah dengan dioperasi.

dr Setiyo Budi Riyanto,  mengatakan, katarak adalah gangguan penglihatan yang disebabkan oleh keruhnya lensa mata. Kekeruhan ini tak bisa dihilangkan dengan obat atau ditangani dengan menggunakan kacamata.

"Katarak tidak bisa pakai obat. Langsung operasi. Operasi dilakukan untuk menghilangkan kekeruhannya itu. Setelah operasi kita juga akan tanam lensa mata supaya tidak perlu pakai kacamata tebal lagi," tutur dr Budi.

Dijelaskan dr Budi, ada tiga metode operasi katarak. Pertama adalah bedah manual, kedua adalah bedah menggunakan gelombang suara (ultrasound) dan ketiga adalah bedah dengan menggunakan laser. Masing-masing metode memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Bedah manual terdiri dari dua tipe, yakni extracapsular cataract extraction (ECCE) dan intracapsular cataract extraction (ICCE). Prosedur ini membedah satu pertiga kornea mata dan menggunakan jahitan untuk menutup luka bedah.

"Biasanya ini dilakukan di daerah-daerah yang belum memiliki mesin. Jadi dokternya bedah manual pakai pisau, sehingga ada bekas jahitan dan ada risiko infeksi atau silinder. Waktu pengerjaan kurang lebih 30 menit," ungkapnya.

Metode kedua adalah Phacoemulsification, menggunakan gelombang ultrasonik untuk menghancurkan keruh yang ada di mata. Luka yang dihasilkan pun kecil hanya 2,2 mm dan menggunakan mesin serta bius tetes.

"Pengerjaannya kurang lebih 15 - 20 menit. Metode ini sekarang yang menjadi standar operasi katarak di dunia dan sudah menggunakan mesin," ungkapnya.

Terakhir adalah femtosecond laser assisted cataract surgery (FLACS), menggunakan laser untuk menghancurkan keruh di lensa mata dan tidak menggunakan pisau. Waktu pengerjaannya pun tak sampai satu menit. Sayangnya, penggunaan metode ini tergolong mahal. (dth/c) 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru