Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 28 April 2026

Upacara Sipaha Lima, Tradisi Mensyukuri Hasil Panen Leluhur Batak

Redaksi - Sabtu, 20 Februari 2021 11:11 WIB
646 view
Upacara Sipaha Lima, Tradisi Mensyukuri Hasil Panen Leluhur Batak
nusaresearch.net ©2020 Merdeka.com
Upacara Sipaha Lima.
Suku Batak merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak warisan budaya. Terkenal menjunjung tinggi adat-istiadat, ada banyak tradisi yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Suku Batak yang juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Salah satu yang masih dilakukan oleh masyarakat Suku Batak adalah Upacara Sipaha Lima. Upacara ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh Suku Batak penganut kepercayaan Malim, yang memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas nikmat yang sudah didapatkan dalam setahun.

Dilansir dari laman negerikuindonesia, Sipaha Lima adalah ritual atau upacara suci dalam tradisi masyarakat Suku Batak di Sumatera Utara. Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Batak penganut kepercayaan Malim, atau biasa disebut dengan Parmalim.

Upacara Sipaha Lima ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki dan nikmat yang didapatkan masyarakat Suku Batak kepada Sang Pencipta. Selain itu, upacara ini juga dilakukan untuk menghormati para leluhur.

Bagi masyarakat Suku Batak, Upacara Sipaha Lima ini dimaknai sebagai upacara sakral dan penuh kebersamaan. Hal tersebut dapat terlihat dari berbagai prosesi yang dilakukan dalam upacara tersebut.

Upacara Sipaha Lima ini sudah dilakukan oleh masyarakat penganut kepercayaan Malim sejak ratusan tahun lalu. Kepercayaan Malim merupakan kepercayaan asli masyarakat Batak pada zaman dahulu. Menurut sejarahnya, Upacara Sipaha Lima ini awalnya diperkenalkan oleh Raja Sisingamangaraja XII. Selain sebagai salah satu pahlawan dan pemimpin masyarakat Batak, ia juga merupakan penganut kepercayaan Malim.

Pada saat itu kepercayaan Malim sangat berkembang dan memiliki banyak penganut yang tersebar di berbagai tempat. Kemudian Raja Sisingamangaraja XII memberikan titah kepada Raja Mulia Naipospos untuk melembagakan ajaran dan kepercayaan tersebut agar para penganutnya dapat berkumpul bersama dan memiliki identitas yang jelas, salah satunya dengan mengadakan Upacara Sipaha Lima ini.

Bulan Lima Kalender Batak
Masih dilansir dari laman negerikuindonesia, upacara ini dilakukan setahun sekali yaitu pada bulan kelima sesuai dengan kalender Batak. Upacara ini biasanya digelar di Bale Pasogit Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Tempat inilah yang menjadi tempat pusat penganut kepercayaan Malim. Bahkan, masyarakat Permalim sering menyebut Bale Pasogit adalah Huta Nabadia (tanah suci) bagi mereka.

Persiapan Upacara Sipaha Lima ini dilakukan masyarakat sejak beberapa bulan sebelum upacara dilaksanakan. Dilansir dari laman resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, pada saat memasuki bulan ketiga di kalender Batak, masyarakat sudah bersiap-siap mengumpulkan hasil panen yang mereka dapatkan. Memasuki bulan keempat, masyarakat mulai menyiapkan persiapan persembahan untuk upacara. Kemudian pada bulan kelima, Raja Naipospos akan menentukan hari penyelenggaraan Upacara Sipaha Lima.

Dilansir dari laman indonesia.go.id, kegiatan Upacara Sipaha Lima ini diikuti orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Upacara ini biasanya diiringi musik Ogung Sabangunan (alat musik tradisional Batak Toba) serta tarian Sahadaton dari Parmalim yangg juga mengiringi penyerahan sesembahan kepada Sang Pencipta.

Sesembahan yang diberikan berupa seperti ayam, kambing, ikan yang sudah dimasak dan jeruk purut di dalam cawan yang sebelumnya sudah didoakan di dalam bale parsantian (rumah ibadah). Selain itu, dalam Upacara Sipaha Lima, masyarakat Parmalim akan menyembelih satu ekor kerbau sebagai puncak simbol rasa syukur.
Pakaian Adat Khas Batak
Pada saat upacara berlangsung, Parmalim perempuan harus mengenakan kebaya, ulos, sarung, dan rambutnya diharnet. Sedangkan Parmalim laki-laki akan memakai kain putih yang diikat di atas kepala serupa sorban (tali-tali, dalam Bahasa Batak) untuk yang sudah menikah, ulos dan sarung.

Khusus untuk pucuk pimpinan Parmalim, mereka memakai ulos yang di atasnya dilapisi kain putih. Sedangkan anak-anak mengenakan sarung dan rambut harus diharnet dengan rapi. Seluruh umat yang menghadiri prosesi upacara ini tidak boleh memakai alas kaki di sekitar kompleks peribadatan , karena tempat tersebut dianggap sakral. (merdeka.com/c)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru