Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 01 September 2026

Hadapi Serangan Militer Filipina, ISIS Mulai Rencanakan Serangan Bunuh Diri

- Selasa, 25 Juli 2017 17:16 WIB
330 view
Manila (SIB)- Komandan Angkatan Bersenjata Filipina daerah Mindanao Barat Letnan Jenderal Carlito Galvez mengatakan bahwa para militan ISIS merencanakan serangan bom bunuh diri di dalam dan luar Kota Marawi. Hingga kini, pertempuran masih berlangsung di salah satu kota terbesar Filipina tersebut dua bulan setelah para militan melancarkan serangan pertama. Presiden Rodrigo Duterte pun mengatakan siap, jika konflik mesti berjalan hingga setahun lamanya.

Para petinggi pertahanan negara mengakui telah meremehkan para militan pro ISIS yang sangat terorganisir. Mereka menyerang kota pada 23 Mei lalu dan masih menguasai sebagian darinya meski terus digempur ratusan tentara yang dibantu serangan udara dan artileri.

"Mereka pernah mencoba berlari ke arah tentara sambil membawa granat. Itulah mengapa kami kehilangan banyak tentara kemarin," ujar Galvez dalam dialog dengan para pengungsi, Minggu (23/7). Galvez sebelumnya menyatakan 10 pasukan asing masih berada di Marawi. Beberapa di antaranya kemungkinan pernah bertempur di Mosul, Irak.

Militer menyatakan pertempuran di Marawi semakin intens sementara tentara merangkak sedikit demi sedikit ke pusat pertahanan para militan yang masih tersisa. Kongres Filipina telah menyetujui permintaan Duterte untuk memperpanjang darurat militer hingga akhir tahun di Mindanao. Dengan demikian, pasukan keamanan sekaligus mendapatkan kewenangan lebih besar untuk mengejar para ekstemis hingga ke luar Marawi.

Namun, masih belum jelas bagaimana Duterte akan mengatasi ekstremisme di negaranya, kelak, setelah pasukannya merebut kembali Marawi dan mengalahkan sekitar 70 militan yang masih bersembunyi di antara puing-puing daerah komersial sembari menyandera banyak warga sipil.

Lebih dari 500 orang tewas, termasuk 45 warga sipil dan 105 pasukan pemerintah. Setelah sejumlah tenggat waktu sepihak pemerintah untuk merebut kembali kota tersebut gagal dipenuhi, pasukan militer menyatakan kini opsi yang mereka punya terbatas karena para sandera.

Sementara Presiden Rodrigo Duterte berjanji melanjutkan perang kontroversial memberantas narkoba yang telah merenggut ribuan nyawa, saat ia menguraikan visinya tentang sistem peradilan "eye for an eye". Duterte menyampaikan sebagian besar pidato kenegaraan tahunannya untuk mendorong kebijakan hukum dan tata tertibnya yang sudah dikecam sejumlah kelompok HAM dan kritikus lain.

"Tak peduli memakan waktu berapa lama, perjuangan melawan narkoba ilegal akan terus berlanjut karena itu adalah akar penyebab banyaknya kejahatan dan penderitaan," ujar Duterte kepada anggota parlemen dari dua majelis Kongres.

"Perjuangan akan terus berlanjut meski mendapat tekanan internasional dan lokal, perjuangan tidak akan berhenti sampai orang-orang terkait paham bahwa mereka harus berhenti, mereka harus berhenti karena alternatifnya adalah antara penjara atau neraka."

Duterte merebut kemenangan dalam pemilu presiden tahun lalu, setelah menjanjikan aksi penindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap peredaran narkoba yang menewaskan puluhan ribu orang. Sejak menjabat 30 Juni tahun lalu, polisi melaporkan pembunuhan hampir 3.200 orang dalam perang melawan narkoba. (CNNI/Ant/AFP/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru