Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Raja Swedia Ucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Palestina

* Israel Tegaskan Tidak akan Pernah Batasi Pembangunan Permukiman Yerusalem
- Selasa, 18 November 2014 11:12 WIB
305 view
Stockholm (SIB)- Raja Swedia, Carl XVI Gustaf mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Palestina. Surat tersebut berisi ucapan selamat hari deklarasi kemerdekaan Palestina. Surat dari Raja Gustaf tersebut semakin memperkokoh posisi Swedia dalam mendukung Palestina. Sebelumnya, Swedia merupakan negara pertama di Benua Eropa yang mengakui negara tersebut. "Dalam perayaan hari nasional Palestina saya ucapkan selamat dan saya berharap kesejahteraan tetap terus bersama warga Palestina," tulis Raja Gustaf seperti dikutip dari BBC, Senin (17/11).

Ucapan selamat dari Raja Gustaf ini, menurut Direktur Jenderal Timur Tengah dan Afrika Utara Kementerian Luar Negeri Swedia, Robert Rydberg adalah yang pertama. Ia pun percaya masih ada hal baik lain yang akan dilakukan Swedia terhadap Palestina.

Pengakuan Swedia terhadap Palestina tak bisa dipungkiri mengundang kemarahan dari Israel. Bahkan dalam beberapa kesempatan kedua negara terlibat perang kata-kata. Melalui Menteri Luar Negerinya, Avigdor Lieberman, Israel menyebut keputusan Swedia ini patut disayangkan. Pasalnya, apa yang diambil Swedia sama saja dengan mendukung tindakan ekstrem yang dilakukan Palestina.

Pernyataan Lieberman dibalas PM Swedia Margot Wallstrom, dengan mengatakan dirinya dengan senang hati akan mengirimkan Lieberman sebuah produk IKEA, sehingga dia sadar dibutuhkan mitra dan kerjasama untuk menyusunnya.

Selain perang kata-kata langkah lebih mengejutkan juga diambil negeri zionis. Mereka memutuskan menarik duta besarnya dari Swedia. Namun, langkah Israel sama sekali tak dipedulikan Swedia. Negara ini bersikeras mengakui kemerdekaan Palestina. Sikap tersebut diapresiasi Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. Tak tanggung-tanggung, Abbas mengatakan keputusan Swedia ini adalah sebuah peristiwa bersejarah. Swedia bergabung dengan 130 negara lainnya, termasuk Hungaria, Polandia dan Slovakia, yang juga telah mengakui Palestina.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman mengatakan bahwa pemerintah Israel tidak akan pernah setuju untuk membatasi kegiatan pembangunan permukiman di timur Yerusalem, yakni wilayah yang diambil alih oleh negara Yahudi itu.

"Satu hal yang harus jelas: kami tidak akan pernah menerima definisi pembangunan di lingkungan Yahudi di Yerusalem sebagai aktivitas pemukiman," kata Lieberman  dalam sebuah konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier. "Kami tidak akan menerima pembatasan pada pembangunan di area-area Yahudi di (timur) Yerusalem," ujar dia.

Pernyataan itu ia sampaikan empat hari setelah pemerintah Israel menyetujui rencana untuk membangun 200 rumah di Ramot di wilayah timur Yerusalem, meski selama beberapa bulan terakhir di daerah tersebut terjadi bentrokan dan ketegangan hampir setiap hari antara Israel dan Palestina, yang sebagian besar dipicu oleh perluasan permukiman.

Pengumuman Menlu Israel itu memicu kecaman bernada tajam dari pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan kembali dengan "tegas" menentang pembangunan permukiman di timur Yerusalem. Pemerintah AS memperingatkan bahwa kegiatan pembangunan oleh Israel itu bisa "memperburuk situasi yang sulit di lapangan dan ... tidak akan memberikan kontribusi terhadap upaya untuk mengurangi ketegangan".

Israel merebut wilayah timur Yerusalem dalam Perang Enam Hari pada 1967, dan kemudian mengambil alih wilayah itu, di mana langkah tersebut tidak pernah didukung oleh masyarakat internasional. Israel mengacu seluruh kota Yerusalem sebagai "ibukota yang bersatu, dan tidak terbagi" miliknya, dan Israel tidak memandang pembangunan di timur Yerusalem sebagai kegiatan permukiman. (Ant/AFP/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru