Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Teror Bakteri 'Pemakan Daging' di Jepang: Waspadalah !

Robert Banjarnahor - Senin, 01 Juli 2024 09:21 WIB
617 view
Teror Bakteri 'Pemakan Daging' di Jepang: Waspadalah !
Foto: Getty Images/Carl Court
Warga di Jepang.
Jakarta (harianSIB.com)
Kasus Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS), penyakit infeksi bakteri pemakan daging, menunjukkan peningkatan di Jepang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menyampaikan bahwa beberapa negara telah mengambil langkah-langkah antisipasi untuk mencegah penyebaran penyakit.

"Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS), yang dikenal sebagai bakteri pemakan daging, sedang menjadi sorotan di Jepang. Peningkatan kasusnya menarik perhatian dunia dan menimbulkan kekhawatiran ," kata Tjandra di Jakarta, Minggu (30/6/2024), dilansir dari Kompas.com.

Ia mewanti-wanti bahwa angka kematian bisa mencapai 30%, jauh melebihi angka kematian Covid-19 yang hanya di bawah 5%.

" Penyakit tersebut belum memiliki vaksin ," ujarnya.

Sejumlah gejala yang terjadi bermula dari keluhan demam, nyeri otot, muntah dan dapat memburuk secara cepat karena bakteri penyebabnya melepaskan racun yang menyebabkan respons peradangan luas, syok dan kerusakan berbagai organ dalam tubuh manusia.

Tjandra yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara menjelaskan dugaan mengapa kasus tersebut mengalami tren peningkatan kasus di Jepang.

"Selama pandemi COVID-19, maka banyak masyarakat yang relatif tidak banyak kontak dengan bakteri karena jaga jarak dan lainnya, dan menyebabkan tidak adanya ketahanan alamiah," ujarnya.

Dikatakan Tjandra, Pemerintah Hongkong melalui Badan Perlindungan Kesehatan (Centre for Health Protection/CHP) Kementerian Kesehatan setempat memberi seruan pada warga Hongkong yang akan bepergian untuk waspada terhadap peningkatan infeksi tersebut.

"Pemerintah Malaysia juga bergerak cepat, dan menyebutkan berkoordinasi dengan WHO untuk mendapat informasi yang lebih jelas.

Malaysia memonitor secara ketat kemungkinan kasus ini di negara mereka melalui Crisis Preparedness and Response Center divisi infeksi pemerintah mereka," katanya.

Sementara itu, Pemerintah Thailand mengeluarkan Travel Advisory for Thais bagi warganya yang akan ke Jepang, yang meliputi persiapan sebelum berangkat, apa yang harus dilakukan selama bepergian, kewaspadaan terhadap risiko tinggi, dan apa yang harus dilakukan sesudah kembali ke Thailand, kata Tjandra menambahkan.

"Mungkin baik juga kalau pemerintah kita mempertimbangkan untuk melakukan hal serupa," katanya.


Dikatakan Tjandra, Pemerintah Jepang melakukan monitoring aktif situasi penyakit ini, dan meningkatkan penyuluhan kesehatan ke masyarakat Jepang.

Sedangkan, Pemerintah Amerika Serikat melalui Center of Diseases Control and Prevention (CDC) menyampaikan bahwa yang termasuk kelompok risiko tinggi terkena STTS termasuk kaum lansia, mereka yang punya luka terbuka dan juga pasien-pasien yang baru menjalani pembedahan.

"WHO pada Desember 2022 pernah pula melaporkan peningkatan kasus invasive Group A Streptococcus (iGAS) di Perancis, Irlandia, Belanda, Swedia dan Inggris, utamanya pada anak-anak, hanya memang tidak seperti peningkatan di Jepang sekarang ini," katanya.

Tjandra menambahkan, perkembangan yang ada di Jepang perlu terus diamati mendalam, dan juga perlu melakukan antisipasi dengan baik dan tidak mengabaikannya begitu saja.

"Tapi di sisi lain, kita tidak perlu harus khawatir berlebihan pula. Harus disadari bahwa berbagai penyakit masih akan tetap bermunculan, dan kewaspadaan senantiasa dari aparat kesehatan merupakan salah satu kunci pengendaliannya, di dunia dan juga di negara kita," katanya. (*)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru