Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 15 Mei 2026

Terkait Gaji Belum Dibayar, Isteri Mandor Dan Karyawan Saling Jambak

Robert Nainggolan - Kamis, 14 Mei 2026 23:07 WIB
214 view
Terkait Gaji Belum Dibayar, Isteri Mandor Dan Karyawan Saling Jambak
foto : harianSIB.com/Robert Nainggolan.
Nove Indah Lestari didampingi suaminya, Ardeli Halawa, menunjukkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) usai membuat laporan dugaan penganiayaan dan intimidasi di SPKT Polres Padang Lawas, Kamis (14/5/2026).

Sibuhuan (harianSIB.com)

Perselisihan soal gaji yang disebut belum dibayarkan selama dua bulan di lingkungan PT KSO Agrinas Palma Nusantara, Patogu Janji, Kabupaten Padang Lawas (Palas), berujung perkelahian antar ibu rumah tangga hingga dugaan intimidasi oleh oknum Brimob terhadap seorang pekerja pabrik.

Peristiwa itu bermula pada Senin (11/5/2026) dari percakapan di grup WhatsApp KSO penyemprot antara Nove Indah Lestari (29), seorang ibu rumah tangga yang juga karyawan kontrak penyemprot di PT KSO Agrinas Palma Nusantara, bersama sejumlah rekan kerjanya dengan mandor mereka, Suku Hardiama Bu'ulolo (28).

Dalam percakapan tersebut, Nove dan rekan-rekannya meminta penjelasan terkait gaji yang disebut sudah dua bulan belum dibayarkan.

Namun sekitar pukul 13.30 WIB, istri mandor bernama Fernis Mawati Laoli (26) mendatangi rumah Nove. Kedatangan itu kemudian memicu adu mulut hingga berujung pertengkaran dan aksi saling jambak.

Nove mengatakan, keributan bermula dari dalam rumah hingga berlanjut ke teras rumahnya, disaksikan empat anak mereka serta suaminya, Ardeli Halawa (36), yang saat itu hendak berangkat bekerja siang di pabrik PT Agrinas Palma Nusantara Patogu Janji.

"Suami saya saat itu hendak berangkat bekerja pukul 14.00 WIB. Tiba-tiba istri mandor datang sambil marah-marah karena tidak terima saya menuntut gaji kepada suaminya. Padahal selama ini persoalan gaji memang selalu disampaikan melalui mandor," ujar Nove kepada wartawan harianSIB.com, Kamis (14/5/2026)

Akibat pertengkaran tersebut, Nove mengaku mengalami luka cakaran, memar dan lecet di sejumlah bagian tubuh. Perkelahian kemudian dilerai Ardeli dibantu sejumlah warga sekitar sebelum kedua pihak kembali ke rumah masing-masing.

Situasi sempat kondusif dan Ardeli berangkat bekerja. Namun sekitar setengah jam kemudian, ia dijemput dua oknum Brimob dari lokasi pabrik terkait peristiwa perkelahian tersebut.

"Dua anggota Brimob menemui saya di pabrik dan meminta saya pulang untuk menyelesaikan persoalan perkelahian itu. Karena saya berpikir ingin menyelesaikan secara baik-baik, saya meminta izin kepada asisten dan diizinkan, tetapi harus kembali bekerja setelah satu jam," kata Ardeli.

Namun setibanya di depan rumah, Ardeli mengaku didesak agar mengakui kesalahan dalam peristiwa itu.

Karena merasa hanya melerai pertengkaran, Ardeli menolak tudingan tersebut. Tidak lama kemudian, ia diborgol dan dibawa ke posko keamanan Avdeling V Patogu Janji.

Di saat bersamaan, Nove sempat merekam kejadian itu menggunakan telepon genggam. Namun kedua oknum tersebut melarang perekaman.

"Kedua oknum itu, bapak Jimmy dan bapak Siahaan, memborgol suami saya di depan anak-anak dan warga tanpa alasan yang jelas, seolah suami saya penjahat atau buronan. Saya rekam kejadian itu, tetapi mereka membentak saya agar jangan merekam dan mencoba merampas handphone saya," jelas Nove.

Karena takut, Nove mengaku menyerahkan telepon genggamnya kepada anak mereka. Namun salah satu oknum Brimob disebut tetap mengejar anak tersebut untuk mengambil handphone.

"Anak saya lari ketakutan hingga terjatuh. Handphone itu pecah layarnya," katanya.

Sementara itu, Ardeli mengaku dibawa ke posko keamanan dan diserahkan kepada Danton bermarga Sijabat. Di lokasi itu, borgol yang dikenakannya sempat dibuka sebelum pihak mandor bersama istrinya datang.

Ardeli mengatakan dirinya kembali mendapat tekanan agar mengakui kesalahan dan berdamai. Ia bahkan mengaku sempat mendapat beberapa kali tamparan ringan.

"Saya dipaksa mengakui kesalahan dan diminta berdamai. Karena ingin persoalan selesai, saya akhirnya mengalah. Tetapi setelah itu mereka tetap menolak berdamai dan malah melaporkan saya bersama istri ke Polsek Barumun Tengah," ujarnya.

Ardeli mengaku tidak menyangka persoalan rumah tangga itu membuat dirinya diborgol di depan anak-anak dan warga sekitar.

"Saya hanya melerai, bukan ikut memukul," katanya.

Ardeli mengaku telah menerima surat panggilan mediasi dari Polsek Barumun Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada Senin mendatang.

"Saya tidak terima diperlakukan seperti itu. Mereka yang datang menyerang istri saya ke rumah, tetapi saya malah mendapat intimidasi. Saya juga akan melaporkan kasus ini ke Polres Padang Lawas," kata Ardeli saat ditemui di SPKT Polres Padang Lawas.

Ardeli mengaku sempat berencana melaporkan dugaan perlakuan oknum Brimob tersebut ke Propam Satbrimob Polda Sumut. Namun niat itu diurungkannya karena mempertimbangkan biaya perjalanan ke Markas Batalyon A Pelopor Satbrimob di Medan.

Selain itu, Ardeli mengaku hingga kini masih merasa tidak nyaman pascakejadian tersebut. Ia bahkan mengaku khawatir untuk kembali ke rumah dinas di lingkungan PT Agrinas Palma Nusantara Patogu Janji, Kecamatan Huristak, yang berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara.

Nove didampingi suaminya Ardeli kemudian melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Padang Lawas dan menerima Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STTLP/B/157/V/2026/SPKT/POLRES0 PADANG LAWAS/POLDA SUMATERA UTARA.

Sementara itu, salah satu anggota Brimob bermarga Siahaan saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan tertulis membantah adanya intimidasi.

"Si korban minta tolonglah sama kami karena dianiaya, jadi kami mengamankan agar tidak ada perkelahian antara mereka, setelah itu kami bawa di pos sekuriti kami buka borgolnya, itu sebagai bentuk pengamanan aja," tulisnya.

Jimmy yang mengaku dari Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sumut Medan menghubungi wartawan harianSIB.com sambil mengirimkan video berdurasi 1 menit 7 detik.

"Ini keterangan dari korban, jangan suka-suka hati aja menuduh intimidasi, kami cuma mengamankan," tulis Jimmy.

Dalam video tersebut, Fernis Mawati Laoli mengaku dirinya diseret serta ditampar Ardeli, sementara Nove disebut melakukan pencakaran dan pemukulan. Fernis juga mengaku dilempar nasi panas hingga mengenai mata sebelah kanan dan menyebabkan memar.

Jimmy menegaskan pihaknya hanya melakukan pengamanan setelah mendapat permintaan bantuan dari security perusahaan.

"Kami hanya spontan karena security minta tolong agar mengamankan perkelahian. Yang memborgol Siahaan, saya seniornya. Kami dari Batalyon A Medan. Tidak ada tamparan, intinya kami hanya mengamankan agar tidak ada perkelahian lebih lanjut," katanya.

Kapolsek Barumun Tengah, AKP Raden Saleh Nainggolan SH membenarkan adanya laporan penganiayaan dan menyebut mediasi terhadap kedua belah pihak dijadwalkan berlangsung pada Senin mendatang.

Sementara dalam video berdurasi 2 menit 19 detik yang diterima wartawan harianSIB.com, tampak terjadi aksi saling jambak antara Nove Indah Lestari dan Fernis Mawati Laoli di teras rumah Ardeli Halawa. Dalam video tersebut tampak sejumlah pria, termasuk Ardeli, bersama beberapa ibu-ibu berupaya melerai perkelahian.

Setelah berhasil dipisahkan, Ardeli terlihat membawa masuk istrinya ke dalam rumah, sedangkan Fernis meninggalkan lokasi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Agrinas Palma Nusantara dan Danton bermarga Sijabat belum memberikan tanggapan resmi meski upaya konfirmasi telah dilakukan wartawan.(**)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru