Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 18 Juni 2026

Petani di Simalungun Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Linggom Parhusip - Kamis, 04 Juni 2026 19:35 WIB
409 view
Petani di Simalungun Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi
Foto harianSIB.com/Linggom Parhusip
ANTRI: Sejumlah petani terpaksa mengantri untuk mendapatkan pupuk bersubsidi saat pupuk tiba di salah satu kios pendistribusian pupuk bersubdisi di Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Kamis (4/6/2026).

Simalungun(harianSIB.com)

Sejumlah petani di Kabupaten Simalungun mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi jenis Urea dan Phonska. Pasalnya semenjak awal tahun 2026 jarang di temukan di sejumlah Kios Pendistribusian Pupuk Bersubsidi di Simalungun.

Hal tersebut disampaikan sejumlah petani di Kecamatan Jorlanghataran, Marga Silitonga didampingi warga lainnya Marga Marpaung, Butarbutar, Siregar ke jurnalis harian SIB.com di Jalan Parapat, Kabupaten Simalungun, Kamis (4/6/2026).

Silitonga menerangkan, semenjak beberapa bulan terakhir, pupuk bersubsidi jenis Urea dan Phonska langka di sejumlah kios pendistribusian pupuk bersubsidi hingga dikeluhkan para petani.

Lanjut Silitonga, sejumlah petani juga telah berupaya mencari pupuk bersubsidi tersebut di kecamatan lainnya namun pupuk tersebut juga tidak ditemukan.

Baca Juga:
"Kita bingung kenapa pupuk bersubsidi ini sesulit ini ditemukan di sejumlah kios, meskipun ada beberapa sak saja, para pemilik kios pupuk mematok hargan tinggi Rp 200.000-250.000 per sak", ujarnya.

Menurut Marpaung warga Nagori Bah Sampuran mengakui, beberapa minggu terakhir dirinya terpaksa harus membeli pupuk bersubsidi urea dan phonska dari salah satu kios di Kelurahan Tigabalata Rp 200.000 per saknya karena tanaman padinya sangat butuh pemupukan yang selayaknya harga pupuk tersebut Rp 90.000-95.000 per saknya.

"Kita terpaksa membeli pupuk bersubsidi tersebut dengan harga tinggi

karena takut gagal panen. Pemilik kios berdalil harga pupuk dinaikkan karena dirinya tidak masuk dalam data rencana defenitif kebutuhan kelompok tani (RDKK) di kios pupuk tersebut," pungkasnya.

Terpisah masyarkat di Kecamatan Dolokpanribuan, M Nadapdap juga mengeluh pupuk bersubsidi saat ini langka di sejumlah kios pendistribusian pupuk, pada hal petani sangat membutuhkannya.

Ditempat lain, warga di Kecamatan Panei, Marga Simare-mare dan Boru Hasibuan mengatakan hal senada, para petani saat ini mengeluh karena beberapa bulan terakhir pupuk berusubsidi sangat langka hingga puluhan hektar tanaman jagung dan padi terancam gagal panen karena kekurangan pupuk.

"Pada semester pertama, para petani hanya mendapatkan pupuk bersubsidi jenis urea dan phonska masing-masing satu sak per angggota kelompok tani. Kebutuhan pupuk Ini tidak mencukupi," ujar Simare-mare yang mengaku memiliki tanaman jagung seluas kurang lebih 15 rante.

Para petani berharap pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut pendistribusian dan penyebab kenapa pupuk bersubsidi langka saat hingga membuat petani menjerit gagal panen.

Salah satu pemilik kios, di Kecamatan Jorlanghataran L Siahaan, Kios Pupuk di Kecamatan Dolokpanribuan Narasaon, dan Kecamatan Panei Marga Purba mengatakan hal senada, semenjak awal tahun 2026 pendistribusian pupuk bersubsidi dari pihak distribusor ke kios pengecer tidak sesuai dengan kuota pengajuan kebutuhan kelompok tani.(**)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Petani di Simalungun Butuh Mesin Pertanian
Petani di Simalungun Waspadai Munculnya Kutu Kebul
Komisi B DPRDSU, Kalangan Produsen dan Distributor Bahas Kelangkaan Pupuk Bersubsidi
Petani Jagung di Tiga Binanga Keluhkan Kelangkaan Pupuk SP36
Kemarau Panjang, Tanaman Petani di Simalungun Kerdil
Kopi Ateng Menjadi Komoditas Utama Petani di Simalungun Atas
komentar
beritaTerbaru