Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 April 2026

Cuaca Ekstrem, Nelayan Tanjung Beringin Sepekan Tak Melaut

Muhammad Arif Hidayatullah - Senin, 24 November 2025 19:59 WIB
444 view
Cuaca Ekstrem, Nelayan Tanjung Beringin Sepekan Tak Melaut
Foto: harianSIB.com / M Arif H
Ratusan kapal motor dan sampan milik nelayan di Kecamatan Tanjungberingin, Sergai, bertambat di tangkahan akibat gelombang tinggi dan angin, Senin (24/11/2025).

Seegai (harianSIB.com)

Cuaca buruk berupa gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda pesisir Serdangbedagai (Sergai) sejak sepekan terakhir membuat aktivitas nelayan di Kecamatan Tanjungberingin terhenti total, Senin (24/11/2025).

Pantauan di lokasi, suasana di tangkahan dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Tanjungberingin tampak sepi tanpa aktivitas bongkar muat seperti biasanya, tak ada kapal yang bersiap melaut.

Ratusan kapal motor dan sampan milik nelayan dengan alat tangkap seperti pukat lingkung, jaring gembung, dan pukat becak, bersandar rapat di tangkahan masing-masing. Tak satu pun tampak bergerak menuju laut akibat buruknya kondisi cuaca.

Salah seorang nelayan, Nasaruddin alias Jhon (55), mengatakan mereka terpaksa menghentikan aktivitas menangkap ikan demi keselamatan.

"Kami takut pergi melaut karena cuaca tidak bersahabat. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat kami khawatir. Ditambah lagi hasil tangkapan juga tidak ada," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bagan Kuala, Safril, membenarkan seluruh nelayan memilih menambatkan kapal. Menurutnya, hujan rintik-rintik disertai angin kencang yang tidak menentu membuat kondisi laut semakin berbahaya.

"Benar, para nelayan tidak melaut karena gelombang tinggi dan angin kencang. Selain takut kapal karam, hasil tangkapan pun tidak ada," jelasnya.

Dampak berhentinya aktivitas melaut juga dirasakan para pedagang di TPI Tanjungberingin. Area yang biasanya ramai kini tampak lengang. Hanya beberapa pedagang yang membuka lapak dengan stok ikan sangat terbatas.

Ikan yang tersedia hanya jenis bedukang, lele, nila, dan udang panami. Sementara komoditas utama seperti ikan gembung tidak terlihat sama sekali. Jika pun ada, harganya melonjak menjadi Rp45.000–Rp50.000 per kilogram.

Salah seorang pedagang, Nanta, menyebut pasokan ikan dari luar daerah seperti Tanjungbalai, Belawan, dan Aceh biasanya dapat memenuhi kebutuhan ketika nelayan lokal berhenti melaut. Namun cuaca ekstrem kali ini membuat pasokan dari luar pun terhenti.

"Biasanya ada ikan dari luar masuk. Tapi minggu ini tidak ada sama sekali karena cuaca buruk," katanya.(*)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru