Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 10 September 2026

IPLM Pematangsiantar Naik Drastis, Tertinggi di Sumut

Balai Bahasa Rangkul Komunitas
Eva Rina Pelawi - Jumat, 15 Mei 2026 10:15 WIB
585 view
IPLM Pematangsiantar Naik Drastis, Tertinggi di Sumut
Foto : Dok/TF
Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang, menjadi narasumber pada Dialog Publik “Peningkatan Literasi dan Numerasi Sumatera Utara” yang diselenggarakan Anoto Foundation di Batanghari Kopi, Medan, Kamis (7/5/2026).

Medan (harianSIB.com)

Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang, menyebut capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Pematangsiantar meningkat drastis dalam tiga tahun terakhir dan tertinggi di Sumatera Utara.

Hal itu disampaikan Junaedi saat menjadi narasumber pada Dialog Publik "Peningkatan Literasi dan Numerasi Sumatera Utara" di Batanghari Kopi, Medan, Kamis (7/5/2026). Ia menjelaskan, skor IPLM Kota Pematangsiantar pada 2022 berada di angka 59,12 dengan kategori sedang. Angka tersebut naik menjadi 60,52 pada 2023 dan melonjak menjadi 89,92 pada 2024. Menurutnya, peningkatan tersebut terjadi setelah pemerintah daerah menerbitkan regulasi yang mendukung penguatan gerakan literasi. Keberhasilan itu menjadikan Pematangsiantar sebagai daerah benchmark literasi di Sumatera Utara berkat sinergi pemerintah, masyarakat, sekolah, dan mitra pembangunan.

Ia menyebut Pemerintah Kota Pematangsiantar juga menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation dalam penguatan ekosistem pendidikan berkelanjutan serta peningkatan literasi dan numerasi siswa. Dalam penyusunan kebijakan, Pemko Pematangsiantar menerapkan metode Regulatory Impact Analysis (RIA) untuk mengukur peluang, biaya, dan dampak kebijakan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022.

Ia mengatakan penyusunan kebijakan dilakukan melalui forum diskusi kelompok terarah yang melibatkan berbagai pihak seperti Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Arsip dan Perpustakaan, Bagian Hukum, hingga komunitas literasi.

Baca Juga:
Dari proses tersebut lahir Peraturan Wali Kota Nomor 30 Tahun 2024 sebagai payung hukum program literasi di Kota Pematangsiantar.

Junaedi menambahkan, penguatan literasi juga diterapkan di sekolah melalui integrasi literasi pada seluruh mata pelajaran, penyediaan pojok baca di kelas, serta pelatihan guru pustakawan.

Sementara di masyarakat, akses literasi diperluas melalui distribusi 1.000 judul buku di setiap kelurahan bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional.

Selain itu, Dinas Arsip dan Perpustakaan menghadirkan sejumlah inovasi seperti Arpus Challenge, pojok baca digital di Mall Pelayanan Publik, hingga podcast literasi di bus sekolah.

Menurutnya, literasi merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan dukungan dan kolaborasi seluruh pihak agar berkelanjutan.

Rangkul Komunitas, Dongkrak Literasi

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Dr. Asrif, M.Hum, menegaskan pentingnya keterlibatan komunitas dalam upaya meningkatkan literasi di Sumatera Utara. Menurut Asrif, Balai Bahasa Sumatera Utara terus berupaya merangkul komunitas sebagai mitra strategis dalam mendongkrak budaya literasi di tengah masyarakat. Pendekatan yang dilakukan tidak lagi hanya bersifat program dari atas ke bawah, tetapi memperkuat komunitas literasi yang telah tumbuh di daerah agar lebih mandiri dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan, salah satu langkah yang dilakukan yakni penguatan ekosistem literasi berbasis komunitas. Dalam hal ini, Balai Bahasa berperan sebagai fasilitator yang membangun jejaring antara pemerintah dan penggerak literasi akar rumput.

Selain itu, Balai Bahasa juga melakukan revitalisasi dan pendampingan terhadap Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Program tersebut dilakukan melalui bantuan teknis dan hibah buku guna memastikan bahan bacaan bermutu tersedia hingga ke pelosok daerah.

Tidak hanya menyediakan bahan bacaan, pengelola TBM juga diberikan pelatihan agar mampu menciptakan kegiatan literasi yang kreatif dan menarik minat generasi muda.

Dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis, Balai Bahasa turut menggandeng Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) serta komunitas literasi lokal melalui berbagai kolaborasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain festival literasi, bengkel penulisan, hingga diskusi bedah karya yang melibatkan penulis lokal Sumatera Utara.

Asrif juga menyoroti pentingnya literasi berbasis bahasa ibu dan kearifan lokal. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah seperti Bahasa Toba, Karo, Mandailing, dan Melayu menjadi jembatan untuk mempermudah pemahaman masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal.

Di era digital saat ini, Balai Bahasa bersama komunitas juga fokus mendorong literasi digital di tengah masyarakat. Program tersebut menyasar kaum muda agar lebih cerdas memilah informasi, melakukan pengecekan fakta, serta memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten positif dan karya sastra daerah.

Ia menambahkan, seluruh langkah tersebut sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemendikdasmen yang menempatkan partisipasi publik sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan dan literasi.(*)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Tanoto Foundation Dorong Peningkatan Literasi dan Numerasi di Sumut
GMKI Toba Bedah Buku Biografi Marie Claire Barth-Frommel, Dorong Literasi dan Iman Mahasiswa
OJK Dorong Literasi Keuangan Lewat Pendidikan Formal Webinar Internasional GMW 2026
Sequis Life Resmikan Sequis Center Medan, Perkuat Layanan Nasabah di Sumatra Utara
Kemendikdasmen, Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF Kolaborasi Tingkatkan Literasi dan Numerasi
APMI–BPDP Gelar Analisis Sentimen Sawit, Generasi Muda Didorong Bangun Narasi Positif di Media Digital
komentar
beritaTerbaru