Ia menjelaskan, salah satu langkah yang dilakukan yakni penguatan ekosistem literasi berbasis komunitas. Dalam hal ini, Balai Bahasa berperan sebagai fasilitator yang membangun jejaring antara pemerintah dan penggerak literasi akar rumput.
Selain itu, Balai Bahasa juga melakukan revitalisasi dan pendampingan terhadap Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Program tersebut dilakukan melalui bantuan teknis dan hibah buku guna memastikan bahan bacaan bermutu tersedia hingga ke pelosok daerah.
Tidak hanya menyediakan bahan bacaan, pengelola TBM juga diberikan pelatihan agar mampu menciptakan kegiatan literasi yang kreatif dan menarik minat generasi muda.
Dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis, Balai Bahasa turut menggandeng Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) serta komunitas literasi lokal melalui berbagai kolaborasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain festival literasi, bengkel penulisan, hingga diskusi bedah karya yang melibatkan penulis lokal Sumatera Utara.
Asrif juga menyoroti pentingnya literasi berbasis bahasa ibu dan kearifan lokal. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah seperti Bahasa Toba, Karo, Mandailing, dan Melayu menjadi jembatan untuk mempermudah pemahaman masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal.
Di era digital saat ini, Balai Bahasa bersama komunitas juga fokus mendorong literasi digital di tengah masyarakat. Program tersebut menyasar kaum muda agar lebih cerdas memilah informasi, melakukan pengecekan fakta, serta memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten positif dan karya sastra daerah.
Ia menambahkan, seluruh langkah tersebut sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemendikdasmen yang menempatkan partisipasi publik sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan dan literasi.(*)